Ekonomi Kontraksi Minus 1,5%, Sumbar Konkretkan Tiga Sektor Strategis

28

Struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumatera Barat menurut lapangan usaha tahun 2020 masih didominasi sektor pertanian sebesar 22,38 persen. Namun kontribusi sektor pertanian dalam laju pertumbuhan ekonomi relatif menurun dari tahun ke tahun dengan capaian 2020 sebesar 1,19 persen.

Beberapa sektor PDRB yang cukup mengalami kontraksi yang dalam pada 2020 antara lain sektor transportasi dan pergudangan sebesar minus 16,10 persen, penyediaan akomodasi minus 15,95 persen, sektor perdagangan minus 1,14 persen dan beberapa sektor lainnya akibat adanya pandemi Covid-19.

Namun di tengah dominannya beberapa sektor yang mengalami kontraksi, terdapat beberapa sektor yang tumbuh positif, yakni Informasi dan komunikasi sebesar 9,76 persen.

Hal itu disampaikan Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah saat membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Keria Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Sumatera Barat Tahun 2022 di Hotel Grand Inna, Jum’at (9/4/2021).

Musrenbang kali ini merupakan rangkaian tidak terputus dari Musrenbang yang telah dilaksanakan di masing-masing kabupaten/kota dari tingkat nagari, desa dan kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota hingga provinsi.

Dalam memaksimalkan penjaringan usulan dan masukan beberapa tahapan pelaksanaan, kata Mahyeldi, telah dilakukan secara bersama penyampaian usulan langsung dari bupati dan wali kota pada rapat koordinasi perencanaan pembangunan dengan gubernur dan wakil gubernur pada 8-10 April 2021.

Kemudian, konsultasi publik rancangan awal RKPD Provinsi Sumatera Barat 2022 pada 18 Maret 2021. Pelaksanaan Pra-Musrenbang pada 2-4 April 2021.

Untuk mengkonkretkan usulan dari pemerintah kabupaten/kota berdasarkan yang disampaikan secara langsung oleh bupati/ wali kota pada rakorgub yang diprioritaskan pada 3 sektor strategis daerah, yakni pertanian, perdagangan/UMKM dan pariwisata.

Menurutnya, berdasarkan hasil evaluasi terhadap pencapaian pembangunan di Sumatera Barat pada tahun 2020, dapat disampaikan beberapa hal yakni, pertumbuhan ekonomi di Sumatera Barat sepanjang tahun 2016 sampai 2019 cenderung menurun, dan relatif hampir sama dengan capaian nasional.

“Dan capaian tahun 2019 sebesar 5,05 persen. Akibat adanya pandemi Covid-19, maka pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat mengalami kontraksi hingga minus 1,5 persen,” katanya.

Oleh karena itu, perlu adanya upaya restrukturisasi ekonomi dengan secara perlahan-lahan mengalihkan dari semula bertumpu kepada sumber daya alam beralih ke sektor perdagangan dan jasa yang modern.

Baca Juga:  Pastikan Pasokan Listrik selama Lebaran, PLN Siaga 24 Jam

Hal ini sejalan dengan yang diarahkan presiden pada beberapa kali kesempatan dan juga disampaikan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, bahwa tantangan Indonesia tidak saja pada Pemulihan Ekonomi Nasional pasca pandemi Covid-19, namun juga transformasi ekonomi.

Secara perlahan lepas dari ketergantungan sumber daya alam yang selama ini telah menjadi penopang utama struktur perekonomian.

Salah satunya, dari sektor pertanian bertransformasi menjadi negara yang memiliki daya saing manufaktur tinggi, dan berorientasi pada pengembangan sektor jasa modern. Karena sektor-sektor ini memiliki nilai tambah tinggi bagi kemakmuran bangsa Indonesia. Perubahan ini memiliki konsekuensi ekonomi jangka menengah dan panjang.

“Sekali lagi, ini harus dimulai dari sekarang. Dengan mempertimbangkan hasil evaluasi terhadap capaian pembangunan makro pembangunan di Sumatera Barat serta dengan memperhatikan tema Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2022 dan arahan Presiden tersebut maka Tema RKPD Provinsi Sumatera Barat Tahun 2022 yakni: Pemulihan Ekonomi Daerah melalui sektor strategis yakni Pertanian, Perdagangan/UMKM dan juga pariwisata,” ungkapnya.

Gubernur Sumbar juga mengingatkan agar diperhatikan fokus 2022 pada pelaksanaan 3 sektor strategis ini bukan berarti sektor-sektor lainnya diabaikan, seperti sektor pendidikan, kesehatan, peningkatan kualitas tenaga kerja dan sektor lainnya.

Pengendalian dan penanganan pandemi Covid-19 tetap menjadi perhatian seluruh pihak karena pemulihan ekonomi juga bergantung bagaimana kemampuan kita untuk mencapai herd umunity, dengan upaya percepatan vaksinasi pada kelompok sasaran masyarakat yang telah ditargetkan.

Maka, prioritas dalam tahun anggaran 2022, antara lain, Pengendalian dan penanganan Pandemi Covid-19 yang difokuskan pada upaya, percepatan vaksinasi, optimalisasi resting, tracking dan treatment (3T), optimalisasi Perda Nomor 6 Tahun 2020 tentang Adaptasi Kebiasaan Baru.

Sektor pertanian difokuskan pada upaya meningkatkan pendapatan petani, antara lain melalui industrialisasi pertanian dan  meningkatkan milai tambah produk pertanian.

Sektor perdagangan UMKM difokuskan pada upaya, meningkatkan akses keuangan perbankan dan non-perbankan bagi UMKM, meningkatkan keahlian dan keterampilan bagi pelaku Industri Kecil/UMKM dan pengusaha pemula dan ekonomi kreatif dalam pemanfaatan teknologi informasi untuk pengembangan bisnis dan perdagangan digital.

Sektor pariwisata, difokuskan pada upaya pengembangan destinasi wisata, pengembangan pemasaran, pengembangan industri dan pengembangan kelembagaan.(idr)

Previous articleBupati Pessel Terima Penghargaan Pengarusutamaan Gender dari Gubernur
Next articleDidukung Banyak Pihak, Rabani Sport Centre Diresmikan Gubernur Sumbar