Menkeu Berharap PE Kuartal III Lebih Baik

64
ilustrasi. (net)

Meski jurang resesi terbentang di depan, Indonesia harus tetap optimistis. Resesi, menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, bukanlah akhir dari segalanya. Tidak seharusnya resesi membuat perekonomian tanah air buruk.

“Kalau kontraksi lebih kecil dan bisa pulih pada bidang konsumsi, investasi, belanja pemerintah diakselerasi, ekspor membaik, maka bisa berharap pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga lebih baik,” terang Ani, sapaan Sri Mulyani, kemarin.

Dia menambahkan, kenaikan jumlah pasien positif Covid-19 harus terus diwaspadai. Sebab, faktor kesehatan masih sangat memengaruhi dinamika ekonomi. Karena itulah, pemerintah tetap fokus menanggulangi pandemi Covid-19 di berbagai wilayah. Sementara, kondisi ekonomi saat ini memang masih mengalami kontraksi akibat konsumsi yang turun hingga 5,8 persen dan investasi yang turun 8 persen.

Namun, Ani mengatakan kondisi ekonomi berangsur membaik. “Artinya membaik dibanding kondisi April, Mei, dan Juni. Kita berharap Juli, Agustus, dan September nanti indikator pertumbuhan ekonomi akan lebih baik dibanding kuartal kedua,” paparnya.

Terpisah, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa sektor finansial Indonesia masih tetap kuat. Dia memerinci, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) perbankan hingga 31 Agustus 2020 berada pada level 23,1 persen. Angka itu masih jauh dari ambang batas yang 8 persen.

Selain itu, DPK (dana pihak ketiga) tumbuh 8,53 persen. “Jadi, DPK cukup meningkat,” tambah Airlangga. Dia juga menyebut besarnya peran sektor perbankan untuk memulihkan perekonomian nasional. Untuk restrukturisasi, pinjaman totalnya sudah mencapai Rp 857,6 triliun.

Angka tersebut terdiri atas restrukturisasi nasabah korporasi Rp 502,7 triliun untuk 1,24 juta debitur. Sedangkan dana restrukturisasi UMKM tercatat Rp 354,26 triliun untuk 5,76 juta nasabah. “Untuk sektor UMKM penyaluran KUR ini per September target Rp 190 triliun, realisasi Rp 103 triliun dan jumlah nasabah tambahan 3 juta nasabah,” pungkasnya.

Baca Juga:  Excellent! Ini Kunci Indo Premier Sukses jadi Raja Pialang di Indonesia

Terpisah, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyampaikan, realisasi investasi pada kuartal-III 2020 kemungkinan besar lebih baik ketimbang kuartal-II 2020. Sebagaimana diketahui, pada kuartal-II tahun ini investasi cukup seret terimbas pandemi Covid-19. “Realisasi investasi kuartal-III, saya ingin pastikan, insya Allah dapat dipastikan akan lebih baik atau terjadi peningkatan dibanding kuartal-II. Tunggu sebulan lagi ya,” katanya.

Meski tidak menyebut angka pasti karena penghitungan baru akan berakhir pada akhir September ini, namun Bahlil melihat ada perbaikan pada beberapa indikator. Berdasarkan data BKPM, arus barang modal, bahan baku, dan mesin yang difasilitasi lembaga itu menunjukkan tren pertumbuhan. Begitu pula terkait arus investasinya. “Maka dengan pertumbuhan yang ada, pertumbuhan (realisasi investasi) lebih baik dari kuartal-II 2020,” katanya.

Meski pandemi Covid-19 masih berlangsung, Bahlil tetap optimistis target investasi masih bisa tercapai hingga akhir tahun. Sebagai informasi, pada tahun ini pemerintah menargetkan investasi sebesar Rp 817,2 triliun.

Adapun realisasi investasi kuartal-II 2020 dilaporkan mengalami penurunan sebesar 4,3 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Namun secara kumulatif atau sepanjang semester-I 2020, realisasi investasi mengalami kenaikan 1,8 persen year on year (yoy).

Total nilai realisasi investasi sepanjang Januari-Juni 2020 mencapai sebesar Rp 402,6 triliun atau 49,3 persen dari target tahun ini. Dari target realisasi investasi tahun ini, BKPM menargetkan investasi bisa menyerap 1,2 juta tenaga kerja di luar sektor hulu migas dan industri keuangan. (jpg)