Pemerintah tak Larang Produk Asal Perancis

115
ilustrasi salah satu produk Perancis yang ramai-ramai diboikot. (net)

Aksi boikot produk asal Perancis di beberapa negara, termasuk Indonesia turut mempengaruhi salah persepsi terhadap beberapa produk yang lahir dan besar di Indonesia. Seperti susu anak SGM dan air kemasan merek AQUA.

“AQUA dan SGM lahir di Indonesia. Kami akan terus beroperasi dengan tetap menyediakan produk-produk yang sejak awal memang lahir, dibesarkan dan tetap diproduksi di Indonesia,” ungkap Corporate Communications Director Danone Indonesia, Arif Mujahidin, Selasa (3/11).

Arif menjelaskan, susu anak SGM yang lahir di tahun 1965, pada saat suasana politik diwarnai ketegangan domestik dan persaingan politik global. Saat itu, ekonomi Indonesia dalam suasana krisis, ditandai inflasi yang tinggi. Formula susu SGM pertama kali dibuat tiga orang Profesor dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) yang dipimpin Profesor Palenkahu, dan seorang ahli gizi dari RS Cipto Mangunkoesoemo (RSCM).

SGM diproduksi secara massal di Pabrik Sarihusada Yogyakarta sejak 1968. Dalam sejarahnya, perusahaan Sarihusada berganti-ganti kepemilikan. Namun, produk SGM tetap dan terus diproduksi di Pabrik Yogyakarta.

Sejak tahun 1997 produksi juga dilakukan di Pabrik Prambanan. Bisa dibilang, susu SGM merupakan pelopor susu anak di Indonesia. Hingga saat ini, susu tersebut terus menjalankan misinya menjadi susu anak yang dirancang untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi anak Indonesia, dengan harga terjangkau.

Sementara AQUA, juga merupakan salah satu ikon produk nasional. AQUA menjadi pionir produk air minum dalam kemasan yang lahir di tahun 1973. Pabrik AQUA pertama berdiri tahun 1973 di Bekasi dan masih beroperasi hingga saat ini. Pengusaha nasional almarhum Tirto Utomo, merupakan pemilik awal dan orang pertama yang memperkenalkan AQUA pada konsumen Indonesia. Hingga kini, AQUA diproduksi di 20 pabrik di Indonesia, mulai dari Brastagi hingga Minahasa Utara.

Baca Juga:  Indonesia Targetkan Jadi Negara Maju, Mendag: ASEAN Harus Kompak

“Kami akan tetap melanjutkan komitmen kami untuk melayani kebutuhan nutrisi dan hidrasi sehat, melalui jutaan pedagang yang menjual produk kami di Indonesia. Serta disiapkan oleh hampir dari 15 ribu karyawan kami di seluruh Indonesia,” tegas Arif.

Arif menyebut, berbagai produknya sudah lama dikembangkan dan diproduksi oleh tenaga kerja di Indonesia. Sehingga, ia yakin produknya sudah sangat dipercaya di Indonesia.
Terkait dampak perusahaan adanya seruan boikot terhadap produk Perancis, Arif mengingatkan, yang paling terdampak duluan saat ini adalah pedagang kecil yang menjual produk secara eceran.

“Setelah terkena imbas Covid-19, lalu kemudian muncul hal seperti ini. Jika terjadi boikot yang berlarut-larut, dapat mengakibatkan mereka semakin kehilangan pendapatan,” sesalnya.

Terpisah, Kementerian Perdagangan (Kemendag) memastikan tidak akan melarang atau memboikot produk-produk asal Perancis. Isu politik yang terjadi di Perancis, berada di luar dari konteks perdagangan.

“Betul tidak ada larangan. Kasus tersebut menyangkut isu non trade. Sejauh ini, tidak ada langkah-langkah yang dilakukan Kemendag,” ujar Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Didi Sumedi, Selasa (3/11). (okt/jpg)