PPA Tunggu Arahan Menteri BUMN

60
ilustrasi. (net)

Rencana pemerintah melikuidasi 14 Badan Usaha Milik Negara (BUMN), layak didukung. Sebab, ada sejumlah perusahaan pelat merah memang sudah sulit bangkit. Dan, kini hanya menjadi beban negara saja.

Sekretaris Perusahaan PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) Persero Agus Widjaja belum mau berkomentar banyak tentang rencana Kementerian BUMN mau melikuidasi 14 perusahaan pelat merah. “Dari PPA sendiri, sampai sekarang kami belum ada arahan dari pemegang saham (Kementerian BUMN). Belum ada pembicaraan apapun,” ungkap Agus.

Seperti diketahui, Menteri BUMN Erick Thohir belum lama ini menyampaikan akan melikuidasi 14 perusahaan pelat merah. Namun, Erick belum menyebutkan apa saja BUMN yang bakal dibubarkan. Menurutnya, likuidasi akan dilaksanakan di bawah wewenang PT PPA. Karena, Kementerian BUMN tak memiliki hak secara langsung melakukan likuidasi.

Peneliti BUMN dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abra El Talattov mengungkapkan, saat ini ada sekitar 35 BUMN di bawah PPA. Namun, dia tidak tahu apakah 14 BUMN yang akan dilikuidasi termasuk ke dalam 35 itu atau tidak.
“Saya melihat, selama ini BUMN yang ada di bawah PPA memang sedang sakit dan perlu disehatkan,” ujar Abra.

Abra meminta, PPA menyampaikan progres upaya penyehatan terhadap BUMN yang sedang sakit. Dengan demikian, diharapkannya, publik bisa ikut menilai, apakah BUMN tersebut masih memiliki peluang diselamatkan atau tidak. “Likuidasi tentu akan lebih baik jika ada justifikasi dan persetujuan DPR (Dewan Perwakilan Rakyat). Dan, publik juga tahu itu secara transparan,” tegasnya.

Baca Juga:  Bertemu Lanyalla, Kripik Singkong Lumba-Lumba Curhat soal Pemasaran

Sementara, Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah menyatakan mendukung rencana Menteri BUMN Erick Thohir melikuidasi 14 perusahaan negara.

Karena, menurutnya, sudah banyak perusahaan pelat merah yang memang harus disuntik mati karena sulit bangkit. “Seingat saya dulu kan sempat dibahas, seperti PT Kertas Leces misalnya. Tapi progres-nya belum tahu,” imbuh dosen di Perbanas Institute itu.

Piter meyakini, pembubaran belasan BUMN itu akan mengurangi beban negara. Ia mencontohkan PT Merpati Nusantara Airlines (Persero). Kendati sudah tidak beroperasi lagi, tapi sampai saat ini masih ada karyawannya. “Masih harus bayar gaji, kantor pun masih ada. Pengeluaran ada, tapi pemasukan tidak ada. Jadinya kan beban,” ujarnya.

Bukan hanya soal finansial, lanjut Fiter, pembubaran belasan BUMN akan memudahkan pemerintah dalam mengawasi kinerja perusahaan pelat merah. Sebab, likuidasi otomatis membuat jumlah BUMN semakin sedikit. Sebelumnya, Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga sempat menyinggung rencana likuidasi.

Disebutkannya, ke depan akan ada BUMN yang akan dipertahankan dan dikembangkan sebanyak 41 BUMN. Kemudian, 34 perusahaan dimerger. Lalu, 19 perusahaan dikelola PPA.
Serta, 14 perusahaan akan dilikuidasi.

“Tujuan itu semua mau perluasan, supaya bisa melikuidasi, bahkan merger. Perusahaan yang masuk dalam kategori dead weight, artinya tidak bisa lagi diapa-apain,” terangnya.
Ia menyebut, beberapa BUMN yang masuk dalam kategori dead weight yakni PT Merpati Nusantara Airlines, PT Iglas (Persero) dan PT Kertas Kraft Aceh (Persero). (dwi/jpg)