Tingkat Hunian Hotel Naik 15 Persen

49
Ilustrasi hotel. (Foto: IST)

Sejak diberlakukannya penerapan masa transisi menuju new normal, sektor perhotelan di Kota Padang mulai menggeliat. Ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan hunian hotel meski hanya di angka 15 persen.

General Manager Grand Zuri Hotel Padang, Surni Yanti kepada Padang Ekspres, Minggu (14/6) mengakui ada sedikit peningkatan jumlah pengunjung di Grand Zuri Hotel Padang.
Peningkatan tersebut sekitar 15 persen dibandingkan dengan waktu penerapan PSBB di Sumbar. “Memang sejak pandemi Covid-19 ini, hunian hotel itu hanya 10 persen, namun sekarang terjadi peningkatan sebesar 15 persen,” ujarnya.

Surni mengungkapkan, pengunjung yang menginap di Grand Zuri Hotel Padang saat ini masih didominasi orang lokal Sumbar.  “Jika tidak ada pandemi Covid-19, saat ini merupakan government season atau kegiatan yang berhubungan dengan pemerintahan. Namun, karena ada Covid-19, maka kegiatan itu batal semua,” ungkapnya.

Lebih lanjut dikatakan, untuk memberikan keamanan dan kenyamanan bagi pengunjung, Grand Zuri Hotel Padang menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Protokol kesehatan dimulai dari penyedian fasilitas kebersihan dan kesehatan seperti tempat cuci tangan di depan pintu masuk dan pengecekan suhu tubuh.

“Protokol kesehatan juga kami terapkan pada seluruh karyawan dan staf kami seperti seluruh karyawan menggunakan masker, face shield, dan menyediakan masker kepada para pengunjung yang tidak membawa masker,” jelasnya.

Seluruh karyawan juga sudah melakukan tes Polymerase Chain Reaction (PCR) dan di awal-awal pandemi merebak, karyawan juga melakukan suntik vaksin flu. “Jadi segala aturan dan poin-poin yang terdapat dalam protokol kesehatan telah kami penuhi. Ya, mudah-mudahan pandemi Covid-19 cepat menurun sehingga industri perhotelan kembali menggeliat lagi,” ujarnya.

Terpisah, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Sumbar, Maulana Yusran mengatakan, memang sejak mulai diterapkannya new normal, terjadi peningkatan jumlah penghuni hotel di Sumbar, meskipun peningkatannya masih sedikit.
“Kira-kira baru single digit. Jadi kalau dikatakan sudah menggeliat, saya rasa masih belum dan masih membutuhkan waktu,” jelasnya.

Ia menambahkan, seharusnya saat ini segmen pasar dari industri perhotelan di Provinsi Sumbar tersebut adalah government market. Di mana kegiatan atau pengunjung didominasi oleh orang-orang berhubungan di bidang pemerintahan.

Lebih jauh dikatakan, menggeliatnya sektor perhotelan di Sumbar ini ditentukan dari jumlah kunjungan orang ke hotel-hotel. “Kita tau sendiri untuk pergi ke suatu tempat menggunakan pesawat terbang sangat susah seperti harus mengikuti rapid test, atau tes swab dan ada surat rekomendasi,” ungkapnya.

Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat menahan diri untuk berpergian sampai kondisi dirasa cukup memungkinkan. “Jadi untuk melihat jumlah penghuni hotel di Sumbar itu sangat mudah, lihat saja berapa jumlah penerbangan yang datang melalui BIM, maka bisa dihitung siapa yang akan menginap. Contohnya, jika penerbangan itu masih satu atau dua kali, ya peningkatan jumlah penghuni hotel tidak akan ada perubahan,” tuturnya.

Lebih lanjut Maulana mengatakan, untuk saat ini industri perhotelan di Provinsi Sumbar bergantung terhadap orang yang masuk ke Sumbar melalui jalur darat seperti dari Pekanbaru, Jambi dan Provinsi tetangga lainnya. (a)