Perluasan Jaringan Listrik di Mentawai Terkendala Akses Jalan

5
GM PLN Wilayah Sumbar Bambang Dwiyanto. (IST)

Minimnya akses jalan ke sejumlah desa di Kabupaten Kepulauan Mentawai menjadi tantangan tersendiri bagi PT PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Sumatera Barat untuk dapat memperluas jaringan listrik di Bumi Sikerei itu.

“Tantangan dalam perluasan jaringan listrik ke pelosok di Mentawai, akses jalan belum ada sehingga untuk menarik jaringan terkendala,” ungkap GM PLN UIW Sumbar Bambang Dwiyanto, Selasa (10/3).

Mentawai, katanya, saat ini posisi rasio elektrifikasi (RE) masih rendah atau baru 66 persen. Justru itu, upaya untuk meningkatkan dan perluasan penting sehingga perlu sinergi dengan berbagai pihak. Pihaknya terus bersinergitas dengan pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten untuk berharap perluasan jalan trans Mentawai.

Sebab, tanpa akses jalan akan menjadi kendala dalam menarik jaringan hingga ke desa-desa di pelosok kabupaten tersebut.

Bambang menceritakan, ketika tim ekspedisi Mentawai Terang survei untuk melihat titik perluasan jaringan belum adanya jalan antar desa. Sementara masyarakat begitu antusias dan penuh pengharapan agar ada jaringan listrik di desa mereka.

Misalnya saat tim ekspedisi sampai di Desa Basapuat dan Sumanganya, warga minta jaringan listrik masuk ke sana. Namun, akses jalan belum ada dan mesti menunggu ada jalan agar bahan proyek listrik bisa masuk. “Membuka jalan tentu bukan domainnya PLN, tapi dinas pekerjaan umum. Hal ini mesti dapat perhatian semua,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, kalau pengembangan jaringan listrik di Mentawai bukan bicara untung karena beban produksi dengan geografis wilayah cukup tinggi atau rata-rata sampai 4.000/ Kwh. “Beban biaya tinggi faktor geografis dan perluasan jaringan listrik di Mentawai hanya demi Merah Putih, tak lagi soal untung rugi,” tandasnya.

Dalam kesempatan itu, Bambang juga menyinggung rasio elektrifikasi terendah selain Mentawai di Sumbar, yakni Pasaman Batat dan Solok Selatan. Hal itu juga faktor geografis dan akses jalan ke permukiman masyarakat ada yang dibalik bukit sehingga jadi kendala untuk menarik kabel jaringan.

“Pasaman Barat dan Solok Selatan belum bisa RE tinggi karena akses jalan kurang ke permukiman masyarakat dipinggiran,” pungkasnya. (*)