Biasanya Ditampilkan tiap Imlek, Kini Terancam Hilang

25
Bachtiar Deli sedang memainkan alat musik gambang. Meskipun berusia lanjut, dia tetap lihai memainkan alat musik itu. (IST)

Lagu Burung Putih terdengar merdu di kantor Himpunan Tjinta Teman (HTT) di Jalan Kelenteng, Kampungpondok, Kota Padang. Terlihat, pria berusia sudah lewat setengah abad dengan cekatan memukul-mukul alat musik tradisional yang dikenal dengan gambang.

30 menit berlalu, pria bernama Bachtiar Deli itu, terlihat membuka laci meja di depannya dan mengeluarkan album foto berisi foto-foto masa kejayaan ketika dia bersama temannya memainkan kesenian gambang di beberapa pertunjukan.

Bachtiar menuturkan, kesenian gambang berkaitan erat dengan perayaan tahun baru Imlek dan Cap Go Meh. ”Awalnya, bukan (gambang, red) sebuah kesenian etnis Tionghoa. Namun, ditemukan di beberapa daerah di Pulau Jawa seperti, Kota Semarang lebih dikenal gambang kromong,” ujar Bachtiar ketika ditemui Padang Ekspres, kemarin (10/2).

Menurut dia, Marga Lie lah pertama memperkenalkan kesenian gambang di Kampung Pondok, Padang. Sang ayah lah yang pertama kali memainkan kesenian itu sekitar 1950-an. ”Saya ini generasi kedua dari keluarga Lie yang meneruskan kesenian ini sampai sekarang,” jelas Bachtiar.

Setelah ayahnya meninggal, Tuako HTT yang saat itu dijabat Ferryanto Gani sangat menyukainya. Kemudian, Ferryanto Gani mengajak dirinya untuk bergabung memainkan kesenian gambang di HTT.

”Kalau tidak salah, sekitar tahun 1995 awal mula kesenian gambang dimainkan di HTT ini. Saat itu, kami sering tampil di beberapa pertunjukan seni terutama berkaitan dengan budaya Tionghoa,” ungkapnya.

Kesenian gambang terdiri dari beberapa alat musik, di antaranya gambang, kecapi, bass, strength bass, ukulele, dan tambur. Biasanya, kesenian gambang dimainkan minimal sebanyak 8 orang.

Pria yang sudah 30 tahun bergelut dengan kesenian gambang itu menyebutkan, kesenian ini ditampilkan ketika ada perayaan ataupun iven menyambut atau merayakan sesuatu. Di Kampung Pondok sendiri, kesenian gambang selalu ditampilkan saat perayaan Imlek dan Cap Go Meh.

”Biasanya pada malam pergantian tahun baru, kami memainkan kesenian gambang sebelum prosesi sembahyang. Kadang, kami melakukan itu di kantor HTT dan dilanjutkan dengan ibadah,” tuturnya.

Sejak merebaknya pandemi virus Covid-19 di Kota Padang, menurut Bachtiar, penampilan kesenian gambang mulai berkurang menyusul keluarnya kebijakan pembatasan aktivitas masyarakat untuk mengurangi dan meminimalisir terjadinya kerumunan.

Di Imlek tahun 2021, perayaan malam tahun baru ditiadakan guna menindaklanjuti instruksi pemerintah untuk tidak melakukan aktivitas yang menimbulkan kerumunan. ”Karena tidak ada perayaan, jadi pertujukan kesenian gambang juga tidak ditampilkan pada perayaan Imlek. Hanya saja, beberapa pemain gambang akan bermain di malam tahun baru tapi hanya di kantor HTT,” ujarnya.

Bachtiar mengaku prihatin terhadap keberadaan kesenian gambang ini. Soalnya, generasi penerus atau kaum milenial mulai melupakan kesenian ini. Selain dampak perkembangan zaman, Bachtiar menilai, anak muda enggan menekuni kesenian ini karena untuk memainkan alat musik ini perlu konsentrasi tinggi. Lantaran, nada-nada setiap alat musik berbeda dengan kesenian musik lainnya.

”Contohnya kunci nadanya selalu di G, dan alat musik lain harus mengikuti kunci itu. Jadi, mungkin karena susah anak-anak muda cepat bosan,” jelas Bachtiar. Makanya, saat ini rata-rata pemain gambang ini sudah berumur. inilah yang membuat Bachtiar bertambah cemas.

Dia menjelaskan bahwa sebetulnya pemain gambang ini tidak hanya berasal dari etnis atau keturunan Tionghoa, tapi juga berasal dari etnis lainnya seperti Nias, Batak, India dan Minangkabau. ”Kesenian ini tidak hanya milik etnis Tionghoa, tapi seluruh etnis. Sehingga, memang tergambar persatuan,” ungkapnya.

Hal itu juga terlihat dari musik dan nyanyian yang ditampilkan di kesenian gambang seperti, lagu keroncong, Minangkabau, Mandarin, dan bahkan lagu barat. ”Intinya lagu-lagu yang bisa dimainkan dengan gambang, bisa kami tampilkan,” tukasnya.

Bachtiar berharap agar pandemi Covid-19 bisa berakhir, sehingga segala aktivitas masyarakat seperti pertunjukan kesenian gambang bisa terus ditampilkan guna melestarikannya. (adetio purtama-Padang Ekspres)

Previous articleSaling Menghormati dan Mengapresiasi
Next article85 Persen Nakes Telah Divaksin, SPH Targetkan Akhir Februari Selesai