Lindungi Data Pribadi, Download Aplikasi yang Legal

96

Penggunaan internet saat ini khususnya selama pandemi Covid-19 meningkat tajam. Ini disebabkan karena hampir sebagian besar orang beraktivitas dari rumah. Akibatnya, penggunaan perangkat digital sangat penting untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sehari-hari. Lewat gadget, masyarakat dapat dengan mudah memesan makanan ataupun menggunakan layanan antar penumpang.

Namun di tengah masifnya aktivitas digital masyarakat tersebut, sisi keamanan terabaikan. Penggunaan aplikasi di mobile ini menjadi bagian dari risiko yang paling besar terancam keamanannya.

Demikian disampaikan Pakar IT dan Ahli Keamanan Digital dari Swiss German University, Charles Lim, saat konferensi pers virtual yang diadakan Gojek, Selasa (13/10/2020) siang.

Charles mengemukakan, setiap hari rata-rata orang menggunakan waktunya lebih empat jam di perangkat mobile. Kadang tanpa disadari katanya, orang tanpa sengaja mendownload aplikasi-aplikasi yang tidak jelas sumbernya. Aplikasi yang datang dari tempat yang tidak aman. Aplikasi yang justru membawa virus atau malware terhadap data pribadi kita dan juga perangkat mobile kita.

“Kita juga tidak tau apakah aplikasi itu legal atau ilegal, dan ternyata memiliki virus atau malware,” katanya.

Ia menyarankan agar mendownload aplikasi dari sumber terpercaya seperti contoh Playstore dan App store. Dari sisi penggunanya, menurut Charles, pengguna harus punya kompetensi yang oke. Tidak asal mendownload aplikasi, tapi harus punya pemahaman yang baik dulu terhadap aplikasi tersebut.

SPV Corporate Affairs Gojek, Rubi Purnomo, mengatakan mitra driver di Gojek jumlahnya saat ini hampir 2 juta orang di seluruh Asia Tenggara. Mereka adalah pengguna layanan digital.

Layanan berbasis digital katanya, semakin diandalkan masyarakat di tengah pandemi. Penggunaan seluler semakin meningkat karena masyarakat lebih banyak berada di rumah. “Layanan Gojek menjadi salah satu pilihan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selama di rumah selama masa pandemi,” jelasnya.

Baca Juga:  Program JBP, PKT Beri Reward Distributor dan Kios di Kaltim Kaltara

Berdasarkan survei, katanya, penggunaan perangkat seluler mengalami akselerrasi 2-3 tahun lebih cepat selama pandemi. Masyarakat indonesia menghabiskan 6 jam sehari menggunakan aplikasi pada mobile-nya.

Ia memaparkan, untuk memberikan keamanan bagi seluruh ekosistem di Gojek, Gojek telah meluncurkan gojek sudah meluncurkan inisiatif kemanan digital dengan tagline #AmanBersamaGojek. “Ada tiga pilar inisiatif #AmanBersamaGojek yakni edukasi, teknologi, dan proteksi,” ujarnya.

Gojek katanya juga, sudah memiliki satu teknologi keamanan yang disebut Gojek Shield untuk keamanan layanannya yang berbasis kecerdasan buatan. “Gojek Shield ini juga terhubung dengan fitur unit darurat yang siaga 24 jam,” sebutnya.

Deteksi Order Fiktif

Sementara itu, Head of Driver Operation Trust & Safety Gojek, Kelvin Timotius, mengatakan, Gojek Shield merupakan aplikasi yang dibuat untuk memberikan keamanan bagi mitra driver. “Bagaimana kami bisa memberikan keamanan bagi mitra untuk menjalankan pekerjaannya,” ujarnya.

Aplikasi keamanan itu seperti verifikasi muka, penyamaran nomor telepon, pencegahan pembajakan, intervensi chat, geofencing, kecerdasan buatan mendeteksi aplikasi ilegal dan order fiktif.

“Driver juga harus dilindungi, karena mereka juga rentan mendapatkan order fiktif. Karena ini akan merugikan driver sendiri. Aplikasi ini dapat melacak atau mengidektifikasi order fiktif,” tegasnya.

Ia menyebut, berdasarkan survei yang dilakukan Gojek setiap bulannya sejak 4 bulan terakhir ini, mitra driver merasa puas dengan aplikasi keamanan yang telah dihadirkan Gojek.

Gojek katanya sejak awal berkomitmen membantu agar mitra driver dapat bekerja dengan aman. “Selain melindungi mitra juga ingin melindungi semua ekosistem Gojek seperti merchant dan pelanggan agar aman dan terhindar dari kejahatan siber,” pungkasnya. (bis)