Aqua Dwipayana: Sukses Usaha Diawali dengan Membangun Jejaring

5

Jangan takut berjalan lambat. Takutlah jika hanya mampu diam berdiri. Orang-orang sukses dalam berbisnis akan terus bergerak. Oleh karena itu, kita harus terus membangun jaringan untuk mencari mitra yang akan selalu mendukung usaha kita.

Pesan itu disampaikan Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional Dr Aqua Dwipayana saat menyampaikan Sharing Komunikasi dan Motivasi dengan tajuk “Strategi Komunikasi Bisnis di Masa Pandemi Covid-19” yang diselenggarakan Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) Sumatera Barat (Sumbar) di Padang, Sumbar, pada Selasa sore (7/9/2021).

“Jadilah orang yang baik kepada semua orang dan ramah dengan siapa pun agar mendapat kebaikan dan kesuksesan di manapun berada,” ingat Dr Aqua pada acara yang dipimpin Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumbar Wahyu Purnama Armyntos yang bertempat di kantornya, Jalan Sudirman Padang.

Acara tersebut sekaligus perpisahan dengan dua anggota BMPD Sumbar. Mereka adalah Pemimpin Wilayah BRI Sumbar Wahju Hidajat yang pindah ke Yogyakarta dan Pemimpin Cabang Bank Syariah Indonesia (eks BRI Syariah) Heriyadi yang mutasi ke Jakarta sebagai Executive Business Officer. Keduanya sama-sama mendapatkan promosi dari manajemennya.

Dr Aqua yang juga penulis buku “super best seller” Trilogi The Power of Silaturahim itu menegaskan bahwa membangun jejaring kerja (kemitraan) pada hakikatnya adalah sebuah proses menjalin komunikasi atau hubungan, berbagi ide, informasi dan sumber daya atas dasar saling percaya (trust) dan saling menguntungkan di dalamnya.

“Tentu membangun jejaring tidak bisa instan dan wajib dibina dalam rentang waktu yang lama. Hal ini harus merupakan keterpanggilan dan dilakukan secara alamiah dan berkesinambungan,” ungkapnya.

Pria yang hobi silaturahim dan membantu banyak orang itu dalam paparannya juga memberikan tips  bagaimana membangun jejaring. Tidak hanya sekadar kiat dan strategi, tapi doktor Komunikasi yang sudah mengumrahkan gratis lebih dari 150 orang dari hasil penjualan buku “super best seller” karyanya yang berjudul “The Power of Silaturahim: Rahasia Sukses Menjalin Komunikasi” itu berbagi pengalamannya sehingga sukses memperbanyak relasi baik di dalam negeri maupun di mancanegara.

Selama puluhan tahun mantan wartawan di berbagai media besar itu aktif melaksanakan silaturahim ke banyak orang tanpa melihat latar belakang orang yang ditemui. Hasilnya dahsyat dan luar biasa. Temannya banyak sekali, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di luar negeri.

“Saya memang sudah meniatkan diri untuk 90 persen sisa hidup saya diorientasikan untuk bersilaturahim ke mana saja dan kemudian juga memperbanyak aktivitas sosial,” kata pria yang senang membaca ini.

Terkait dahsyatnya hasil silaturahim, Dr Aqua mencontohkan tentang buku “super best seller” Trilogi The Power of Silaturahim yang telah dicetak sebanyak 200 ribu eksemplar. Sebagian besar bukunya sudah terjual.

Buku “super best seller” Trilogi The Power of Silaturahim berjudul “The Power of Silaturahim: Rahasia Sukses Menjalin Komunikasi”, “Humanisme Silaturahim Menembus Batas: Kisah Inspiratif Persahabatan Aqua Dwipayana-Ventje Suardana (Satu Kesamaan Yang Mampu Mengatasi Sejuta Perbedaan)” serta “Berkarya dan Peduli Sosial Gaya Generasi Milenial: Kisah Inspiratif Dua Bersaudara Alira-Savero Dwipayana Bergiat untuk Sesama”.

Dua buku yang terakhir yang berjudul “Humanisme Silaturahim Menembus Batas: Kisah Inspiratif Persahabatan Aqua Dwipayana-Ventje Suardana (Satu Kesamaan Yang Mampu Mengatasi Sejuta Perbedaan)” serta “Berkarya dan Peduli Sosial Gaya Generasi Milenial: Kisah Inspiratif Dua Bersaudara Alira-Savero Dwipayana Bergiat untuk Sesama” dicetak sebanyak 40 ribu eksemplar. Dipasarkan sejak Januari 2021.

“Pemasarannya secara langsung ke pembeli. Tidak melalui toko buku dan media sosial. Hasilnya luar biasa. Sampai sekarang telah terjual sebanyak 32 ribu eksemplar. Padahal dalam situasi pandemi Covid-19 yang kondisinya sangat sulit,” jelasnya.

Tidak hanya itu. Pria yang sudah mengunjungi semua provinsi di Indonesia dan 34 negara ini, menjelaskan bahwa ada 15 perusahaan besar yang mendukung penerbitan kedua buku itu. Logo seluruh perusahaan ada di pembatas buku dan halaman dalam bagian belakang dua buku tersebut.

