Rp 2,98 T BLT Pekerja Telah Dikucurkan

ilustrasi. (jawapos.com)

Bantuan Langsung Tunai (BLT) tahap pertama untuk pekerja telah disalurkan melalui empat bank BUMN yaitu BRI, BNI, Mandiri dan BTN. Bantuan ini diharapkan bisa mengerek daya beli masyarakat.

BLT tahap pertama sudah disalurkan kepada ke 2,5 juta rekening dengan nilai masing-masing Rp 600 ribu per pekerja. Rinciannya, melalui Bank Mandiri sebanyak 752.168 orang, BNI sebanyak 912.097 orang, BRI sebanyak 622.113 orang, BTN sebanyak 213.622 orang.

Head of Investor Relations BNI Roekma Hariadji mengatakan, pihaknya telah menyalurkan dana BLT subsidi gaji sebesar Rp 1,09 triliun kepada 912.097 penerima untuk tahap pertama.

“Kami pastikan BLT tersalur dengan transparan dan sampai ke penerima. Pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp 37,78 triliun untuk program ini. Hingga hari ini (kemarin), realisasi penyalurannya tercatat sebesar 7,9 persen dari pagu anggaran, atau Rp 2,98 triliun,” katanya di Jakarta, kemarin.

Selain bantuan kepada pekerja, BNI juga telah menyalurkan bantuan presiden (banpres) produktif kepada pelaku usaha mikro sebesar Rp 2,4 juta per orang. Dalam hal ini, perseroan bekerja sama dengan Kementerian Koperasi dan UKM dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM sebagai lembaga pengusul.

“Untuk tahap pertama, Kementerian Koperasi dan UKM dan PNM menetapkan 316 ribu lebih penerima bantuan pelaku usaha mikro yang disalurkan melalui BNI,” jelas Roekma.
“BNI memonitor dengan ketat pengucuran bantuan yang diberikan pemerintah guna untuk memastikan kualitas kredit dan bantuan tersebut,” katanya.

Menyoal ini, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani mengapresiasi langkah pemerintah. Menurutnya, BLT Pekerja bergaji di bawah 5 juta memang dapat meningkatkan tingkat konsumsi masyarakat. Ini bukti pemerintah konsisten mendorong terciptanya permintaan di saat pandemi Covid-19 ini.

Baca Juga:  Bank Syariah Mumpuni Kelola Dana PEN

“Pemerintah perlu mendukung konsumsi masyarakat kelas menengah. Karena meningkatkan demand bukan hanya memberikan bansos (bantuan sosial) untuk orang miskin, tapi kepada sebagian kelas menengah yang turun kelas,” terangnya kepada Rakyat Merdeka.

Mantan Komisaris Independen BRI dan Mandiri ini melanjutkan, anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang sebesar Rp 695,2 triliun realisasinya masih minim. Stimulus kredit yang diberikan kepada UMKM melalui perbankan juga sepi peminat. Sehingga, dia menilai, tujuan pemerintah untuk meningkatkan permintaan dengan insentif kredit dan mendorong pertumbuhan sektor riil tidak terjadi. Di samping itu, permintaan kredit yang minim juga menyebabkan daya beli masyarakat turun.

“Saat ini justru demand-nya yang tidak bergerak, jadi otomatis suplainya tidak berjalan. Sebagai contoh, perbankan diberikan berbagai stimulus, tapi faktanya permintaan kredit sangat minim. Ya otomatis uangnya tidak bisa dimanfaatkan untuk menyalurkan kredit, jadi akhirnya dana PEN tidak terpakai,” bebernya.

Seperti diketahui, pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) telah melakukan proses pencairan BLT tahap pertama. BLT pekerja tidak diwajibkan menggunakan rekening yang tergabung dalam Himbara. Namun demikian, perlu waktu dalam proses transfernya. Berdasarkan data Kemnaker, 60 persen penerima BLT adalah pemilik rekening bank Himbara sedangkan 40 persen pemilik rekening bank swasta.

Hingga kini, BP Jamsostek masih terus melakukan proses validasi data rekening. Pemerintah menargetkan 15,7 juta penerima, hanya nomor rekening yang sudah terkumpul sebanyak 13,8 juta nomor rekening. Dari jumlah tersebut, ternyata baru sebanyak 10,8 juta yang lolos proses validasi rekening oleh BP Jamsostek. (dwi/jpg)