Saham BRIS makin Perkasa

951
ilustrasi saham. (JawaPos.com)

Beberapa hari belakangan, saham PT BRI Syariah Tbk (BRIS) mengalami penguatan. Kondisi itu wajar jelang terbentuknya Bank Syariah Indonesia (BSI) bulan depan.
Pengamat pasar modal Riska Afriani mengatakan, menguatnya saham BRIS menjadi indikator bahwa investor tertarik dengan syariah. “Tak hanya investor dari dalam, tapi juga luar negeri,” kata Riska, kemarin.

Untuk diketahui, Selasa (12/1), saham BRIS menguat 23,68 persen menjadi Rp 3.760 per saham. Sementara pada penutupan kemarin, BRIS ditutup melemah tipis 2,39 persen menjadi Rp 3.670.

Kenaikan tajam mulai terlihat dari Oktober tahun lalu. Di mana pada 13 Oktober, harga pembukaan BRIS Rp 920 dan ditutup pada harga Rp 1.125, atau menguat 25 persen. Jelang merger PT Bank BRIsyariah Tbk, PT Bank BNI Syariah dan PT Bank Mandiri Syariah menjadi Bank Syariah Indonesia, persaingan saham bank syariah, menurut Riska, mulai sengit.

Selain BRIS, PT BTPN Syariah Tbk dan PT Bank Panin Dubai Syariah Tbk (PNBS), dalam waktu dekat akan menyusul PT Bank Net Syariah, dahulu bernama PT Bank Maybank Syariah Indonesia, melantai di bursa efek. Saat ini, Bank Net Syariah tengah bersiap menyelesaikan proses penawaran saham umum perdana (Initial Public Offering), dengan melepas 5 miliar saham.

Atau setara dengan kepemilikan 37,90 persen dari modal disetor setelah penawaran umum saham. Harga saham perusahaan dipatok Rp 103-105 per lembar saham. Sehingga nantinya akan ada dana yang didapat dari aksi korporasi ini di kisaran Rp 515525 miliar.

“BRIS yang siap menjadi BSI, bakal mendapat pesaing nantinya. Ini menunjukkan, semakin gairahnya pasar modal syariah. Tentunya ke depan, instrumen syariah akan semakin beragam,” jelas Riska.

Dia berharap, semakin ramainya pemain bursa syariah, semakin menguatkan cita-cita Indonesia sebagai pemain utama ekonomi syariah di kancah global. Mulai dari perbankan syariah, pasar modal syariah hingga lifestyle syariah. “Indonesia sudah seharusnya menjadi pemimpin ekonomi syariah, dengan penduduk Muslim terbesar,” harapnya.

Snowball Effect
Direktur Utama Indonesia Development and Islamic Studies (IDEAS) Yusuf Wibisono mengatakan, perkembangan ekonomi syariah sepanjang 2021 akan ditentukan kondisi perekonomian secara makro, disertai pengendalian pandemi Covid-19.

Baca Juga:  Dirut Semen Padang Apresiasi Sosialisasi Electrifying Lifestyle dari PLN

Namun, dia melihat, perkembangan ekonomi syariah mengalami tren positif beberapa waktu terakhir. Sehingga dapat menjadi katalis industri keuangan syariah yang tumbuh pesat tahun ini. Salah satunya pembentukan BSI, yang rencananya selesai 1 Februari 2021.

Dosen sekaligus peneliti Ekonomi Universitas Indonesia (UI) ini menegaskan, kehadiran BSI akan membuat Indonesia memiliki bank syariah bermodal dan beraset besar. Yang dapat membawa snowball effect pada perkembangan industri keuangan syariah.

Menurut Yusuf, dampak positif kehadiran BSI terhadap perkembangan industri keuangan syariah, tergantung pada keseriusan Pemerintah memperbesar kapasitas bank tersebut. Misalnya, tanpa tambahan injeksi modal, modal BSI ada di kisaran Rp 20 triliun. Itu artinya belum bisa menjadi Bank BUKU IV (modal inti di atas Rp 30 triliun).

“Tentu dampak BSI akan lebih optimal jika modalnya ditambah agar bisa naik kelas jadi Bank BUKU IV,” terang Yusuf. Meski begitu, tahun ini masih banyak tantangan yang harus dihadapi untuk mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi syariah. Sebagai contoh, kehadiran Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Pada awalnya, SBSN banyak membantu akselerasi industri perbankan dan keuangan syariah, namun kini justru mengambil ceruk investor ritel.

Masuknya investor ritel untuk membeli SBSN, sambung Yusuf, secara tidak langsung memberi tekanan terhadap perbankan syariah. “Sukuk negara kini lebih banyak head to head dengan perbankan syariah dalam upaya penghimpunan DPK (Dana Pihak Ketiga). Terutama melalui sukuk dana haji dan sukuk ritel,” warning-nya.

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan, kehadiran BSI bisa turut membantu program Pemerintah meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah.

Saat ini, indeks literasi syariah nasional masih berada di angka 8,93 persen. Jauh di bawah tingkat literasi masyarakat atas keuangan konvensional, yakni 37,72 persen. “Kami harapkan BSI bisa mengakses ke segmen mikro dan Usaha Kecil Menengah (UKM) di daerah dengan cepat, karena dibantu teknologi,” tutupnya. (dwi/jpg)