“Untuk mendapatkan dukungan dari semua perusahaan besar itu, saya tidak perlu pakai proposal dan meyakinkan pemilik serta pemimpinnya dengan bicara berbusa-busa. Cukup komunikasi lewat “Whatsapp” dan telepon. Mereka langsung setuju,” ungkap Dr Aqua sambil menunjukkan logo masing-masing perusahaan.

Hal itu bisa terjadi menurut mantan karyawan Semen Cibinong (sekarang Solusi Bangun Indonesia-red) ini bukan karena dirinya hebat. Namun yang utama disebabkan selama ini intens menjaga, memelihara, mengembangkan, dan meningkatkan silaturahim dengan ikhlas. Hal itu dilakukannya secara universal pada semua orang.

Setiap menjalin silaturahim, Dr Aqua melakukannya secara tulus. Niat, berpikir, dan tindakannya secara nyata adalah membantu semua orang yang ditemui. Sama sekali tidak berpikir mendapatkan sesuatu dari mereka.

Hal itu membuat setiap orang yang ditemuinya merasa nyaman, senang, dan betah berkomunikasi sama pria yang selalu berpenampilan sederhana tersebut. Komunikasinya sangat lancar dan sama sekali tidak ada hambatan.

“Saya sangat mensyukuri semua itu. Tuhan selalu memudahkan semua urusan saya termasuk selama di Kota Padang ini,” tuturnya.

Menggapai Keberhasilan

Dr Aqua melanjutkan, kecerdasan membangun komunikasi menjadi salah satu langkah penting untuk menggapai keberhasilan dan kesuksesan dalam berbisnis dan menjadi profesional, termasuk bagi mereka yang bekerja di sektor perbankan yang langsung bersentuhan dengan aktivitas masyarakat. Diperlukan kecakapan berkomunikasi dalam menjalin relasi dengan banyak pihak.

Kecerdasan berkomunikasi yang menjadi salah satu syarat bagi kesuksesan karier maupun perjalanan bisnis seseorang, menurut Aqua, terbagi dalam dua aspek. Keduanya secara konsisten harus berjalan dengan baik karena keterkaitannya erat sekali.

Pertama, secara internal, komunikasi yang cerdas itu menyangkut proses penyampaian pesan antar pegawai untuk kepentingan bisnis dan keberlangsungan pekerjaan melalui komunikasi vertikal dan horizontal di lingkup usaha.

Untuk mewujudkan komunikasi internal yang bak, lanjut pembicara laris tersebut, peran pemimpin di setiap organisasi sangat penting. Diharapkan secara konsisten mereka dapat menjadi role model bagi semua jajarannya.

Baca Juga:  Contact Center PLN 123 Borong Penghargaan Global di Antara 50 Negara

Jika pemimpinnya dapat memberikan keteladanan, menurut Aqua, seluruh anak buahnya akan mencontoh. Hal tersebut berpengaruh secara signifikan pada pekerjaan di perusahaan terutama untuk peningkatan kinerja.

Komunikasi internal yang paling krusial, katanya adalah antara atasan dan bawahan. Itu terjadi karena ada dua perbedaan mendasar yakni wawasan dan pengalaman.

Agar komunikasinya selalu efektif, anggota Dewan Pakar Ikatan Sarjana Komunikasi (ISKI) Pusat itu menyarankan setiap atasan mau dengan rendah hati “turun” untuk menyesuaikan komunikasi dengan bawahannya. Sehingga prosesnya lancar dan umpan balik dari seluruh jajarannya sesuai dengan yang diharapkan pimpinan.

Sedangkan kedua, lanjut Dr Aqua, dari aspek eksternal. Komunikasi yang cerdas itu menyangkut relasi antara pimpinan atau bawahan dengan khalayak di luar lingkup usaha.

Setiap pegawai yang berkomunikasi dengan pihak luar, tambah Staf Ahli Ketua Umum KONI Pusat Bidang Komunikasi Publik ini, harus menyadari bahwa saat berinteraksi dengan berbagai pihak eksternal, siapa pun itu orangnya, mewakili perusahaan tempatnya bekerja. Terkait dengan itu maka perilaku dan tutur katanya harus diperhatikan.

Agar komunikasi eksternalnya bagus, Aqua juga menyarankan perlu lebih dulu diwujudkan komunikasi internal yang efektif, lancar, dan baik. Hal tersebut saling berkaitan.

“Biasanya jika komunikasi di internal efektif dan lancar, komunikasi eksternalnya bagus. Hal tersebut terjadi karena berbagai hal yang dikomunikasikan ke luar bersumber dari antarbagian di perusahaan,” terang pembicara laris selama pandemi Covid-19 ini.

Kedepankan Etika

Pria dengan jejaring pertemanan sangat luas itu lebih jauh mengungkapkan, membangun komunikasi efektif dapat dilakukan dengan menggunakan bahasa yang baik dan selalu mengedepankan etika dan kesantunan.

“Selain itu, kita juga harus dapat mempelajari konsep bahasa nonverbal sehingga dalam setiap proses komunikasi bisa menyampaikan dan menerima pesan komunikasi secara efektif,” ujarnya.

