Bisa Turunkan Emisi Gas Rumah Kaca, Kemen ESDM akan Bangun PLTU USC

18
ilustrasi PLTU. (Kementerian ESDM)

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali menegaskan pentingnya pemasangan teknologi Ultra Super Critical (USC) pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berkapasitas besar.

Direktur Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Wanhar mengatakan, penerapan teknologi USC telah masuk dalam peta jalan (road map) penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dari sektor energi.

PLTU USC yang kini sedang dibangun. Antara lain PLTU Jawa 9 & 10, PLTU Jawa Tengah (Batang) dan PLTU Jawa 4 (Tanjung Jati B). Kesemuanya berstandar negara-negara maju dalam OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development). “Bukan sebagai standar, tapi semacam road map penggunaan PLTU di Indonesia,” ungkap Wanhar kepada wartawan di Jakarta.

Sebelumnya, Wanhar mengatakan, teknologi USC termasuk Clean Coal Technology (CCT), yang dapat menurunkan emisi GRK karena memiliki efisiensi sebesar 40 persen. USC juga menghasilkan intensitas emisi GRK lebih rendah dari PLTU lainnya, seperti PLTU Subcritical dan PLTU Supercritical.

“Arti dari efisiensi 40 persen itu, adalah kemampuan dari PLTU USC untuk mengkonversi sebanyak 40 persen dari setiap energi yang terkandung di dalam batu bara yang digunakan oleh PLTU USC menjadi energi listrik (kWh),” jelasnya.

Pada PLTU USC juga sudah dilengkapi dengan peralatan pengendalian pencemaran udara, sehingga emisi yang dihasilkan dapat memenuhi Baku Mutu Emisi. “Beberapa negara telah menerapkan teknologi ini, salah satunya adalah Jepang,” ujar Wanhar.

Berdasar data New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO), penggunaan teknologi USC pada PLTU mampu menghasilkan efisiensi sebesar 40 persen dan intensitas emisi CO2 sebesar ± 820 gram per kWh. Selain, itu konsumsi bahan bakar batu bara semakin kecil, sekitar 320-340 gram per kWh saja.

Diuraikan Wanhar, pembangunan PLTU Sistem Jawa, Madura dan Bali (Jamali) harus menggunakan Boiler teknologi USC. Namun, tidak untuk PLTU di luar Sistem Jamali, mengingat kapasitasnya masih kelas 50-300 MW. Bagi PLTU yang belum memasang teknologi USC, masih boleh menggunakan teknologi satu tingkat di bawah USC, yaitu Super Critical. “Atau PLTU Mulut Tambang untuk daerah yang memiliki tambang Batubara rendah kalori,” sambungnya.

Baca Juga:  Indonesia Targetkan Jadi Negara Maju, Mendag: ASEAN Harus Kompak

PLTU Mulut Tambang merupakan pembangkit listrik tenaga batu bara dengan skema Mine-to-Mouth, dengan lokasi pembangkit yang terletak paralel terhadap lokasi tambang batu bara. Pembangkit listrik ini dapat dilengkapi unit pengering atau dryer untuk meningkatkan nilai kalori dan mengurangi kandungan air.

Khusus di Indonesia, Wanhar mengatakan, PLTU USC yang sudah beroperasi adalah PLTU Cilacap Expansi 2 dan PLTU Jawa 7 yang menggunakan standar Tiongkok. Kementerian ESDM mencatat, terdapat sembilan lokasi PLTU batu bara yang akan menggunakan teknologi USC, dengan total kapasitas sebesar 10.130 MW. “Dengan dibangunnya PLTU USC dengan kapasitas total 10.130 MW tersebut, berpotensi mampu menurunkan emisi GRK sebesar 8,9 juta ton CO2,” kata Wanhar.

Segera Diterapkan
Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan menyambut baik pemakaian teknologi USC. Dia berharap teknologi USC dapat segera diterapkan di semua PLTU yang ada di Indonesia.

Menurut Mamit, teknologi USC akan sangat baik apabila diterapkan dalam jangka panjang. Karena telah terbukti efisiensinya dalam mengurangi dampak lingkungan, utamanya polusi udara.

Ia mengatakan, Indonesia telah berkomitmen menurunkan emisi sebagaimana tertuang dalam Dokumen Nationally Determined Contribution (NDC), yang merupakan tindak lanjut Paris Agreement dan disahkan melalui Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016. NDC menyampaikan bahwa target penurunan emisi sebesar 29 persen dengan upaya sendiri.

“Mudah-mudahan ini bisa diterapkan di semua PLTU ya. Karena ini terkait Pemerintah yang berkomitmen mengurangi emisi Gas Rumah Kaca, terutama yang dihasilkan oleh PLTU,” kata dia.

Dari sisi pembangkit teknologi, penerapan USC cukup menguntungkan. Selain bahan baku mudah dicari, boiler pada teknologi yang dimiliki USC juga dapat menghasilkan uap lebih panas. “Jadi secara teknis ini sangat membantu. Karena penggunaan batu bara bisa sedikit, tetapi output yang dihasilkan jauh lebih besar dibandingkan tidak menggunakan teknologi ini,” pungkasnya. (ren/jpg)