April, Inflasi Sumbar di Bawah Nasional

Bawang putih sebagai salah satu komoditas pokok ikut mempengaruhi inflasi. (Jawapos.com)

Sumbar mengalami deflasi pada April 2020. Berdasar perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) umum gabungan dua kota di wilayah Sumbar pada April 2020 tercatat mengalami deflasi sebesar -0,41% (mtm), atau menurun dibanding realisasi Maret 2020 yang deflasi -0,01% (mtm).

“Secara tahun berjalan 2020 (s.d April 2020) Sumbar tercatat mengalami deflasi sebesar -0,03% (ytd) atau menurun dibanding Maret 2020 yang mengalami inflasi 0,39% (ytd),” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumbar, Wahyu Purnama A dalam pres relisnya kemarin.

Dikatakan, deflasi Sumbar pada April 2020 terutama berasal dari deflasi kelompok makanan, minuman dan tembakau. Kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami deflasi dengan andil -0,30% (mtm) didorong oleh penurunan harga berbagai komoditas bahan makanan antara lain cabai merah, daging ayam ras dan ayam hidup dengan andil deflasi masing-masing sebesar -0,34% (mtm), -0,09% (mtm) dan -0,03% (mtm). “Penurunan harga komoditas dari kelompok makanan, minuman dan tembakau didorong oleh melimpahnya pasokan di masyarakat seiring memasuki masa panen,” jelasnya.

Secara tahunan pergerakan harga pada April 2020 menunjukkan inflasi sebesar 1,45% (yoy) atau menurun dibandingkan realisasi inflasi Maret 2020 yang sebesar 2,09% (yoy). Nilai inflasi tahunan Sumbar ini tercatat lebih rendah dari realisasi inflasi nasional sebesar 2,67% (yoy) dan realisasi Kawasan Sumatera sebesar 1,56% (yoy).

“Secara spasial, April 2020 Kota Padang tercatat mengalami deflasi sebesar -0,47% (mtm) menurun dibandingkan realisasi bulan Maret 2020 sebesar -0,02% (mtm). Kondisi demikian menjadikannya sebagai kota dengan nilai deflasi tertinggi ke-5 dari 20 kota/kabupaten IHK di kawasan Sumatera yang mengalami deflasi. Kemudian, peringkat ke-7 deflasi tertinggi dari 51 kota/kabupaten IHK di Indonesia yang mengalami deflasi,” sebutnya.

Sedangkan April 2020, lanjutnya, Kota Bukittinggi mengalami inflasi sebesar 0,06% (mtm) lebih rendah dibandingkan realisasi inflasi pada bulan Maret 2020 yang tercatat inflasi sebesar 0,07% (mtm). “Realisasi inflasi Kota Bukittinggi menjadikannya sebagai kota dengan nilai inflasi tertinggi ke-3 dari 4 kota/kabupaten di Kawasan Sumatera yang mengalami inflasi. Selanjutnya secara nasional, Kota Bukittinggi berada pada peringkat ke-33 dari 39 kota/ kabupaten IHK yang mengalami inflasi,” ulasnya.

Sementara itu, beberapa komoditas penyumbang inflasi di kelompok makanan, minuman dan tembakau antara lain bawang merah, udang basah, jengkol dan gula pasir yang menyumbang inflasi dengan andil masing-masing sebesar 0,10% (mtm), 0,03% (mtm), 0,03% (mtm) dan 0,02% (mtm). Sementara, peningkatan harga bawang merah didorong oleh penurunan produktivitas panen akibat tingginya curah hujan. Harga udang basah dan jengkol meningkat didorong oleh kenaikan permintaan di pasar. Di satu sisi, harga gula pasir masih meningkat karena terbatasnya pemenuhan pasokan gula pasir yang dilakukan secara bertahap di tengah pasokan dari Lampung masih terbatas.

Kelompok lain yang turut menyumbang deflasi pada bulan April 2020 yaitu kelompok transportasi serta kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan dengan andil deflasi masing-masing sebesar -0,14% (mtm) dan -0,08% (mtm). Sementara itu komoditas utama menyumbang deflasi pada kelompok tersebut yaitu tarif angkutan udara dengan andil deflasi sebesar -0,26% (mtm) dan biaya pulsa ponsel dengan andil deflasi -0,08% (mtm). Penurunan tarif angkutan udara didorong oleh penurunan permintaan karena adanya pembatasan penerbangan penumpang dan larangan mudik oleh pemerintah dalam rangka mengurangi dampak penyebaran virus Covid-19.

Di sisi lain, tekanan inflasi pada April 2020 juga berasal dari inflasi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang tercatat mengalami inflasi sebesar 0,09% (mtm) menurun dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 1,89% (mtm).
Berdasar data statistik, inflasi pada kelompok ini terutama disumbang oleh kenaikan harga emas perhiasan dengan andil inflasi sebesar 0,09% (mtm) yang didorong oleh peningkatan harga emas dunia karena ketidakpastian global akibat mewabahnya virus Covid-19. (eni)