Angka Pengangguran Bertambah 4,22 Juta

Ilustrasi pencari kerja. Dampak dari Covid-19, jumlah pengangguran pada 2020 diprediksi meningkat hingga 4,22 juta orang. (F Dalil Harahap/Batam Pos)

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional/Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN), Suharso Monoarfa menyebut, beban perekonomian Indonesia akibat wabah virus korona sangat besar. Tidak hanya perekonomian yang anjlok, jumlah pengangguran akibat pemutusan hubungan kerja di dalam negeri juga meningkat drastis.

Monoarfa memprediksi pertumbuhan ekonomi tahun 2020 di bawah 2,3 persen. Hal tersebut, mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mengumumkan pertumbuhan pertumbuhan ekonomi RI di kuartal pertama sebesar 2,97 persen.

“Saya pribadi mencatat pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa di bawah 2,3 persen. Walau kecil tapi masih positif,” ujar Suharso di Rapat Koordinasi Pembangunan Pusat dengan tema ‘Mempercepat Pemulihan Ekonomi dan Reformasi Sosial’ yang digelar secara virtual, kemarin.

Menurut dia, kontraksi lebih dalam akan terjadi pada kuartal kedua 2020. Apalagi, jika langkah-langkah antisipasi yang dilakukan pemerintah belum banyak menggerakkan perekonomian.

“Penurunan bisa makin dalam, tergantung bagaimana pemulihan ekonomi kita. Saya prediksi pertumbuhan ekonomi bahkan bisa 1 persen. Ini Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan, Askolani akan sakit kepala karena pendapatan negara akan tergerus,” kata Monoarfa.

Selain pertumbuhan ekonomi, Monoarfa juga me-warning akan adanya lonjakan jumlah pengangguran tahun ini. Bappenas mencatat, akan ada tambahan pengangguran sebanyak 4,22 juta orang dibandingkan tahun lalu.

Sementara tahun depan, penciptaan kesempatan kerja diperkirakan hanya 2,3 juta hingga 2,8 juta orang. “Pengangguran terus bertambah karena beberapa perusahaan telah melakukan PHK atau merumahkan karyawannya. Hal itu dilakukan karena keuangan perusahaan terganggu akibat pandemi, “ ujarnya.

Dengan kenaikan jumlah pengangguran ini, Suharso menyatakan outlook Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada 2020 sebesar 7,8 persen hingga 8,5 persen. Angkanya lebih tinggi dibandingkan target yang ada di APBN 2020 4,8 persen hingga 5 persen, atau realisasi 2019 kemarin sebesar 5,28 persen.

“Sementara di 2021, kita memproyeksi tingkat pengangguran terbuka di kisaran 7,5 persen sampai 8,2 persen. Ini artinya ada potensi membaik meski tipis,” kata dia.

Walaupun begitu, Monoarfa mengaku, tetap khawatir bahwa kemiskinan akan sulit ditekan pada tahun depan. Masalahnya, tingkat pengangguran masih di sekitar 7 persen hingga 8 persen. Bappenas memproyeksikan outlook tingkat kemiskinan pada 2020 sebesar 9,7 persen sampai 10,2 persen.

Lalu, ditargetkan kemiskinan turun di level 9,2 persen sampai 9,7 persen tahun depan. “Kami berharap angkanya bisa dikoreksi ke 9 persen. kalau sampai menjadi dua digit itu benar-benar suatu pekerjaan yang berat,” pungkasnya.

Diketahui, tingkat kemiskinan pada 2019 lalu berada di level 9,22 persen. Sementara, pemerintah menargetkan angka kemiskinan dalam APBN 2020 di level 8,5 persen-9 persen.

Sementara Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy mengatakan, jumlah penduduk miskin yang bertambah signifikan di masa pandemi awalnya bukanlah penduduk miskin.

“Awalnya mereka tidak miskin, tapi terimbas corona akhirnya kehilangan pekerjaan dan jatuh ke jurang kemiskinan. Untuk mencegahnya, cara paling tepat dengan membendung PHK, makanya negara mengeluarkan beberapa relaksasi agar meringankan beban perusahaan, agar menghindari PHK,” kata Muhadjir. (nov/jpg)