Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III Diproyeksi -0,49 Persen

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (jawapos.com)

Pertumbuhan ekonomi tahun ini diramal masih akan terkontraksi. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memproyeksi pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini akan mencapai -0,49 persen.

”Diharapkan di kuartal ketiga bisa membaik dengan prediksi minus 2, minus 1, atau bahkan kita berharap bisa masuk positif,” ujarnya di Rapat Kerja dan Konsultasi Nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia (Rakerkonas Apindo) secara virtual di Jakarta, kemarin (12/8).

Sementara, Airlangga memperkirakan perekonomian Indonesia pada kuartal III 2020 mencapai -1 persen. Kemudian, kuartal IV 2020 diperkirakan membaik menjadi 1,38 persen. Sehingga, pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2020 diperkirakan -0,49 persen.

Ketum Partai Golkar itu menyebut, pemerintah akan menggenjot belanja kementerian dan lembaga (K/L) pada triwulan III 2020. Hal itu diharapkan dapat membantu pemulihan ekonomi nasional yang pada triwulan II kemarin masih mengalami pertumbuhan minus.

Selain menggiatkan belanja barang dan modal, pemerintah pun akan memberikan stimulan dan subsidi kepada UMKM, korporasi maupun para pekerja. Dia memerinci, dari segi pengeluaran, pertumbuhan konsumsi rumah tangga mengalami kontraksi sebesar -5,51 persen (yoy), dan konsumsi pemerintah sebesar -6,9 persen (yoy).

Sementara, dari sisi sektoral, transportasi dan pergudangan menjadi sektor dengan kontraksi terdalam sebesar -30,84 persen, disusul akomodasi dan makanan-minuman (mamin) sebesar -22,02 persen. Namun, sektor pertanian masih mampu tumbuh positif sebesar 2,19 persen, begitu pula sektor informasi dan komunikasi yang tumbuh tinggi sebesar 10,88 persen.

Baca Juga:  Total Hadiah Rp 350 Juta, Gojek Gelar Lomba Karya Jurnalistik

”Bagi sektor yang terdampak cukup dalam (misal: akomodasi-mamin serta transportasi laut dan udara), pemerintah akan mendorong kebijakan dan stimulan tersendiri untuk sektor ini. Akan ada skema yang dibahas khusus untuk perhotelan dan restoran, karena spending terbanyaknya dari (konsumen) dalam negeri,” imbuhnya.

Airlangga juga mengungkapkan bahwa hampir semua lembaga internasional, termasuk lembaga rating, memprediksi ekonomi Indonesia masih berada di jalur positif ke depannya. Pemerintah juga mengajak seluruh elemen termasuk dari pengusaha untuk menjaga supply and demand side di perekonomian.

Padahal, lanjut dia, sebagian besar negara di dunia menghadapi ancaman resesi. Dampak Covid-19 terhadap ekonomi Indonesia diyakini relatif lebih baik dibandingkan negara lain.
Data Kemenko Perekonomian mencatat, hampir semua negara mulai dari berkembang hingga maju bakal menghadapi resesi sepanjang 2020 (full year). Perancis diprediksi mengalami kontraksi ekonomi paling berat, yaitu -10 persen.

Negara lainnya yakni Argentina -9,65 persen, Inggris -9,53 persen, Meksiko -9,27 persen, Peru -8,52 persen, Afrika Selatan -7,78 persen, dan Uni Eropa – 7,94 persen, Singapura -5,63 persen, Amerika Serikat -5,18 persen, dan Malaysia -3,24 persen.

Selain itu, dia menyebut RUU Ciptaker sudah dibahas oleh DPR. Progress pembahasan itu saat ini mencapai 75 persen. ”RUU Ciptaker juga sudah dibahas 75 persen di DPR, salah satunya untuk mengurangi obesitas regulasi,” tambahnya. (dee/jpg)