Harga Gas Industri USD6 per MMBTU

Peraturan Menteri (Permen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 8 Tahun 2020 sudah diteken oleh Menteri ESDM Arifin Tasrif. Dengan adanya regulasi ini, maka jenis-jenis industri tertentu, termasuk PLN bisa menikmati gas dengan harga USD 6 per MMBTU. Tujuh golongan industri yang berhak mencicip gas murah ini. Yakni pupuk, petrokimia, oleochemical, baja, keramik, kaca, dan sarung tangan karet. Itu sebagaimana diatur Pasal 3 Ayat (1).

Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi mengungkapkan, beleid itu merupakan hasil koordinasi dengan berbagai pihak. Menteri ESDM juga telah mendapatkan masukan dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Kementerian Perindustrian (Kemenperin).

“Dalam Permen ini juga diatur kriteria industri yang mendapat gas tertentu. Industri yang selama ini mendapat harga tinggi diturunkan menuju atau mendekati USD 6 tergantung seberapa besar kemampuan penyesuaian harga hulu dan biaya transportasinya,” ujar Agung, Rabu (15/4).

Akan tetapi, bagi industri yang sudah mendapat harga gas di bawah USD 6 per MMBTU, harga gasnya tidak harus naik. Dengan keluarnya Permen ini, penerimaan negara berpotensi tergerus.

Selain soal harga gas, Permen ESDM 8/2020 juga mengatur kewajiban badan usaha penyaluran gas dalam mengangkut gas tertentu. Demikian juga ada kewajiban bagi para industri. “Para industri pengguna gas menggunakan gas tertentu ini secara bertanggung jawab dan wajib berkontribusi kepada negara dengan patuh pada peraturan termasuk membayar pajak,” pungkas Agung.

Terpisah, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyambut baik pemberlakuan harga gas industri di level 6 dolar AS per juta MMBTU. Hal ini dapat mendongkrak daya saing dan produktivitas industri. “Harga gas untuk industri merupakan salah satu aspek penting dalam struktur biaya produksi dan memberikan faktor daya saing yang signifikan,” kata di Jakarta.

Agus optimistis, penurunan harga gas industri tersebut bakal mengatrol produktivitas dan utilitas sektor manufaktur di dalam negeri. Hal ini sesuai tekad pemerintah dalam upaya memacu kinerja sektor industri pengolahan nonmigas, dengan menjaga ketersediaan bahan baku dan energi, termasuk mendorong agar harganya bisa kompetitif.

“Sebagian besar industri manufaktur di dalam negeri membutuhkan gas, baik untuk kebutuhan energi maupun bahan baku. Karena itu, harga gas industri di Tanah Air harus kompetitif, sehingga sektor industri dapat meningkatkan efisiensi proses produksinya, yang ujungnya akan bisa menghasilkan produk-produk yang berdaya saing baik di kancah domestik maupun global,” paparnya.

Agus meminta, bagi industri yang menerima harga gas sebesar 6 dolar AS per MMBTU di plant gate, harus membuktikan bahwa insentif tersebut akan meningkatkan kinerja dan saya saingnya. “Sementara itu, bagi sektor industri yang belum menjadi sektor penerima penetapan harga gas bumi tertentu, akan kami usulkan kembali melalui revisi Peraturan Presiden 40 tahun 2016,” imbuhnya. (*)