Dinilai Berhasil Lawan Korona, RI Ajak Korsel Produksi Bersama Alat Tes

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto courtesy call dengan Menteri Perdagangan Korsel Yoo Myung Hee, Senin (6-4). (Foto: Humas Kemenko Ekon)

Korea Selatan (Korsel) dinilai telah berhasil menekan kurva jumlah korban virus korona (Covid-19). Sejauh ini, jumlah kasus baru di Negari Ginseng itu sudah berkurang signifikan dan jumlah yang sembuh semakin meningkat. Sehingga, Korsel dapat dijadikan role model dalam keberhasilan penanganan pandemi ini.

Hal itu diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat courtesy call dengan Menteri Perdagangan Korsel Yoo Myung Hee, dalam situasi work from home di kediamannya, Senin (6/4).

Beberapa minggu lalu, kata Airlangga, dirinya meminta laporan khusus dari Regional Economy and Policy Institute (REPI) yang berlokasi di Daegu tentang bagaimana Korsel telah berhasil menangani Covid-19 secara efektif.

“Laporan itu membuka mata kami jika salah satu faktor kuncinya adalah kemampuan Pemerintah Korsel mengadakan rapid test besar-besaran, sehingga memungkinkan pemerintah melacak dan merespons cepat penyebaran virus korona,” jelas Menko Airlangga.

Tes secara masif itu juga didukung oleh produksi yang masif pula dari peralatan tes (testing kits) virus korona yang berhasil dibuat oleh dua perusahaan bioteknologi asal Korsel, Kogene Biotech dan Seegene.

Harapannya kedua perusahaan itu dapat memproduksi peralatan tes bersama dengan perusahaan di Indonesia. Tak lupa, alat pelindung diri (APD) juga akan diproduksi bersama, yaitu bahan mentahnya dari Korsel dan akan dijahit di sini.

“Kami juga berterima kasih kepada Pemerintah Korsel yang telah memutuskan memberi bantuan dalam bentuk in-kind kepada Pemerintah Indonesia senilai USD500 ribu guna mendukung upaya kami memerangi wabah Covid-19,” kata Airlangga.

Bantuan kepada Indonesia terdiri dari Covid-19 test kits dan rechargeable battery power sprayers. Saat ini 300 sprayers sudah siap dikirim ke Indonesia. Sementara, untuk pengiriman Covid-19 test kit masih dipersiapkan teknisnya.

Pihak yang ditunjuk Kementerian Luar Negeri Korsel untuk pelaksanaan teknis pengiriman bantuan tersebut adalah Korea International Cooperation Agency (KOICA).

Sementara, sebagai bagian dari sektor swasta Korsel, LG Group akan menyumbang 50 ribu Covid-19 diagnostic kit (tipe RT-PCR), kemudian Hyundai Motor juga menyumbang 40 ribu APD, kepada Indonesia.

Menteri Perdagangan Korsel Yoo Myung Hee mengungkapkan, Pemerintah Korsel telah menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara prioritas untuk ekspor alat kesehatan dan karantina, di samping Amerika Serikat (AS) dan Uni Arab Emirat (UAE).

Di sisi lain, kondisi pandemi seperti saat ini mendorong pemerintah setiap negara melakukan langkah pengamanan terhadap keuangan global melalui skema pertukaran mata uang (currency swap). Maka itu, Menko Perekonomian Indonesia dan Mendag Korsel pun mengapresiasi penandatanganan Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) antara Bank Indonesia dan Bank of Korea pada 5 Maret 2020 lalu.

Plafonnya senilai KRW10,7 triliun atau Rp 115 triliun, yang berlaku efektif mulai 6 Maret 2020 sampai 5 Maret 2023, dan dapat diperpanjang sesuai kesepakatan.

Selain itu, Indonesia juga mendorong skema keuangan lain yakni Local Currency Settlement with Appointed Cross Currency Dealer (LCS ACCD). Hal ini adalah penyelesaian transaksi perdagangan antara dua negara yang dilakukan dalam mata uang masing-masing, di mana penyelesaian transaksinya dilakukan dalam yurisdiksi wilayah masing-masing.

Skema ini mengharuskan penunjukkan Appointed Cross Currency Dealers, yaitu bank memfasilitasi pelaksanaan LCS melalui pembukaan rekening mata uang negara mitra di negaranya.

LCS ACCD dilakukan untuk mendorong penggunaan mata uang lokal secara lebih luas dalam penyelesaian perdagangan, sehingga mengurangi tekanan Dolar AS terhadap mata uang lokal.

“Saya berharap ini dapat memberikan jaring pengaman untuk transaksi finansial di antara kedua negara. Sebab, saya juga percaya jika situasi ekonomi global saat ini menjadi alasan utama menguatkan kerja sama kita dalam menjaga stabilitas keuangan dan moneter di negara masing-masing,” tukas Airlangga.

Untuk diketahui, selama ini kedua negara mempunyai hubungan bilateral yang cukup baik, khususnya dalam bidang investasi (bisnis), perdagangan (ekspor-impor), dan pariwisata.

Total perdagangan antar dua negara Asia ini sebesar USD1.311 juta pada Januari 2020. Indonesia menjadi pemasok bahan mentah dan energi untuk industri Korsel.

Indonesia salah satu tujuan utama investasi dari banyak perusahaan Korsel. Negeri Ginseng itu adalah investor terbesar ke-9 untuk Indonesia di 2019. Total investasi dari Korsel ke Indonesia pada tahun tersebut senilai USD1,1 miliar (2.952 proyek), menurun 33% dari tahun sebelumnya USD1,6 miliar (2.412 proyek).(esg)