Tagihan Macet PDAM Padang Capai 30 Persen

29
PDAM Kota Padang. (Foto: IST)

Hampir semua sektor terdampak wabah Covid-19. Tak terkecuali Perumda Air Minum Kota Padang. Pembayaran tagihan pelanggan macet mencapai 30 persen selama pandemic Covid-19 mewabah di Padang.

“Kita hanya bisa menagih ke pelanggan sekitar 70-80 persen saja. Sekitar 30 persen terjadi penundaan,” ujar Dirut Perumda Air Minum Kota Padang, Hendra Pebrizal. Nominal pendapatan dari tagihan air yang macet tersebut sekitar Rp2 miliar.

Saat pandemi sekarang, lanjutnya, beberapa PDAM dituntut untuk memberikan air gratis baik kepada pelanggan maupun masyarakat umum. Sementara pembayaran dari pelanggan jauh menurun. Tertunda sejak bulan April-Mei kisaran 25-30 persen. Selain itu ada juga memberikan subsidi kepada pelanggan tertentu nilainya hampir Rp 1 miliar selama 3 bulan, April, Mei dan Juni 2020.

“Tapi Alhamdulillan Perumda Padang ada pembagian laba yang tidak disetorkan ke pemerintah daerah. Artinya, yang mensubsidi adalah pemerintah daerah mlalui pembagian laba yang tidak kita setorkan,” ujar Hendra Pebrizal.

Hendra menyebut, ada laba sebesar Rp 720 juta yang harus disetorkan ke pemerintah daerah tapi digunakan untuk memberikan subsidi kepada pelanggan golongan rendah. Seperti masjid/mushala, kran umum, rumah semipermanen dan nonpermanen yang masuk golongan 2A dan 2B.

Semasa pandemi Covid-19, banyak proyek fisik dan kegiatan yang tertunda. Perumda Air Minum Kota Padang juga mengalami hal itu. Menurut Hendra, salah satu program yang tertunda adalah hibah MBR. Tahun ini Padang dapat 3000 MBR. Begitu juga PDAM di daerah.Tertunda karena belum ada petunjuk tekni pelaksanaannya.

“Namun Pemko Padang komit dengan hal itu. Kita masih ada anggaran di APBD sekitar Rp 10 miliar. Direalisasikan bulan Desember saja. Karena pemerintah daerah juga sedang butuh dana dalam penangan Covid,” jelasnya.

Selain itu, yang juga terkendala adalah pekerjaan pemasangan jaringan untuk program tersebut. Namun yang lainnya masih tetap berjalan normal. Kemudian juga ada pelaksanaan diklat yang tertunda. Karena sekarang belum diizinkan untuk berkumpul yang dapat menciptakan kerumunan.

Sementara pekerjaan intake yang tertunda adalah penambahan intake berkapasitas 50 liter per detik. Apabila keadan sudah normal pengerjaannya dimulai lagi.

“Kita juga akan berkoordinasi dengan pemerintah pusat melalui dinas PUPR. Harus bertemu langsung dan berdiskusi tentang itu dan melakukan presentasi. Kita berharap mudah-mudahan Covid-19 cepat selesai dan berharap 1 Juli itu sudah normal bukan new normal lagi. Sehingga roda pemerintah kembali berjalan juga BUMN BUMD,” harapnya.

Untungnya, selama wabah Covid-19, Perumda Air Minum Kota Padang tetap beroperasional 24 jam. Bila ada masalah diselesaikan dengan cepat.

Sementara, memasuki new normal, Hendra menyebut Perumda sudah melaksanakan protokol kesehatan di kantor-kantor dan tempat pelayanan sejak disarankan oleh pemerintah daerah.

Seperti menyediakan tempat cuci tangan di kantor-kantor pusat dan cabang, mengukur suhu badan pengunjung dan di tempat pelayanan ada kaca pembatas antara petugas dan pelanggan.

Namun saat pandemi pihaknya mengimbau masyarakat melakukan pembayaran tagihan secara online saja agar tidak bertemu dengan orang banyak dan berkumpul.

PDAM Padang sudah memberikan kemudahan dalam pembayaran tagihan. Bisa lewat shopee linkaja, ATM, m-banking, lewat bank mandiri dan bank lainnya. Rata-rata semua perbankan sudah bisa bayar tagihan air,” ujarnya. (eni)