Jelang Lebaran, Kebutuhan Daging Diperkirakan 302.300 Ton

Pedagang daging sedang memotong untuk dijual ke konsumen. Pemerintah saat ini memacu produktivitas industri pengolahan daging dalam negeri. (IST)

Pemerintah memacu produktivitas industri pengolahan makanan. Khususnya industri pengolahan daging dalam negeri. Tujuannya, jelas supaya mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat di tengah persebaran virus SARS-CoV-2.

Kementerian Perindustrian mengusulkan agar industri pengolahan daging memperoleh pasokan bahan baku dengan mudah. Tentu saja harganya kompetitif.

“Agar semakin produktif dan berdaya saing, kami usul agar diberi akses impor bahan baku daging secara langsung,” ujar Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Abdul Rochim. Dia juga menyarankan adanya pemisahan kebutuhan industri dan konsumsi.

Rochim mengatakan permintaan produk daging olahan terus ada di pasar. Karena itu, pasokan bahan baku industri pengolahan daging perlu dijaga. “Terutama untuk memenuhi kebutuhan selama Ramadhan hingga jelang Idul Fitri nanti,” ucapnya.

Dia memperkirakan kebutuhan daging mencapai 302,3 ribu ton sampai mendekati Lebaran nanti. Namun, permintaan daging dari pedagang makanan, terutama yang berjualan di lokasi wisata atau sekolah, turun drastis. “Permintaan dari konsumen rumah tangga malah meningkat karena mereka bisa membeli secara online,” tuturnya.

Rochim mengaku telah mengimbau seluruh sektor industri binaan yang sampai sekarang masih beroperasi agar benar-benar mematuhi protokol kesehatan. “Industri pengolahan daging memiliki pola produksi yang sudah modern dan berstandar. Maka, implementasi protokol kesehatan tidak akan menghambat produktivitas dan operasional industri pengolahan daging,” ungkapnya.

Terkait dengan implementasi pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di beberapa wilayah Indonesia, Kemenperin mengimbau para kepala daerah agar tetap mengizinkan sektor industri strategis beroperasi. “Kemenperin mewajibkan perusahaan industri dan kawasan industri yang punya izin operasional dan mobilitas kegiatan industri atau IOMKI untuk melaporkan aktivitas produksi mereka,” jelasnya.

Perusahaan industri juga wajib melaporkan operasional dan mobilitas kegiatan industri setiap akhir minggu melalui portal Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas). “Kami mengimbau seluruh perusahaan industri, termasuk sektor pengolahan daging, mematuhi ketentuan yang tercantum dalam surat edaran ini sehingga dapat terus beroperasi dan terhindar dari sanksi administratif,” katanya.

Kemenperin mencatat sektor industri pengolahan daging tumbuh 28,87 persen pada 2019 dengan volume produksi 242.791 ton. Jumlah tersebut meningkat daripada 2016 yang sebesar 188.391 ton. (jpg)