Lagi, Neraca Perdagangan RI Surplus

31
ilustrasi. (net)

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan pada September 2020 mencetak surplus USD 2,44 miliar. Ini adalah capaian kelima surplus neraca perdagangan sejak Mei.

“Surplus September lebih besar dari Agustus yang sebesar USD 2,36 miliar. Surplus September juga jauh lebih besar dibandingkan September 2019, yang waktu itu defisit USD 183,3 juta,” kata Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers, Kamis (15/10).

Surplus neraca perdagangan pada Mei tercatat sebesar USD 2,02 miliar, dan pada Juni sebesar USD 1,25 miliar. Sementara itu surplus pada Juli dan Agustus tercatat masing-masing sebesar USD 3,24 miliar dan USD 2,36 miliar.

Kecuk, panggilan Suhariyanto, memaparkan, ekspor pada September 2020 mencapai sebesar USD 14,01 miliar. Sementara itu, impor pada periode sama sebesar USD 11,57 miliar.

Ekspor September 2020 hampir menyamai ekspor September 2019 yang sebesar USD 14,08 miliar. Namun, impor September 2020 masih jauh lebih rendah dibanding September 2019 yang sebesar USD 14,26 miliar. “Ada beberapa negara yang kita surplus perdagangan, ada juga yang defisit,” ucap Kecuk.

Neraca perdagangan RI pada September mencetak surplus dengan Amerika Serikat (AS), India, dan Filipina, masing-masing USD 1,08 miliar, USD 562,5 juta, dan USD 491,2 juta.
“Sementara itu dengan Tiongkok kita defisit USD 879,2 juta, dengan Ukraina defisit USD 140,1 juta, dan dengan Brasil defisit USD 119,3 juta,” tambah Kecuk.

Secara kumulatif, Januari-September 2020, neraca perdagangan RI mencetak surplus USD 13,51 miliar. Surplus neraca kumulatif tersebut dikarenakan ekspornya sebesar USD 117,19 miliar sedangkan impornya USD 103,68 miliar.

Baca Juga:  Airlangga Pede Investasi RI Tembus Rp 900 T

Kecuk menuturkan, surplus kumulatif tahun ini lebih besar dari capaian neraca perdagangan Januari-September 2019 yang saat itu mencetak defisit USD 2,24 miliar. Saat itu ekspor kumulatif sebesar USD 124,43 miliar, sedangkan impornya mencapai USD 126,67 miliar. “Kita berupaya bersama supaya performa kita semakin meningkat sehingga neraca perdagangan terus surplus,” pungkasnya.

Terpisah, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Onny Widjanarko menilai, surplus neraca perdagangan tersebut berkontribusi positif dalam menjaga ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.

“Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk meningkatkan ketahanan eksternal. Termasuk, prospek kinerja neraca perdagangan,” kata Onny dalam keterangan resminya, Kamis (15/10).

Surplus neraca perdagangan September 2020, dipengaruhi oleh kembali surplusnya neraca perdagangan nonmigas. Pada September 2020, neraca perdagangan nonmigas September 2020 mencatat surplus 2,91 miliar dolar AS atau Rp 42,99 triliun. Lebih tinggi dibanding surplus pada bulan sebelumnya, yang hanya 2,7 miliar dolar AS atau Rp 39,88 triliun.

Perkembangan ini dipengaruhi oleh peningkatan ekspor nonmigas. Terutama pada komoditas besi dan baja, lemak dan minyak hewan/nabati, serta kendaraan dan bagiannya.
Sementara itu, impor nonmigas khususnya pada kelompok bahan baku dan barang modal mengalami peningkatan, sejalan aktivitas ekonomi berangsur membaik.

Neraca perdagangan migas, masih mengalami defisit 0,47 miliar dolar AS atau Rp 6,94 triliun. Defisit ini dipengaruhi oleh peningkatan impor migas, khususnya hasil minyak, yang lebih besar dibandingkan dengan peningkatan ekspor migas. (jpg)