”Biarkanlah sekali-kali Kami Menikmati Harga Tinggi”

Seorang petani di Kabupaten Agam sedang memanen padinya, kemarin (28/3). Rencana pemerintah mengimpor beras 1 juta ton tahun ini, menimbulkan kekhawatiran bagi petani. Karena, hampir dipastikan harga gabah maupun beras di tingkat petani bakal jatuh. (IST)

Rencana impor beras yang digulirkan pemerintah menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Lebih-lebih, rencana kebijakan ini diyakini bakalan membuat petani semakin remuk.

Syahrial Darmawi, 42, petani berdomisili di Jalan Raya Belimbing, RT03/RW04, Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, seakan tak bisa berkata-kata. Hati kecilnya begitu terluka mendengar rencana kebijakan impor beras. Kekhawatiran harga beras bakal terjun bebas, begitu menghantuinya.

”Saya khawatir, kebijakan ini bisa berdampak terhadap harga jual gabah di kalangan petani. Saat ini saja harga sudah turun, bagaimana kalau jadi impor. Pastilah petani paling terdampak atas kebijakan ini,” kata Syahrial ketika berbincang dengan Padang Ekspres, kemarin (28/3). Menurut dia, petani harus mengeluarkan biaya tak sedikit selama masa penanaman padi hingga masa panen. ”Kami pun harus kerja keras, mulai sebelum dan saat menanam.

Lalu, merawat dan memanen padi,” ujar Syahrial. Ketua Kelompok Tani Harapan Baru itu mengatakan, saat-saat ini petani juga sedang dihadapkan pada adanya serangan hama wereng yang begitu menghawatirkan petani. ”Makanya, kebijakan-kebijakan itu harus kembali disinkronkan dengan kondisi petani. Andaikan dampaknya tidak bagus bagi petani, mohon diambil kebijakan yang lain lagi,” ulasnya.

Syahrial berharap, pemerintah bisa mempertimbangkan untuk meniadakan impor beras di tahun ini mengingat harga gabah petani juga sedang terjadi penurunan. ”Saat ini, penjualan satu karung gabah jenis sokan itu biasanya Rp 330 ribu, sepekan belakangan sudah Rp 290 ribu. Andaikan saja kebijakan pemerintah itu terlaksana, otomatis harga gabah tambah anjlok,” ujar bapak dari empat orang anak itu.

Seharusnya, menurut dia, pemerintah mesti pula memperhatikan petani dengan harga gabah yang turun. Bagaimana mencari jalan keluar, atau bisa jadi mengembalikan harga seperti semula. ”Itu yang perlu dikoordinasikan dan dievaluasi lagi, sehingga petani bisa bersemangat dan juga bergembira atas kebijakan yang dilaksanakan pemerintah,” katanya.

Untuk itu, Syahrial mengimbau, pemerintah bisa memanfaatkan hasil pertanian lokal saja, jika dilihat rasa-rasanya cukup. Sebab, petani sedang bergiat-giatnya dalam bertani. ”Dalam bidang pertanian ini seharusnya bagaimana swadaya beras kita ini ditingkatkan, itu lah harapan kita sebagai petani,” tandasnya.

Di samping itu, katanya, penyaluran atau realisasi dari bantuan pemerintah telah banyak digulirkan kepada para petani. Hal tersebut sudah cukup sejauh ini rasanya. ”Kalau kita lihat dan juga merasakan di Kelurahan Kuranji sebagai Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), Insya allah pemerintah sudah membantu dan banyak lainnya,” terang Syahrial.

Dengan begitu, ungkapnya, seharusnya pemerintah bisa manfaatkan hasil-hasil pertanian lokal dengan harga jual memadai. ”Sehingga, petani juga lebih semangat meningkatkan hasil produksi. Barang kali perlu jika biasanya masa panen dalam satu tahun itu 2 kali, dengan harga yang memadai bisa jadi 3-4 kali akan diusahakan petani,” tuturnya.

Baca Juga:  Ada Indikasi Kelalaian Petugas, Puluhan HP Napi Diamankan

Tak tertutup kemungkinan, katanya, dilakukan seiring dengan ketersediaan air yang mencukupi dan alat mesin pertanian cukup bagus dengan tidak memakai manual lagi. ”Satu hari itu, kita para petani bisa menanam dengan alat mesin pertanian yang cukup canggih diberikan oleh pemerintahan,” sebutnya.

Ia menjelaskan, luas lahan sawah pribadi yang dimilikinya mencapai 1 ha. Dalam satu kali panen itu dari 1 ha sawah mampu menghasilkan gabah mencapai 50 karung. Dengan satu karung itu berat 60 kilogram. ”Dalam satu tahun itu mampu panen sebanyak dua kali. Jika dihitung-hitung mulai dari awal menanam padi sampai menjadi gabah itu sangat banyak perawatannya,” jelasnya.

Lebih lanjut, ungkapnya, padi ini cukup dengan perawatan yang insentif, jika ada hama yang menyerang. Kalau tidak ada hama, perawatan tidak terlalu mahal dan tidak terlalu banyak. ”Tetapi dengan adanya hama wereng itu, biasanya menyemprot pembasmian dalam satu minggu itu satu kali. Sekarang, bisa mencapai tiga kali. Dengan itulah perawatan yang sangat mahal,” ungkapnya.

Makanya, perlu juga ada peran pemerintah bagaimana cara menanggulanginya dan cara mengatasi hama itu dan juga keluhan-keluhan dari petani. ”Apa yang dikeluhkan petani bisa dapat diperhatikan pemerintah. Memang tidak tertutup kemungkinan pemerintah juga banyak menolong petani,” tukasnya.

Kekhawatiran juga dirasakan Mak Utiah, 70. Pria yang menggarap sawah di Kelurahan Sawahan Timur, Padang Timur, Padang ini, mengaku tak habis pikir kenapa pemerintah masih membuat kebijakan instan dengan mengimpor beras. ”Harusnya, bagaimana memperkuat petani dan membenahi tataniaga beras,” ujar pensiunan ASN ini.

Bila seperti ini, Mak Utiah yakin, petani selalu berada di posisi lemah. Selain selalu dihadapkan pada masalah pupuk dan harga berfluktuatif, kini ditambah lagi dengan rencana impor beras. Jumlahnya pun terbilang besar. 1 sampai 3 juta ton. ”Ini jelas menunjukkan bahwa pemerintah belum sepenuhnya berpihak kepada petani,” sesal dia.

Selama bertani sejak puluhan tahun lalu, Mak Utiah merasakan betul bagaimana tidak mudahnya bertanam padi sekarang ini. Di samping keterbatasan air akibat semakin banyaknya lahan beralih fungsi, juga ancaman hama yang tak sedikit dan burung. ”Setelah itu, harga pun sering anjlok di pasaran. Jadi, kepada siapa lagi kami harus mengadu,” ucap dia.

Lain lagi keluhan Elly, 43, petani berdomisili di Padanglua, Kecamatan Banuhampu, Agam. ”Mestinya ketika harga beras tinggi di tingkat petani, pemerintah mestinya tidak membuka keran impor. Biarkanlah, kita-kita (petani ini, red) menikmati harga mahal sekali-kali. Kalah sudah impor, yakinlah harga bakalan anjlok,” ujarnya. (r)

Previous articleJelang Diresmikan Presiden, Pasar Pariaman Disterilkan
Next articleProduksi Melimpah di Sumbar, Hanya Rugikan Petani