Pelaku IKM Baja Ringan Menjerit

28
Industri baja ringan berusaha bangkit di tengah pandemi dan berharap pada 2021 lebih baik lagi. (ARFI FOR JAWAPOS.COM)

Melonjaknya harga baja di pasar dunia akan berimbas pada indusri kecil menengah baja ringan nasional. Apalagi produsen lokal yang belum bisa memenuhi keseluruhan permintaan bahan baku yang sempat terpuruk karena pandemi Covid-19.

Ketua Umum Perkumpulan Seluruh Industri Baja Rigan Indonesia (PERSIBRI), Liang Wali mengatakan, dari 45 anggota pelaku IKM yang tergabung di organisasinya hampir 50 persen kesulitan mendapatkan bahan baku.

“Mahalnya bahan baku industri baja memaksa para pelaku usaha untuk mengurangi produksi bahkan ada yang sudah tidak beroprasi, kondisi ini hampir dialami oleh separuh para pelaku IKM baja ringan,” ujar Wali dalam webinar yang diselenggarakan oleh asosiasi pelaku usaha baja ringan dengan tajuk ‘Lonjakan Harga Baja dan Ancaman Anti Dumping’ yang diselenggarakan pada Jumat (14/5).

Wali menerangkan saat ini modal usaha pelaku IKM yang tahun lalu bisa digunakan untuk belanja bahan baku hingga 200 ton pada tahun ini, hanya bisa dibelanjakan separuhnya. “Melonjaknya harga baja di dunia hingga 100 persen pada tahun ini menjadi sebuah ancaman yang sangat serius bagi kami selaku pelaku usaha IKM Baja Ringan Nasional, apalagi produsen bahan baku BjLAS dalam negeri belum bisa memenuhi permintaan secara keseluruhan,” ujarnya.

Wali menambahkan, pihaknya mencatat di tahun 2020 total kebutuhan BjLAS menurun menjadi 1,1 juta ton yang bersumber dari import 460 ribu ton sedangkan industri dalam negeri hanya mampu mensuplay 718ribu ton, sementara di tahun 2021 diperkirakan kebutuhan Baja di tahun ini 1,8 sampai 2 juta ton.

Baca Juga:  Indonesia Targetkan Jadi Negara Maju, Mendag: ASEAN Harus Kompak

“Selama ini jelas secara histori produsen bahan baku baja ringan dalam negeri belum bisa memenuhi kebutuhan bahan baku kami para pelaku usaha IKM, belum lagi saat ini makin mahalnya harga bahan baku sementara disatu sisi permintaan pasar atas produk BjLAS terutama di tahun ini makin meningkat. Kondisi demikian harus bisa disikapi dengan proporsional dan bijak jangan sampai pemerintah selaku regulator yang berwenang malah melakukan langkah-langkah yang salah yang berakibat mematikan industri baja ringan,” tandasnya.

Hal senada diutarakan Fajar Adriansyah, pelaku usaha IKM baja ringan. Dirinya khawatir kondisi pelaku IKM baja ringan makin terpuruk jika pemerintah dalam hal ini kementrian perindustrian dan perdagangan memaksakan penerapan anti dumping terhadap sektor BjLAS.

“Kami pelaku usaha sudah jatuh akan tertimpa tangga kalau sampai pemerintah malah memaksakan kebijakan anti dumping apalagi harga baja dunia saat ini mengalami kenaikan yang signifikan,” jelas Fajar.

Fajar menerangkan kebijakan BMAD hanya akan menaikkan harga bahan baku industri baja ringan hingga berkali-kali lipat. “Tanpa anti dumping harga saat ini sudah sangat mahal, jadi daripada pemerintah memikirkan kebijakan yang malah mempersulit pelaku usaha lebih baik mereka fokus pada pemenuhan bahan baku industri yang saat ini mahal dan mengalami kelangkaan,” pungkasnya. (jpg)