Menkeu Beri Sinyal Ekonomi Lebih Baik

24
Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Kemenkeu)

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati meminta semua pihak dapat bekerja sama agar perekonomian kembali bangkit. Sebab, kuartal-III tahun ini telah berakhir dan tinggal menanti hasil perputaran roda ekonomi dari Juli hingga September 2020.

“Kita terus akan bekerja sama dengan pemerintah daerah dan seluruh para stakeholder, masyarakat dan dunia usaha agar Indonesia mampu untuk bangkit kembali,” ujarnya dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (1/10).

Sri Mulyani kembali mengingatkan ekonomi yang terkontraksi bukan hanya dialami oleh Indonesia, melainkan hampir semua negara di dunia. Namun pemerintah optimistis kinerja ekonomi kuartal-III akan lebih baik dibandingkan kuartal-II. “Kalau kita lihat pada kuartal-II perekonomian mengalami kontraksi 5,3 persen. Kita sudah mulai menunjukkan pemulihan pada kuartal-III, dan kita berharap pemulihan ini akan kita jaga,” tuturnya.

Sri Mulyani menuturkan, wabah Covid-19 tak hanya berdampak pada kesehatan. Namun pandemi juga memberikan pengaruh yang luar biasa besar terhadap kehidupan masyarakat, perekonomian, dan dunia keuangan. “Ini karena untuk menangani Covid-19 perlu dilakukan langkah-langkah di bidang kesehatan yang memiliki dampak yang sangat besar kepada kegiatan sosial ekonomi,” imbuhnya.

Oleh karenanya, Sri Mulyani menilai, perhatian tak hanya perlu diberikan pada masalah kesehatan. Namun juga dampak ekonominya. Pemerintah sendiri telah menganggarkan hampir Rp 700 triliun untuk menangani Covid-19 ini.

“Dari mulai bidang kesehatan, melindungi lebih dari 60 juta penduduk Indonesia melalui bantuan sosial dan dukungan kepada UMKM, maupun kepada dunia usaha agar mereka mampu bertahan dan bisa bangkit kembali akibat Covid-19,” tuturnya.

Baca Juga:  Bertemu Lanyalla, Kripik Singkong Lumba-Lumba Curhat soal Pemasaran

Penyaluran Kredit Seret
Sementara, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan, kondisi industri perbankan saat ini masih terjaga solid. Tingkat permodalan tinggi dan likuiditas amat memadai dengan berbagai kebijakan stimulus yang diberikan.

Meski begitu, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengakui peran intermediasi perbankan sedikit tertekan sejalan dengan melambatnya perekonomian domestik. “Di sisi intermediasi, pada bulan Agustus, kredit perbankan masih tumbuh positif secara YoY, walaupun kembali mengalami sedikit penurunan dibandingkan periode sebelumnya,” ujarnya secara virtual, Kamis (1/10).

Wimboh menyebut, hingga Agustus lalu, pertumbuhan kredit tercatat sebesar 1,04 persen (year on year/YoY) atau -1,69 persen YtD yang didorong oleh pelemahan penyaluran kredit baru oleh Bank Umum Swasta Nasional. “Sedangkan kredit pada Bank Persero dan BPD masih tumbuh cukup baik. Hal ini menandakan sektor swasta masih berhati-hati atau wait and see terhadap outlook risiko ke depan,” tuturnya.

Berdasarkan jenis penggunaannya, Wimboh melanjutkan, Kredit Modal Kerja (KMK) masih terkontraksi, sedangkan kredit investasi masih positif. Penurunan kredit modal kerja pada Agustus 2020 lebih disebabkan oleh penurunan baki debet KMK beberapa debitur besar.

Perkembangan kredit segmen UMKM yang terkontraksi dari Maret 2020 hingga Juni 2020 cukup mempengaruhi perlambatan kredit secara keseluruhan. Sehingga secara YtD masih terkontraksi -2,35 persen. “Namun, berbagai kebijakan stimulus yang diberikan OJK dan pemerintah mampu memberikan dampak positif pada segmen UMKM, tercermin dari kenaikan pertumbuhan yang positif menjadi sebesar 0,18 persen MoM (Juli-Agustus 2020),” imbuhnya. (jpg)