Ribuan Restoran Tumbang, Hotel Bisa saja Menyusul

38

Badan Pimpinan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BP PHRI) DKI Jakarta melansir bahwa sepanjang tahun 2020, sebanyak 1.033 restoran di Indonesia tutup secara permanen.

Ketua PHRI Sumbar, Maulana Yusran menjelaskan tutupnya hotel di Indonesia bisa terjadi pula di Sumbar. “Ada dua kemungkinan hotel tutup. Pertama tidak bisa menjalankan roda usaha, dan yang kedua memang pemiliknya berniat menjual, tetapi karena pandemi, hotel yang dijual belum laku,” ujarnya, Senin (8/2/2021).

Maulana menjelaskan, akibat pandemi manajemen hotel mendapat tekanan yang sangat berat. Sebab tingkat hunian selama pandemi hanya 20 persen dari kapasitas hotel, ditambah turunnya harga kamar hotel.

“Selain gaji karyawan, yang memberatkan itu adalah tagihan listrik, dan pajak yang naik 30 persen. Alhasil hotel bintang 4 dan 5 berusaha bertahan dengan cara menurunkan harga kamar. Imbasnya, hotel-hotel bintang 2 dan 3 terdampak. Pemerintah sama sekali tidak membantu hotel untuk bisa bertahan,” jelasnya.

Sampai saat ini hotel dan restoran di Sumbar masih banyak yang bertahan. “Tanpa bantuan pemerintah dan pemerintah tidak arif menyikapinya, hotel – hotel yang ada di Sumbar lambat-laun bisa gulung tikar juga. Selain itu, kebijakan PPKM di ibukota akan sangat besar dampaknya bagi daerah. Saat ini biaya untuk melakukan perjalanan udara itu sangat besar,” ungkapnya.

Terpisah, pakar pariwisata dari Universitas Andalas, Dr Sari Lenggogeni menjelaskan yang harus dilakukan Pemprov Sumbar adalah melakukan pengawalan 3T (Tracing, Testing, Treatment) terhadap industri pariwisata di Sumbar.

Baca Juga:  Diminati Masyarakat, Pembiayaan BSI OTO Tumbuh 64 Persen

“Saya melihat industri pariwisata di Sumbar masih bisa bertahan. Hotel dan restoran bisa bertahan, karena pemprov Sumbar dengan ketat melakukan 3T. Berbeda dengan Jawa dan Bali yang saat ini tinggi positif covidnya,” jelasnya.

Lebih lanjut, Sari Lenggogeni menjelaskan juga, ketika mengadakan ivent di Sumbar harus menggandeng dan berkolaborasi dengan tenaga kesehatan demi kesuksesan sebuah ivent.

“Pada saat ini hotel dan restoran telah menerapkan prokes yang ketat. Yang menjadi kendala saat ini adalah kontrol ketat di lokasi destinasi wisata. Perlu manajemen dan pengaturan yang ketat akan jumlah kunjungan wisatawan di lokasi destinasi wisata. Jangan sampai memunculkan cluster destinasi wisata. Jadi industri pariwisata itu selain memberikan rasa aman, nyaman kepada pengunjung, destinasi wisata harus memberikan rasa dan suasana sehat kepada pengunjung,” tambahnya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Padang, Arfian, menerangkan pasca-PSBB dan masuk ke kondisi New Normal, hotel dan restoran di Kota Padang sudah mulai menggeliat kembali. Selain itu, iven MTQ Nasional yang seluruh kegiatannya dilaksanakan di Kota Padang, membuat rata-rata hunian hotel di Kota Padang penuh dihuni seluruh peserta.

“Saya mendapat informasi dari manajemen hotel dan PHRI Sumbar, saat ini tingkat hunian hotel rata-rata 50 persen dari jumlah kamar. Tentu ini akan menjadi kabar yang baik untuk industri pariwisata di Kota Padang,” jelasnya. (*)