Pengusaha Bus masih Membandel, Wagub Sumbar Segera Surati ALS dan Medan Jaya

Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit ikut menertibkan pengemudi kendaraan yang masuk Sumbar di perbatasan Sumbar dan Jambi, tepatnya di Sungairumbai, Dharmasraya, kemarin (29/4). (IST)

Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit ikut menertibkan pengemudi kendaraan yang masuk Sumbar di perbatasan Sumbar dan Jambi, tepatnya di Sungairumbai, Dharmasraya, kemarin (29/4).

Larangan keras Gubernur Sumbar Irwan Prayitno menyetop mobilitas orang masuk dan ke luar Sumbar, ternyata belum sepenuhnya membuat pengemudi keder. Buktinya, pengemudi kendaraan masih berani memasuki Sumbar. Bahkan, kemarin (29/4), Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit masih mendapati bus antar lintas Sumatera (ALS) berupaya memasuki Sumbar.

Akhirnya, pengemudi bus beserta penumpangnya diminta putar arah. Bus mendominasi berwarna hijau itu melintas ketika Nasrul Abit dan Bupati Dharmasraya Sutan Riska Tuanku Kerajaan melakukan sidak ke perbatasan Sumbar dan Jambi, tepatnya di Sungairumbai, Dharmasraya, kemarin (29/4). Bus ALS tersebut diketahui mengangkut
puluhan penumpang.

”Nggak boleh lewat sini, harus memutar balik. Tidak akan bisa lewat, putar balik saja lebih aman. Dia (sopir) harus tahu juga bahwa di sini tidak boleh lagi kendaraan keluar masuk,” kata Nasrul Abit menegaskan. Mantan Bupati Pessel dua periode ini menyatakan, pihaknya dalam penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tidak main-main dan menindak tegas jika ada kendaraan masuk Sumbar. Selain itu, juga menginstruksikan kepada kepala Dinas Perhubungan Sumbar menyurati ALS dan Medan Jaya.

”Kita sudah minta Kepala Dinas Perhubungan Sumbar membuat surat untuk Medan Jaya dan ALS agar tidak boleh lagi masuk Sumbar. Kebetulan ini trayeknya (bus ALS, red) masuk Sumatera Selatan,” ujar Nasrul Abit. Untuk penertiban, Nasrul Abit kembali menegaskan, pihaknya konsisten dan tidak memperbolehkan ALS dan Medan Jaya masuk Sumbar.

Dia berharap kepada perusahaan bus untuk mematuhi aturan pemerintah. Karena, Pemprov Sumbar bertindak tegas dalam PSBB agar berhasil menekan angka penularan virus korona (Covid-19). “Harapan kita kepada semua perusahaan bus ini dan termasuk juga dari Jakarta sudah tidak lagi boleh keluar. Kalau provinsi lain masih ada mondar-mandir kendaraan ya silakan. Tapi, Provinsi Sumbar sudah tidak bisa lagi,” pungkasnya.

Kabag Operasional Polres Dharmasraya, Kompol Rifai menyebutkan, belasan busangkutan umum antar kota antar provinsi (AKAP) tetap menjalani trayeknya. “Dalam dua hari terakhir ini, sekitar 13 unit bus kita suruh balik. Artinya, mereka tidak kita perbolehkan memasuki Sumbar sesuai instruksi Gubernur dalam masa PSBB,” ucap Rifai.

Menurutnya tidak hanya bus penumpang umum saja, namun kendaraan pribadi yang melintasi perbatasan tersebut juga disuruh putar balik kembali. “Kalau kita prediksikan dalam dua hari terakhir puluhan kendaraan terjaring, dan kita suruh balik kanan. Untuk bus penumpang umum dengan berbagai tujuan seperti Medan, Sumbar dan lainnya, rata-rata membawa penumpang mudik Lebaran. Ada berpenumpang 25 orang, ada juga kurang 25 orang,” ucapnya.

Yang disesali, ucap Rifai, pengelola ataupun pemilik PO terkesan tidak mau tahu dengan kondisi yang ada. Mereka tetap mengoperasionalkan bus-bus tersebut. Padahal masalah penyebaran dan pemberitaan Covid-19 sudah mendunia, namun terkesan pengusaha tersebut cuek bebek terhadap kondisi yang ada. “Kita sangat miris sekali dengan kondisi sekarang. Kita berupaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19, mereka tetap saja memikirkan bisnis tanpa memikirkan keselamatan penumpang ataupun sopir,” ucap Rifai.

Hal sama juga terjadi di perbatasan Sumbar-Sumut, tepatnya Muaracubadak, Nagari Padangmentinggi, Kecamatan Rao, Pasaman. Dua hari belakangan, sebanyak 14 unit kendaraan diminta putar balik menuju daerah asal ketika hendak melintasi perbatasan Pasaman-Madina, Sumut.

Kasat Lantas Polres Pasaman, AKP Bezaliel Mendrofa mengatakan, langkah ini dilakukan guna mengantisipasi penyebaran virus korona dan pemudik masuk ke wilayah Sumbar. Terlebih, pemerintah telah resmi melarang masyarakat mudik Lebaran. “Kendaraan yang disuruh putar balik sejak kemarin sampai hari ini (kemarin, 29/4), sudah sebanyak 14 unit. Di antaranya, 4 unit bus umum, 8 unit mobil pribadi dan ranmor roda dua 2 unit,” katanya kemarin (29/4).

