BUMN Diminta Kreatif Cari Pendanaan

Kondisi perekonomian yang cukup sulit sekarang ini, tak menghalangi sejumlah BUMN menerbitkan surat utang global alias global bond. Optimisme investor dinilai masih cukup baik terhadap kemampuan Indonesia mengelola keuangan secara pruden.

Empat BUMN ini adalah PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum), PT Hutama Karya, Bank Mandiri dan Bank Negara Indonesia (BNI). Inalum menerbitkan instrumen obligasi dalam dolar AS senilai 2,5 miliar dolar AS atau setara Rp 37,5 triliun.

Senior Vice President (SVP) Corporate Secretary Inalum Rendi Witular menjelaskan dalam penerbitan surat utang ini, Inalum menawarkan tiga tenor investasi yaitu 5 tahun, 10 tahun dan 30 tahun.

“Terkait kuponnya, untuk 5 tahun ditawarkan dengan kupon 4,75 persen, 10 tahun 5,45 persen, dan yang 30 tahun ditawarkan dengan kupon 5,8 persen,” katanya di Jakarta, kemarin.

Inalum mendapat rating Baa2 dari Moody’s dan BBB- dari Fitch. Menurutnya, penerbitan surat utang ini akan digunakan untuk refinancing surat utang yang jatuh tempo sebesar 1 miliar dolar AS. Dan sisanya untuk pembiayaan berbagai proyek strategis yang akan digarap perusahaan.

Sebelumnya, PT Hutama Karya (Persero) atau HK pada Rabu (4/5), juga sukses menerbitkan global bond sebesar 600 juta dolar AS dengan kupon yang ditawarkan sebesar 3,75 persen.

Tak mau kalah, Bank Mandiri menerbitkan instrumen global bond pada Selasa (5/5) sebesar 500 juta dolar AS. Dalam proses penawarannya, obligasi Bank Mandiri ini mencatatkan kelebihan permintaan (oversubscribed) hampir 5 kali, yakni dari size yang ditawarkan sebesar 500 juta dolar AS.

Namun total permintaan investor mencapai 2,4 miliar dolar AS setara Rp 35,8 triliun. Sementara kupon yang ditawarkan sebesar 4,75 persen, lebih tinggi dari global bond yang ditawarkan pemerintah pada awal April 2020 sebesar 3,9 persen. Sedangkan jangka waktu kontrak surat utang ini hingga 2025 atau memiliki tenor selama lima tahun.

Direktur Treasury, International Banking, and Special Asset Management Bank Mandiri Darmawan Junaidi menjelaskan, penerbitan global bond tersebut dalam rangka mendukung bisnis bank. Bukan karena ada masalah likuiditas. Tak cuma itu, upaya ini sebagai langkah perbankan menyiapkan cadangan lebih besar dalam kondisi Covid-19 yang tak pasti terhadap ekonomi.

Begitu pula dengan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk yang telah menerbitkan surat utang jangka menengah alias EMTN berdenominasi mata uang asing, dengan nilai pokok sebanyak-banyaknya 2 miliar dolar AS (Rp 30 triliun) di Singapore Stock Exchange (SGX-ST).

Corporate Secretary BNI Meiliana menyebut, pendaftaran EMTN dilakukan pada 6 Mei 2020. “Pembentukan Program EMTN dan penerbitan surat utang di dalamnya akan berdampak positif bagi BBNI, karena ditujukan antara lain untuk ekspansi bisnis dan pembiayaan kembali utang yang telah ada,” jelasnya.

Menteri BUMN Erick Thohir mengapresiasi inovasi pendanaan seperti global bond yang dilakukan perusahaan pelat merah tersebut. Ia pun mendorong kepada BUMN lainnya untuk terus kreatif dalam mencari pendanaan.

Menurutnya, penerbitan obligasi dalam dolar AS ini juga patut untuk ditiru, sehingga tidak hanya mengandalkan kucuran dana dari perbankan.

“Dengan ini terbukti, bahwa dunia usaha internasional masih mempercayai perusahaan BUMN yang sekarang terus berbenah demi mengingkatkan daya saingnya, serta semakin transparan,” ujarnya, melalui siaran pers, kemarin.

Erick bilang, dengan diterbitkannya global bond oleh Inalum, maka melengkapi penerbitan surat utang serupa yang sudah dilakukan Hutama Karya senilai 600 juta dolar AS (setara Rp 8,9 triliun) dan Bank Mandiri senilai 500 juta dolar AS (Rp 7,4 trilin).

Sehingga, dalam dua pekan terakhir, global bond yang sudah diterbitkan BUMN mencapai 3,6 miliar dolar AS atau setara Rp 54 triliun. “Hal ini juga menunjukkan, Indonesia menjadi salah satu tujuan investasi menarik di tengah kondisi pasar global yang tidak pasti,” tuturnya. (ima/dwi/jpg)