Pasokan Berkurang, Harga Bawang Merah Melambung

Harga bawang merah melambung disebabkan pasokan berkurang. (Jawapos.com)

Harga bawang merah di dua daerah di Sumbar melonjak naik. Salah satu penyebabnya persedian bawang merah kurang. Seperti di Kabupaten Solok Selatan, harga bawang merah tembus di angka Rp 68 ribu per kilogram. Jauh mengalami kenaikan jika dibandingkan minggu sebelumnya. Minggu lalu, harga bawang merah hanya Rp 40 ribu per kilogram.

Salah seorang pedagang bawang di Pasar Padangaro, Mulyanto menyebutkan pekan lalu harga bawang merah di sejumlah pasar nagari, kisaran Rp 40 ribu per kilogram. Tapi, hari ini terjadi lonjakan tajam dan membuat pengunjung pasar mengeluhkan soal harga bawang.

”Sekarang harga bawang merah sudah naik Rp 68 ribu per kilogram, lonjakan tajam ini semenjak PSBB diperketat pemerintah di Solsel. Sehingga pasokan bawang dari Kerinci, Surian dan Alahanpanjang Kabupaten Solok tidak masuk,” paparnya.

Diprediksi pedagang, harga bawang akan terus terjadi lonjakan. Karena pasokan semakin berkurang, sedangkan petani di Solsel tidak banyak yang bercocok tanam bawang merah tersebut. Biasanya ulasnya, hanya bawang putih yang meroket tajam. Karena stok berkurang. Tapi selama wabah Covid-19, harga bawang merah terus melambung.

Reni, 37, pedagang lainnya menuturkan, bahwa harga bawang putih saat ini masih stabil Rp 35 ribu per kilogram. Tomat Rp 8 ribu, cabai merah Rp 15 ribu, cabai rawit Rp 8 ribu, kacang buncis Rp 8 ribu dan lainnya masih stabil.

Terpisah, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Solok Selatan, Budiman menjelaskan, wabah virus korona memang banyak dampaknya terhadap petani. Seperti harga komuditi cabai merah turun, nah sekarang bawang merah yang telah mengalami kenaikan yang sangat drastis. Sehingga banyak dikeluhkan masyarakat sebagai kebutuhan harian.

Sementara, kurangnya pasokan bawang merah kampung membuat harga komoditi yang satu ini masih tinggi. Kenaikan harga bawang kampung ini juga diikuti bawang dari Pulau Jawa. Namun demikian untuk bawang impor justru harganya jauh lebih murah.

Armen, pedagang sembako di Pasar Pariaman kepada Padang Ekspres menyebutkan kenaikan harga bawang sudah berlangsung sejak satu bulan yang lalu. Bawang merah kampung yang berasal dari Alahanpanjang saat normal harganya berkisar Rp 20 ribu hingga Rp25 ribu. Sementara bawang dari Pulau Jawa kisaran Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu.

Namun biasanya kenaikan harga tersebut tidak bertahan lama. Nah, untuk saat ini justru harga bawang kampung bertahan di harga Rp 50 ribu per kilogram. Sedangkan bawang jawa naik menjadi Rp 40 ribu. ”Pasokan bawang kampung kurang itu yang menyebabkan harganya tinggi. Saya tidak tau pasti apa penyebabnya. Hanya komoditi ini yang harganya naik yang lain stabil,” ujarnya kepada Padang Ekspres kemarin.

Meski demikian untuk bawang impor justru harganya cukup stabil diangka Rp 17 ribu per kilogram. Hanya saja jenis bawang ini tidak begitu dicari konsumen karena selain besar-besar menyerupai bawang bombai dari segi rasa bawang impor kurang menggigit dibanding bawang kampung dan Jawa.  ”Sepi sekali pasar, omzet turun hingga 50 persen. Biasanya yang meramaikan pasar saat Ramadhan adalah perantau yang pulang kampung,” katanya.

Sementara itu, pascadibelakukannya protokol covid-19 di Pasar Pagi Pariaman, Dinas Perindag Koperasi dan UKM Kota Pariaman kembali menambah jumlah garis kotak-kotak untuk pedagang. ”Kami akan tambah sekitar 40 garis kotak lagi. Jumlah kemarin sebenarnya cukup. Namun pedagang yang sudah memiliki kedai ikut juga berdagang di pasar pagi sehingga harus ditambah lagi,” ujarnya.

Hal ini sekaligus untuk mengingatkan pedagang yang biasa berjualan di kedai, kios dan lapak untuk tetap bertahan ditempat masing-masing. Jika tidak tentu kondisi pasar pagi akan semakin padat dan ini sangat susah untuk menerapkan physical distancing atau jaga jarak. (nia/tno)