Selama kebijakan larangan mudik belum dicabut pemerintah, pihaknya terus melakukan penghentian mobilisasi orang, baik masuk atau keluar Sumbar. “Bagi kendaraan pengangkut penumpang, kita suruh putar balik ke daerah asalnya. Ini akan terus kita lakukan sampai ada pencabutan dari pemerintah dan itu tergantung situasi,” ujarnya

Petugas gabungan yang sudah bersiaga selama 24 jam, tambah dia, langsung melakukan pemeriksaan dan wawancara singkat terhadap pengemudi maupun penumpang kendaraan bermotor yang akan memasuki wilayah itu. “Sebanyak tiga titik Pos PAM Operasi Ketupat Singgalang 2020 didirikan di daerah ini untuk antisipasi keluar masuk orang. Yaitu, Tugu Equator Bonjol, Pasar lama Lubuksikaping dan Muaracubadak, Rao, perbatasan Pasaman, Sumbar-Madina, Sumut,” sebut Bezaliel.

Menurut dia, hanya kendaraan jenis tertentu saja yang diperbolehkan melintasi posko check point tersebut. Yakni, kendaraan pengangkut sembako, alat-alat medis, BBM, damkar, ambulans dan kebutuhan logistik lainnya.

Abaikan PSBB
Di Solok Selatan (Solsel), warga masih banyak mengabaikan pelaksanaan PSBB, terutama menjelang berbuka puasa. Warga masih banyak berburu takjil, begitu juga pedagang. Pantauan Padang Ekspres di jalan utama Padangaro, sejak hari pertama hingga kelima puasa, lapak-lapak dadakan para pedagang takjil memadati tepi jalan sekitar. Kondisi ini praktis memicu keramaian pembeli yang melewati jalanan tersebut.

Sebagian pedagang terlihat berjualan sambil memakai masker. Begitu pun dengan pembeli yang datang. Namun, banyak pula di antara mereka tak menggunakan pelindung mulut dan hidung tersebut. Bahkan, mereka seolah tak mengindahkan anjuran physical distancing atau menjaga jarak fisik dan tampak berkerumun saat berburu takjil.

Randi, 30, salah seorang pembeli mengaku, dirinya bukan tak tahu aturan PSBB dan anjuran tetap di rumah dan jaga jarak. Akan tetapi, keluar membeli takjil sudah menjadi kebiasaannya di bulan Ramadhan jelang waktu berbuka.

Nengsih, salah seorang pedagang kolak mengatakan, kolak yang dibawanya laris manis dalam hitungan dua jam saja paling lama. Faktor ekonomi menjadi alasannya tetap berjualan di masa PSBB. “Saya berjualan demi memenuhi kebutuhan selama puasa Ramadhan. Kumpul-kumpulin rezeki untuk anak-anak dapat merayakan Lebaran nanti. Di
rumah saja, mau makan apa,” sebutnya.

Terpisah, Kabag Humas dan Protokol Setkab Solsel, Firdaus Firman mengakui, kepatuhan warga terhadap aturan PSBB masih kurang. Dirinya tak menampik bahwa masih banyak warga keluar rumah berboncengan dan tidak memakai masker, serta mengabaikan anjuran jaga jarak fisik saat berada di luar rumah.

Satgas percepatan penanganan pandemi Covid-19 bersama Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), katanya, masih sebatas memberi imbauan ke warga agar patuhi kebijakan pemerintah di masa PSBB. Belum ada tindakan tegas bagi mereka yang kedapatan membandel keluar rumah tak mengenakan masker, kecuali disuruh pulang.

Positif Korona jadi 145 Kasus
Dari ratusan sampel swab yang diperiksa Tim Laboratorium Fakultas Kedokteran Unand sejak Selasa (28/4), hasilnya hanya satu sampel dinyatakan positif terkonfirmasi virus korona (Covid-19). Hingga kemarin (29/4), total angka kasus positif berjumlah 145 kasus.

Selain itu, satu pasien terinfeksi positif Covid-19 yang dirawat di Semen Padang Hospital (SPH), kemarin dinyatakan meninggal. Dengan demikian, total pasien positif Covid-19 meninggal di Sumbar 15 orang.

Juru Bicara Penanganan Covid-19 Sumbar Jasman Rizal melalui keterangan resmi yang diterima Padang Ekspres melaporkan, kasus baru ini seorang wanita ibu rumah tangga berusia 50 tahun. Setelah dilakukan tracing atau penelusuran, warga Cendana Mata Air, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang tersebut, terinfeksi karena pernah kontak dengan pasien positif Covid-19 sebelumnya di wilayah Cendana Mata Air.

“Saat ini yang bersangkutan isolasi mandiri di rumahnya, karena positif Covid-19 dengan gejala ringan,” terang Jasman yang juga menjabat sebagai Kepala Biro Humas Setprov Sumbar itu.

Sementara warga positif Covid-19 dinyatakan meninggal adalah, seorang pedagang di Pasar Raya Padang, pria usia 60 tahun, warga Tarandam, Kota Padang. “Almarhum terpapar dari sesama pedagang yang juga telah positif Covid-19 sebelumnya,” imbuhnya. Pihaknya kembali mengimbau dan mengajak semua lapisan masyarakat untuk mematuhi semua protokol kesehatan yang telah dikeluarkan pemerintah.

Memakai masker jika terpaksa keluar rumah untuk beli makanan pokok, berobat dan keperluan mendesak lainnya. Tetap jaga jarak, rajin cuci tangan dan yang terpenting tetaplah di rumah,” katanya. (r/i/a/ita/l/p)