Tiongkok jadi Negara Tujuan Terbesar Ekspor

46
Ilustrasi kegiatan ekspor di pelabuhan. (Ahmad Khusaini/Jawa Pos)

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kinerja ekspor Indonesia tercatat USD 14,39 miliar di Oktober 2020 atau mengalami peningkatan sebesar 3,09 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar USD 13,39 miliar. Tiongkok menjadi negara tujuan ekspor terbesar yaitu dengan total share sebesar 20,78 persen dari USD 14,39 miliar.

“Pangsa pasar non migas kita di beberapa negara tujuan pada Oktober 2020. Di sini, Tiongkok share 20,78 persen di Oktober 2020 dengan total nilai 2,86 miliar dolar,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Setianto dalam konferensi pers secara virtual, Senin (16/11).

Selanjutnya, pada peringkat kedua, negara tujuan ekspor ke Amerika Serikat (AS) dengan share 11,90 persen atau setara USD 1,64 miliar. Di urutan ketiga ada Jepang dengan share 7,73 persen atau setara USD 1,06 miliar. “Kemudian kita lihat pangsa pasar kita ke negara ASEAN, di sini nilainya 3 miliar dolar dengan share 21,81 persen. Sementara ke Uni Eropa nilainya 1,15 miliar dolar dengan share sebesar 8,35 persen,” tuturnya.

Setianto menjelaskan, Tiongkok masih menjadi pangsa pasar terbesar Indonesia juga terlihat karena terjadi peningkatan nilai ekspor sebesar USD 234,7 juta atau setara Rp 3,3 triliun (kurs Rp 14.200) di Oktober 2020. Selanjutnya disusul oleh Vietnam yang meningkat USD 96,1 juta. Selain itu, lanjutnya, ekspor Indonesia ke Filipina juga bertambah USD 83,3 juta, ke Malaysia bertambah USD 65,8 juta, dan terakhir ke Spanyol bertambah USD 54,8 juta.

Sementara, ekspor Indonesia yang mengalami penurunan terbesar adalah ke Swiss yaitu sebesar USD 86,2 juta. Disusul oleh Singapura sebesar USD 60,1 juta, dan negeri Paman Sam ada di posisi ketiga yaitu sebesar USD 49,6 juta. “Australia dan Kenya termasuk 5 besar tujuan ekspor kita yang turun,” ungkapnya.

Sementara, nilai impor Indonesia Oktober 2020 mencapai USD 10,78 miliar atau turun USD 785,1 juta (6,79 persen) dibandingkan September 2020. Bahkan, nilai impor Indonesia Oktober 2020 turun 26,93 persen dibandingkan bulan yang sama pada 2019.

Baca Juga:  Basamo Mangko Manjadi, BNI Wilayah 02 Tingkatkan Bisnis dan Kinerja 2022

Setianto menjabarkan, impor nonmigas Oktober 2020 mencapai USD 9,70 miliar atau turun 6,65 persen dibandingkan September 2020. Sedangkan jika dibandingkan Oktober tahun lalu turun 25,36 persen. Sementara Impor migas Oktober 2020 senilai USD 1,08 miliar atau turun 8,03 persen dibandingkan September 2020. Sehingga turun 38,54 persen jika dibandingkan Oktober 2019.

“Penurunan impor migas dipicu oleh berkurangnya impor minyak mentah senilai USD 41,3 juta (15,34 persen) dan hasil minyak senilai USD 56,2 juta (7,87 persen). Sementara nilai impor gas naik senilai USD 3,3 juta (1,76 persen),” ujarnya.

Nilai impor kumulatif Januari–Oktober 2020 tercatat USD 114.465,0 juta atau turun USD 26.963,5 juta (19,07 persen) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan terjadi pada impor migas senilai USD 5.927,8 juta (33,65 persen) dan nonmigas senilai USD 21.035,7 juta (16,99 persen).

“Penurunan impor migas disebabkan oleh berkurangnya impor minyak mentah senilai USD 1.397,1 juta (32,16 persen) dan hasil minyak senilai USD 4.532,9 juta (40,49 persen). Namun demikian, nilai impor gas naik USD 2,2 juta (0,11 persen),” sambungnya.

Ia menjelaskan, penurunan impor nonmigas terbesar Oktober 2020 dibandingkan September 2020 adalah golongan mesin dan perlengkapan elektrik senilai USD 200,9 juta (11,90 persen). Sedangkan peningkatan terbesar adalah golongan bijih, terak, dan abu logam senilai USD 36,5 juta (74,28 persen).

Adapun tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Oktober 2020 adalah Tiongkok senilai USD 31,02 miliar (30,18 persen), Jepang USD 8,81 miliar (8,57 persen), dan Singapura USD 6,74 miliar (6,56 persen). Impor nonmigas dari ASEAN senilai USD 19,25 miliar (18,73 persen) dan Uni Eropa senilai USD 8,17 miliar (7,95 persen).

Sedangkan nilai impor seluruh golongan penggunaan barang selama Januari–Oktober 2020 turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan terjadi pada golongan barang konsumsi (11,39 persen), bahan baku/penolong (19,75 persen), dan barang modal (20,29 persen). (jpg)