Masyarakat yang Dinamis dengan Lingkungan Jamin Keberlangsungan Pertumbuhan Ekonomi

42
Ilustrasi lingkungan. (Foto: IST)

Merebaknya Covid-19 memaksa seluruh negara di dunia mengoreksi analisis pertumbuhan ekonominya, pertumbuhan ekonomi dunia seakan berhenti berdenyut dan memicu kelesuan ekonomi dimana-mana. Bagaimanakah pertumbuhan ekonomi setelah kehidupan berdaptasi dengan keberadaaan Covid-19, akankah berbagai negara kembali memacu pertumbuhan ekonominya? Sehingga akan memaksa sumber daya alam dan lingkungan dimaanfaatkan melebihi daya dukungnya?

Untuk membuka cakrawala diskusi terkait permasalahan tersebut Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Universitas Andalas (Unand) berkerjasama dengan Program Studi Manajemen Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, didukung Perhimpunan Cendekiawan Lingkungan Hidup (Perwaku), Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Barat, serta yayasan KEHATI mengadakan Webinar Paradigama Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Era Covid-19.

Pelaksanaan webinar ini juga diselaraskan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap tanggal 5 Juni, khusus untuk tahun 2020 peringatan ini menggambil tema “Time for Nature”, waktu untuk alam memulihkan dirinya dan bagaimana supaya manusia menjaga alam yang sudah pulih ini agar tidak kembali tercemar.

Setelah dibuka oleh Direktur Program Pascasarjana Unand, Prof Nusyirwan Effendi, kegiatan webinar dilanjutkan dengan menghadirkan lima pembicara yakni Prof Jatna Supriatna, selaku ketua umum Perwaku, Prof Soewarto Hardhienata Dekan Sekolah Pasacasarjana Universitas Pakuan, Dr. Ardinis Arbain pendiri Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Pascasarjana Unand, Ir. Siti Aisyah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Barat, serta Samedi Direktut Tropical Forest Conservation action for Sumatera,Yayasan KEHATI.

Secara garis besar pemateri menyampaikan bahwa merebaknya Covid-19, tidak terlepas dari terganggunya keseimbangan lingkungan akibat aktivitas manusia yang tidak memperhatikan keseimbangan alam. Kasus penyakit baru yang disebabkan infeksi (new emerging infectious disease) bertambah empat kali lipat lebih besar dalam 50 tahun terakhir. Selain itu, kenaikan permukaaan air laut, berkurangnya jumlah perpohonan, dan polusi, telah memicu terjadinya anomali iklim sehingga dalam jangka panjang diprediksi akan memicu perubahan iklim.

Perubahan pada kondisi atmosfer, tentunya akan mempengaruhi produksi hasil pertanian lebih dan musim berbunga dan berbuah tumbuhan di hutan, mengharuskan manusia dan satwa untuk bisa beradaptasi dengan pola yang baru, selain itu bisa menimbulkan kekeringan dan penggurunan. Untuk mengantisipasi permasalahan tersebut ada beberapa hal yang bisa dilakukan baik dari tingkat kesadaran diri sendiri dan keluarga. Seperti dengan lebih memperhatikan dan menjaga kebersihan lingkungan, membiasakan diri untuk bercocok tanam pada areal terbuka di sekitar kita.

Dalam skala lebih luas, kegiatan ini juga sejalan dengan kebijakan meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat dengan memproduksi pangan lokal. Keberadaan tumbuhan lokal Indonesia yang sangat beragam juga berpotensi untuk ditingkatkan pola pemanfaatannya (lebih dikenal dengan Bioprospeksi), apakah sebagai sumber bahan pangan alternatif, makanan dan minuman berkelas, atau sebagai sumber bahan obat-obatan.

Sebagai contoh klasik bentuk pemanfaatan alternatif adalah bagimana pada saat sekarang kita bisa melihat menjamurnya berbagai kedai kopi dengan pola penyajian dan harga yang sangat beragam serta ada yang ekslusif. Selain itu, kegiatan-kegiatan tersebut perlu dicatat dan dipantau dengan menggunakan suatu sistem pangkalan data yang baik sehingga ketika dibutuhkan, kita bisa memberikan data yang akurat yang bisa dipakai dalam menyusun strategi dan kebijakan pengelolaan.

Pada tatanan kebijakan ke depan perlu dilakukan penyelarasan antara indikator keberhasilan pembangunan ekonomi dengan kondisi ekologis lingkungan dan sosial kemasyarakatan. Masyarakat yang dinamis dan stabil dengan kondisi lingkungan yang baik tentunya akan menjamin keberlangsungan pertumbuhan ekonomi. Konsep ini menjadi dasar pengembangan konsep Sustainable Development Goals (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan), yang menjadikan keberlangsungan sosial, lingkungan dan ekonomi sebagai satu kesatuan yang utuh (nested).

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Prodi Magister Ilmu Lingkungan Pascasarjana Universitas Andalas (PSMIL), menyatakan bahwa, adanya dinamika dan tantangan permasalahan lingkungan tersebutlah yang menjadikan kenapa keberadaan (PSMIL) menjadi penting. Karena dalam perkuliahan, diskusi diarahkan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa terkait konsepsi dasar, dinamika dan pandangan ke depan permasalahan lingkungan yang ada.

Melalui berbagai kegiatan pembelajaran, diharapkan mahasiswa yang kuliah pada Prodi PSMIL dapat meningkatkan pemahaman dan daya analitisnya sehingga bisa berperan dalam memecahkan permasalahan lingkungan, tidak hanya di tingkat lokal, tetapi ikut serta dalam tatanan diskusi ilmiah dan aksi pada tingkat nasional dan global. Hal ini dibuktikan dengan telah menyebarnya alumni PSMIL pada berbagai lembaga seperti Dinas Lingkungan Hidup, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang lingkungan, lembaga penelitian pada instansi pemerintahan dan swasta serta konsultan lingkungan. (rel)