Cegah Potensi Penyelewengan Dana, Presiden: Pastikan Informal Dapat Bantuan Sosial

18
Ilustrasi UMKM. (Foto: IST)

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) memastikan, sektor informal termasuk pelaku usaha UMKM mendapat perlindungan bantuan sosial.

Di sisi lain, Jokowi ingin agar pelaku industri juga tetap bisa bertahan, sehingga dapat menghindari potensi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).

Jokowi menegaskan, pemerintah telah mengalokasikan dana dalam jumlah besar mencapai Rp 677,2 triliun untuk program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Jokowi ingin memastikan agar dana tersebut dapat digunakan tepat sasaran dalam percepatan penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional.

“Angka ini Rp 677,2 triliun jumlah sangat besar. Oleh sebab itu, tata kelolanya harus baik, sasarannya harus tepat, prosedur harus sederhana, dan tidak berbelit-belit. Output dan outcome harus maksimal bagi kehidupan seluruh rakyat,” ujarnya dalam pembukaan Rakornas, Senin (15/6).

Jokowi juga menyampaikan agar seluruh pihak ikut mengawal dan mengawasi dengan baik penggunaan dana ini. Sehingga, dana tersebut dapat membantu masyarakat dan pelaku usaha yang sedang kesulitan.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu juga meminta semua pihak proaktif mencegah potensi penyelewengan dana. “Jangan sampai menunggu terjadinya masalah. Kalau ada, segera ingatkan jangan sampai pejabat dan aparat pemerintah dibiarkan terperosok. Namun sistem peringatan dini, perkuat tata kelola yang baik, transparan, akuntabel,” ucapnya.

Jokowi juga mengimbau agar pemerintah tidak main-main dalam aspek akuntabilitas. Jokowi meminta kegiatan pencegahan lebih diutamakan, dengan cara menerapkan tata kelola yang baik. “Tetapi kalau ada yang masih bandel niat korupsi maka silakan Bapak/Ibu, digigit dengan keras. Uang negara harus diselamatkan, kepercayaan rakyat harus terus dijaga,” pungkasnya.

Selamatkan Tekanan Ekonomi
Di sisi lain, Jokowi kembali menyampaikan saat ini dunia tengah menghadapi kondisi yang luar biasa sulit akibat penyebaran virus Covid-19. Seluruh negara sedang berjuang untuk menyelamatkan tekanan ekonomi yang dahsyat. “Saat ini dunia menghadapi kondisi yang luar biasa sulitnya. 215 negara menghadapi darurat kesehatan dan harus menyelamatkan warganya dari ancaman Covid-19,” ujarnya.

Jokowi menyebut, aspek ekonomi saat ini tengah terganggu mulai dari permintaan, persediaan, hingga produksi ikut bermasalah. Hal tersebut menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang terkoreksi sangat tajam. “Pertumbuhan ekonomi dunia terkoreksi sangat tajam dan berjuang agar tidak masuk ke jurang resesi. Sekali lagi situasi seperti ini yang tengah dihadapi semua negara termasuk negara kita Indoensia,” tuturnya.

Dengan demikian, Jokowi menambahkan, semua itu membutuhkan respons pemerintah yang cepat dan tepat dari berbagai bidang mulai dari kesehatan hingga sosial ekonomi.
“Di bidang kesehatan kita harus mengendalikan Covid-19 agar tidak menyebar lebih luas. Yang sehat jangan tertular, yang sakit kita rawat sampai sembuh. Di bidang sosial ekonomi kita juga harus menjamin warga yang kurang mampu yang terdampak,” tukas Jokowi. (jpg)