Untuk mencapai efektivitas komunikasi, menurut Dr Aqua yang semakin padat jadwal kegiatannya di masa pandemi Covid-19 ini, efektivitas komunikasi dapat dijalankan dengan rumus REACH Plus A+C. Hal ini berlaku secara universal di mana saja berada.

Aspek pertama adalah sikap menghargai orang lain tanpa kecuali yang diwakili dengan kata “Respect”. Dr Aqua menegaskan di mana pun kita berada, jangan pernah menganggap remeh siapa pun. Hormati dan hargai semua orang.

“Salah satu contohnya saya selama di Sumbar ini, sangat respect sama sopir yang mengemudikan mobil saya yang biasa dipanggil Pak Un. Ketika saya di mobil, maka keselamatan dan “nyawa” saya dalam perjalanan ada di tangan sopir,” ungkap pria yang berasal dari Kota Padang, Sumbar ini.

Kedua adalah sikap empati (empathy). Salah satu contohnya semua atasan harus memperhatikan aktivitas para jajarannya. Jika mereka kelelahan setelah bertugas di lapangan, sampai di kantor jangan langsung “dibombardir” dengan berbagai pertanyaan dan teguran. Atasan harus dapat merasakan yang dirasakan jajarannya.

“Beri kesempatan mereka istirahat. Pesankan minuman dan makanan. Ajak ngobrol santai dengan topik yang ringan-ringan. Setelah suasananya nyaman baru membicarakan tugas mereka. Jangan lupa mengapresiasi anggota yang berprestasi,” tuturnya.

Ketiga adalah “audible” atau dapat dipahami dan dimengerti. Semua yang disampaikan kepada orang lain pesannya dapat mereka terima dengan baik.

“Pesan yang kita sampaikan diupayakan secara maksimal dapat dipahami oleh penerima pesan. Ini sangat penting agar mereka tidak salah memahaminya sehingga umpan baliknya sesuai dengan yang diharapkan,” ungkap penulis buku “super best seller” Trilogi The Power of Silaturahim ini.

Aspek selanjutnya adalah “clarity”. Semua pesan yang disampaikan dengan kalimat terbuka yang sederhana dan jelas. Sehingga penerima pesan memahaminya.

“Semua pesan yang disampaikan harus jelas agar tidak terjadi multi interpretasi atau penafsiran yang berbeda dari penerima pesan. Jika itu terjadi dampaknya bisa fatal,” tegas Dr Aqua.

Terakhir adalah “humble” atau rendah hati. Jangan pernah tinggi hati dan sombong apalagi yang bekerja di sektor perbankan yang membutuhkan dukungan semua nasabah dan mitra kerja lainnya. Sikap negatif tersebut adalah awal dari keterpurukan kita sebagai manusia.

“Contohnya adalah jabatan seseorang. Itu ibarat kapas di ujung telunjuk. Begitu ditiup bisa langsung hilang. Sebagai manusia tidak ada yang perlu kita sombongkan. Semuanya milik Tuhan. Kita hanya dititipkan saja. Setiap saat yang kita miliki bisa diambil pemilikNYA dan kita diminta pertanggungjawabannya,” tutur Aqua.

“REACH” menurut laki-laki yang hobi silaturahim ini tidak ada artinya jika tidak dilengkapi dengan huruf ‘A’ dan ‘C’ yakni Action dan Consistency atau Tindakan nyata dan cepat serta Konsistensi dalam pelaksanaannya. Jadi yang paling penting adalah implementasi pelaksanaannya terus-menerus.

Aqua juga berpesan jadilah pegawai yang  komunikatif serta punya pandangan (mindset)  sebagai pemenang untuk mencapai target kerja menuju kesuksesan. Selain itu, agar baik kepada semua orang dan ramah dengan siapa pun sehingga mendapat predikat pegawai teladan di mata semua rekan kerjanya dan di hadapan Tuhan yang Maha Esa.

Terkait dengan pelayanan yang diberikan kepada semua nasabah, menurut mantan wartawan di banyak media itu, seluruh pegawai perlu melaksanakan 3K. Hal itu merupakan kunci sukses dalam melakukan semua aktivitas.

“’K’ yang pertama adalah Kredibilitas. Sebagai pegawai, harus selalu berusaha untuk menjadi orang yang dipercaya. Apalagi bekerjanya di sektor perbankan yang mengutamakan kepercayaan,” kata Dr Aqua menegaskan.

Sementara, “K” yang kedua adalah Komitmen. Sebagai bankir, menurut bapak dari Alira Vania Putri Dwipayana dan Savero Karamiveta Dwipayana itu, semua pegawai harus selalu melaksanakan janji. Tepati, jangan sampai mengingkarinya. Sehingga para nasabah dan mitra selalu mempercayainya.

“Terakhir, ‘K’ yang ketiga adalah Konsisten. Lakukan semua aktivitas terutama dalam bekerja secara konsisten. Ini sangat penting karena erat kaitannya dengan kredibilitas sebagai bankir,” ucapnya.(idr)