Target Pertumbuhan Ekonomi Meleset

Ilustrasi grafik penurunan pertumbuhan ekonomi. (Foto: business-review)

Stimulus yang diberikan pemerintah belum mampu mengobati ekonomi dari dampak pandemi. Terlihat dari pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama 2020, anjlok menjadi 2,97 persen. Jumlah ini meleset dari target di kisaran 4,5-4,6 persen.

Presiden Jokowi memerintahkan para menterinya segera mencari jalan dan meracik stimulus yang lebih jitu.

“Kita harus hati-hati. Saya minta menteri bidang ekonomi perhatikan angka itu secara detail. Mana saja sektor dan sub sektor yang alami kontraksi terdalam, dicarikan stimulusnya dan harus kita buat dan tepat sasaran. Rancang juga skenario pemulihan,” kata Jokowi di Jakarta.

Anjloknya pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan pertama juga besar dipengaruhi oleh daya beli masyarakat. Dari sisi permintaan, Jokowi mengatakan, telah terjadi penurunan signifikan. Itu tercermin dari laju inflasi pada April yang hanya 0,08 persen.

Angka tersebut, merupakan yang terendah dibandingkan Ramadhan sebelum-sebelumnya. Tak hanya dari sisi inflasi, Jokowi mengatakan, masalah sama juga bisa dilihat dari tingkat konsumsi rumah tangga.

“Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga sebesar 2,84 persen dan pengeluaran pemerintah 3,74 persen menjadi lokomotif pertumbuhan. Namun tolong dilihat konsumsi untuk Lembaga Non-profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) yang mengalami kontraksi minus 4,91 persen. Ini benar, dilihat secara detail LNPRT ini,” katanya.

Presiden mengatakan, agar masalah demand atau permintaan tersebut bisa diatasi, ia memerintahkan kepada jajarannya agar bantuan sosial yang digelontorkan terkait wabah virus korona, baik pusat, daerah, dana desa, program padat karya tunai segera dialokasikan sesegera mungkin.

“Ini harus dipastikan sudah jalan di lapangan pekan ini. Bansos harus sudah diterima masyarakat, program padat karya juga sudah jalan di lapangan,”pintanya.

Merespons perintah ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemerintah tengah meramu stimulus kebijakan ekonomi kepada pekerja informal hingga pariwisata.

Ia mengusulkan dua aspek untuk para pekerja sektor informal yaitu mendapat bantuan dan dapat masuk dalam inklusi keuangan.

“Bantuan itu rencananya memiliki besaran yang sama seperti bantuan kepada usaha ultra mikro (UMi) yakni antara Rp 5 juta sampai Rp 12 juta. Presiden serta Wakil Presiden sepertinya menyetujui hanya operasionalnya nanti harus kita pikirkan tantangannya,” kata Ani, sapaan akrabnya.

Namun menurutnya, ada tantangan dalam menyalurkan bantuan kepada pekerja sektor informal, seperti terkait data pekerja informal yang hingga saat ini belum memadai.

“Ini memang hubungannya dengan data. Kita sulit petakan mereka. Karena sektor informal ini bergerak di mana-mana,” katanya.

Ani juga membuka kemungkinan pemberian stimulus kepada industri pariwisata berupa promosi dan kampanye apabila memang restriksi mobilisasi sudah melonggar.

“Jadi kalau terjadi pemulihan dan dibutuhkan antisipasi kampanye pariwisata, maka stimulus itu bisa digunakan,” tutur Ani.

Stimulus tersebut, sebenarnya sudah dialokasikan oleh pemerintah melalui paket stimulus pertama pada akhir Januari. Selain insentif untuk kampanye pariwisata, juga dalam bentuk pemberian diskon bagi tiket pesawat.

Pemerintah saat ini, menyimpan dana tersebut untuk bisa dialokasikan kembali ketika pandemi sudah mulai membaik dan dibutuhkan dorongan biaya dalam memperbaiki industri perjalanan.

“Anggaran paket stimulus untuk sektor pariwisata, termasuk travel agent, belum dikeluarkan. Kita berikan di kondisi yang tepat,” katanya.

Sebelumnya, untuk mendukung dunia usaha, pemerintah telah memberikan sejumlah stimulus berupa insentif perpajakan. Baik melalui Pajak Penghasilan (PPh) 21 yang ditanggung pemerintah (DTP), PPh 23 hingga restitusi PPN dipercepat.

Untuk besar anggaran, pemerintah sudah tiga kali memberikan stimulus ekonomi, masingmasing Rp 8,5 triliun, Rp 22,5 triliun, dan Rp 405,1 triliun.

“Respons pemerintah mengeluarkan berbagai stimulus ini tentunya berevolusi sesuai dengan kondisi riil yang dihadapi,” ujar Ani. (nov/jpg)