Imbas Covid-19, SKK Migas Pangkas Outlook Produksi

Wabah virus korona Covid-19 dan rendahnya harga minyak dunia telah memukul sektor minyak dan gas bumi (migas) di banyak negara, tak terkecuali Indonesia. Outlook produksi migas diperkirakan bakal terkoreksi.

“Penurunan outlook produksi 2020 dari 735.000 BOPD (program FTG) ke 725.000 BOPD untuk minyak, dan 5.959 MMSCFD (program FTG) ke 5.727 MMSCFD untuk gas,” kata Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto, Kamis (16/4).

Outlook produksi minyak dan gas tersebut juga lebih rendah dari target dalam APBN yang sebesar 755.000 BOPD untuk minyak, dan 6.670 MMSCFD. Namun, meski terjadi penurunan outlook produksi hingga akhir tahun, SKK Migas mencatat capaian produksi dan lifting migas yang lumayan bagus pada kuartal-I 2020 ini.

Dwi menyampaikan, sejak 12 Maret 2020, banyak perusahaan memberlakukan work from home (WFH) bagi para karyawannya. Hal inipun diperkirakan sedikit berimbas terhadap kegiatan di sektor migas pada kuartal-I.

Maka dari itu, realisasi produksi hingga kuartal-I 2020 menjadi 728.827 BOPD untuk minyak, dan 7.118 MMSCFD untuk gas. Sementara itu, lifting minyak per akhir Maret 2020 ada di angka 701.600 BOPD, sedangkan lifting gas di angka 5.866 MMSCFD.“Ke depan, lifting migas akan semakin tertekan akibat Covid-19 dan rendahnya harga minyak,” kata Dwi.

Dari 15 KKKS besar, hanya tujuh perusahaan yang mencapai target produksi minyak dan kondensat dalam APBN maupun WPNB. Mereka antara lain Mobil Cepu Ltd, Chevron Pacific Indonesia, Pertamina Hulu Mahakam, serta Pertamina Hulu Energi ONWJ Ltd.
Kemudian, Medco E & P Natuna, Pertamina Hulu Sanga-sanga, dan JOB Pertamina-Medco Tomori Sulawesi Ltd. Sementara itu, hanya lima perusahaan yang mencapai target produksi dan salur gas dalam APBN maupun WPNB.

Mereka antara lain PHM, Eni Muara Bakau B.V, Premier Oil Indonesia, Petrochina International Jabung Ltd, Medco E & P Natuna, serta Kangean Energi Indonesia.

Di sisi lain, Dwi memperkirakan terjadi penurunan penerimaan negara kotor (gross revenue) sekitar USD 13 miliar. Outlook gross revenue yang tadinya USD 32,09 miliar berpotensi turun menjadi USD 19,95 miliar imbas Covid-19 dan rendahnya harga minyak.

Dwi Soetjipto menuturkan, sesuai dengan yang disampaikan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) maka rata-rata harga minyak Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) akan terkoreksi di level USD 38 per barel. Dalam APBN 2020, rata-rata ICP dipatok USD 63 per barel.

“Dengan ICP yang turun ke USD 38 per barel, gross revenue yang di APBN direncanakan USD 32,09 miliar, akan menjadi USD 19,95 miliar,” ucapnya.

Outlook penerimaan kotor sebesar USD 19,95 miliar tersebut terdiri dari bagian pemerintah sebesar USD 6,7 miliar, bagian kontraktor sebesar USD 4,15 miliar, dan cost recovery sebesar USD 9,11 miliar.

Dwi menjelaskan, adapun realisasi penerimaan kotor pada kuartal-I 2020 ini mencapai USD 6,39 miliar. Rinciannya, yakni bagian pemerintah sebesar USD 2,94 miliar, bagian kontraktor sebesar USD 1,05 miliar, dan cost recovery sebesar USD 1,05 miliar. (*)