Jaga Keaslian dan Kualitas Beras Solok

44
Ilustrasi penjual beras. (Foto: IST)

Untuk menjaga kualitas dan keaslian beras Solok yang beredar di pasaran, Pemko Solok akan memperkuat koordinasi dengan petani, pedagang dan pemilik huller (penjemuran dan penggilingan padi) yang ada di Kota Solok.

“Kami selalu usahakan untuk berkoordinasi dengan pedagang maupun pengusaha huller dan petani, karena isu-isu negatif kerap ditujukan pada kualitas beras kita,” ujar Kepala Bidang Ketersediaan dan Distribusi Pangan, Dinas Pangan Kota Solok, Efrizal Hasdi.

Menurutnya, Kota Solok dikenal sebagai salah satu penghasil beras terbaik, namun banyak dirumorkan mendatangkan gabah atau beras dari luar Kota Solok.

Ironisnya, menurut informasi yang berkembang, beras atau gabah yang masuk Kota Solok tetap bernama beras Solok, dengan harga yang tentu lebih murah dari beras Solok murni (original).

Ada juga informasi yang beredar, beras Solok hanya sebagai pencampur dari sekian banyak jenis beras yang ada di Sumbar, tetapi tetap di packing dengan nama beras Solok.

“Itu tidak masuk akal lagi, isu-isu seperti itu sangat mengganggu, bahkan petani dan pedagang pun juga merasa terganggu, karena mereka menjual beras Solok asli, serta isu itu tidak terbukti secara fakta dan data,” ungkapnya.

Secara hitungan luas sawah, berdasarkan data tahun 2019 didapatkan produksi padi di Kecamatan Lubuk Sikarah 17.258 ton, sementara di Kecamatan Tanjung Harapan 3.124 ton. Sehingga total produksi padi/gabah di Kota Solok adalah 17.382 ton.

Jika diasumsikan konfersi gabah ke beras 62,74%, maka didapatkan produksi beras di Kota Solok 10.905 ton.

Jumlah kebutuhan penduduk Kota Solok dengan jumlah penduduk tahun 2019 adalah 71.010 jiwa (konsumsi 114 kg/kap/tahun) adalah 8.095 ton sehingga berlebih ketersediaan beras di Kota Solok sebanyak 2.810 ton. “Berdasarkan data ini dengan luasan sawah yang ada sekarang, sudah melebihi kebutuhan konsumsi masyarakat Kota Solok,” tambahnya.

Tak hanya itu, berdasarkan berbagai informasi tersebut, Dinas Pangan Kota Solok, dalam 6 bulan terakhir telah menggelar beberapa kali pertemuan antara pengelola pemilik Huller dengan pedagang grosir beras, dan petani, itu dilakukan dalam evaluasi dan membuktikan apakah isu-isu itu benar atau tidak.

Berdasarkan operasi di lapangan, ditemukan bahwa gabah di Kota Solok ada yang berasal dari daerah Pesisir Selatan, dari Pariaman.

Lalu, gabah dari Kota Solok, dibawa ke Batusangkar, Payakumbuh. Bahkan, Beras Solok dapat dibeli dengan harga beragam, artinya semakin rendah harganya tentu lebih sedikit beras solok murni sebagai pencampur beras tersebut.

Hal tersebut tentu menjadi perhatian serius bagi Pemko Solok dalam menjaga kualitas dan keaslian beras Solok. Ia menyebut sudah ada aturan baku tentang harga beras solok, bahkan beras solok dijual di batas akhir Harga Eceran Tertinggi (HET). HET beras premium ada diangka Rp10.000 perkilogram dan harga beras super di angka Rp 13. 500 per kilogram.

Isu-isu yang beredar tersebut bisa mengikis kepercayaan konsumen terhadap keaslian beras Solok, untuk Ia mengimbau suluruh pihak terkait untuk menjaga kualitas beras solok.

Bagi Dinas Pangan hasil yang diharapkan yakni adanya data gabah atau beras, baik yang tersedia atau terdistribusi dan jelasnya peredaran gabah atau beras di Kota Solok.
“Bagi pemilik huller, akan ada kerja sama bersifat bisnis namun tetap mempertahankan kemurnian Beras Solok,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kota Solok, Ikhvan Marosa menyebut Kota Solok memiliki padi varietas unggul lokal yang bernama Anak Daro yang telah dilepas oleh Kementerian Pertanian Tahun 2007. Kota Solok bersama 5 kecamatan di Kabupaten Solok juga telah memiliki sertifikat Indikasi Geografis (IG) dari Kemenkumham. Dua sertifikat ini harus dijadikan keuntungan padi petani Kota Solok.

Dalam IG ini ada pengakuan tentang produk dan kualitasnya. Untuk diketahui Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 57 Tahun 2017 Tentang Penetapan Harga Eceran Tertinggi Beras, tidak boleh menjual beras di atar HET. HET beras premium ada diangka Rp 9.950 perkilogram dan harga beras super di angka Rp 13. 300 per kilogram.

Sedangkan harga beras solok berbeda dari beras lain di Indonesia, beras Solok tidak bisa mengikuti Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, harga beras Solok jenis Sokan dan Anak Daro berada di kisaran Rp 13 ribu per kilogram hingga Rp 15 Ribu per kilogram.

Untuk proses menjamin keasliannya diperlukan proses yang panjang. Dinas pertanian dan dinas Pangan juga sudah saling berkoordinasi untuk bekerja sama dengan badan usaha, koperasi dan petani untuk mengawasi keaslian beras Solok. “Pengawasan keaslian beras Solok memang panjang mulai dari siapa petani yang menanam, penanaman benih, di mana huller yang dipakai, proses penjemuran sampai jadi beras,” pungkasnya. (f)