BUMN Butuh Dukungan Pemerintah, Kerek Daya Saing Global

ilustrasi. (jawapos.com)

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menghadapi banyak kendala untuk meningkatkan daya saing di level internasional. Hal itu hanya bisa diatasi bila ada campur tangan pemerintah.
Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menyambut positif langkah Kementerian BUMN mendorong perusahaan pelat merah untuk meningkatkan daya saing sebagai upaya menghadapi tekanan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Hanya saja, untuk mewujudkannya tidak semudah membalikan telapak tangan. Banyak faktor yang harus dijalankan, termasuk campur tangan pemerintah.

“Indonesia menurut Global Competitiveness Index ada di posisi 50. Ini mengindikasikan daya saing produk indonesia itu relatif lebih rendah dibanding negara tetangga. Artinya, produsen di Indonesia dalam memproduksi barang masih menghadapi beban ongkos produksi yang tinggi. Biasanya lebih tinggi dari pada negara lain, kemudian harga produk lebih mahal ketimbang negara lain,” ungkap Esther di Jakarta, kemarin.

Esther menilai, di dalam kondisi normal saja, sebelum pandemi Corona, BUMN kewalahan bersaing dengan produk negara lain. Untuk mengerek daya saing, menurut Esther, butuh campur tangan dari kementerian lain seperti Kementerian Prindustrian, Kementerian Perdagangan, dan kementerian terkait lainnya. BUMN perlu regulasi dan iklim bisnis yang kondusif untuk bisa mengejar ketertinggalan.

Esther menekankan, untuk bisa bangkit, BUMN sendiri juga harus kreatif dan berinovasi. Jangan menyalahkan pandemi. “Semua usaha memang mengalami penurunan omzet karena Pandemi Covid-19. Tapi perusahaan BUMN itu, mau ada badai atau pandemi sekalipun, ya harus tetap beroperasi. Dampak akibat Corona memang dimaklumi, tetapi bukan berarti menjadi alasan untuk tidak mengejar target,” ucapnya.

Baca Juga:  Bank Syariah Mumpuni Kelola Dana PEN

Deputi SDM Teknologi & Informasi Kementerian BUMN, Alex Denni, baru-baru ini meminta PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA untuk memanfaatkan situasi pandemi Covid-19 sebagai momen bertranformasi untuk meningkatkan daya saing. “BUMN harus memanfaatkan momentum pandemi ini. Sekarang bukan waktunya untuk berleha-leha, tapi untuk mengakselerasi transformasi,” kata Alex.

Dia bilang, transformasi ini sudah berjalan di berbagai negara. Sebab itu INKA jangan sampai tertinggal. INKA diminta untuk lebih bersemangat dalam meningkatkan daya saing melalui transformasi teknologi.

Sehingga saat kondisi sudah mulai stabil, maka INKA bisa melompat lebih jauh dari kinerja yang sebelumnya. INKA dalam menjalankan produksi perlu mengikuti tren perkembangan zaman. “Dalam sebuah industri kita perlu untuk terus memanfaatkan platform digital. Sekarang ini sudah bertahap menjalankan revolusi industri 4.0,” katanya.

Dia menyarankan INKA bisa belajar dari perusahaan-perusahaan besar, namun tiba-tiba terjatuh disebabkan oleh sebuah disrupsi. Sehingga saat ini perusahaan perlu menyusun strategi baru yang disesuaikan dengan kondisi yang dihadapi, yaitu wabah Covid-19. Salah satunya yang paling penting adalah kualitas sumber daya manusia (SDM). “Terkadang perusahaan itu lupa menyiapkan diri. Mereka bersemangat untuk transformasi, tetapi lupa persiapan teknisnya untuk menghadapi transformasi,” katanya.

Menjawab tantangan itu, Direktur Utama PT INKA (Persero) Budi Noviantoro memastikan bahwa dalam kondisi pandemi ini, perusahaan berusaha kuat untuk mengerek daya saing perseroan. Dia juga memastikan pengiriman produk kereta ke pemesan di dalam maupun luar negeri tetap berjalan meski di tengah pandemi. (jar/jpg)