Wabah Korona Bikin Dunia Usaha Rontok

Hariyadi Sukamdani, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo). (Foto: JPG)

698 Hotel Tutup, PHK tak Terbendung

Dunia usaha mulai tumbang dihantam pelemahan ekonomi akibat mewabahnya virus korona di Indonesia. Bisnis perhotelan, pariwisata hingga transportasi mulai gulung tikar. Tak sedikit yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi Sukamdani, menyebutkan di bidang pariwisata sudah ada 698 hotel yang tutup. Sementara, untuk transportasi daerah yang masih beroperasi tinggal 10 persen.

“Sektor yang paling terkena imbas pandemi korona ini adalah hotel dan restoran. Sampai saat ini mereka terus tumbah dan pilih menutup operasi. Selain itu, ada sektor transportasi darat dan udara,” kata Hariyadi di Jakarta.

Sektor perhotelan juga tak kalah pelik. Okupansi kamar hotel sudah lampu merah sejak awal Maret 2020. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mencatat rata-rata okupansi hanya 30 persen. Termasuk di Bali, Batam, dan Manado yang kena dampak dari susutnya wisatawan asing.

Namun, kurang dari sebulan, okupansi hotel terutama di Bali, sudah di level hampir 0 persen. Sektor manufaktur, sambung Hariyadi, juga sudah mengaleami penurunan produksi sampai 50 persen.

Industri makanan dan minuman yang awalnya tak terdampak, kini kondisinya ikut memburuk. Karena ada pembatalan pemesanan.
“Juga banyak industri manufaktur mulai mengalami kesulitan cash flow, atau bahkan minus karena produksi tak maksimal bahkan stop,” kata Hariyadi.

Pelaku usaha, kata dia, sangat sulit mengantisipasi hal ini. Terlebih, sampai saat ini penanganan wabah korona belum ada progres.
Adapun bisnis yang mungkin masih bisa bertahan. Yaitu alat kesehatan dan pemasok kebutuhan pengendalian covid-19, tapi di luar itu mengalami masalah yang sama.

Kalangan pengusaha, sambung Hariyadi, blak-blakan daya tahan bisnis mereka terus memburuk akibat pandemi korona. “Bahkan sudah ada yang lakukan PHK, sebagian lagi bertahan hanya sampai April dengan menghentikan produksi. Bahkan paling maksimal hanya Juni 2020,” ujar Hariyadi.

Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, Djoko Setijowarno menambahkan, akibat pandemi virus korona, para pengusaha transportasi umum dipusingkan memikirkan nasib pekerja yang harus diputus hubungan kerja (PHK).

Pasalnya, saat ini jumlah penumpang terus menurun. Apalagi usaha angkutan umum hanya mengandalkan pendapatan harian, yang disisihkan sebagian untuk mengembalikan angsuran setiap bulan.

Selain itu, dirinya menganggap pemerintah terlalu berpihak dan memikirkan kelanggengan bisnis transportasi online.  “Karena sesungguhnya sekarang ini mitranya sudah membebani negara dan masyarakat. Bukan lagi mitra aplikator, akan tetapi sudah menjadi mitra negara,” imbuh dia.

Sementara, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo), Pauline Suharno menyebut, banyak perusahaan travel agent sejak awal Maret lalu tak lagi beroperasi secara penuh karena sudah terimbas secara global saat korona belum masuk Indonesia.

“Sistem shift pegawai pun tak lagi diberlakukan, ujungujungnya ada travel agent telah melakukan efisiensi dan PHK. Korona memang secara langsung memperparah PHK di Indonesia,” ujarnya. (*)