BI Pangkas Bunga Acuan jadi 3,75 Persen

58
Gubernur BI, Perry Warjiyo. (dok.JawaPos.com)

Bank Indonesia (BI) memutuskan memangkas kembali BI 7-Day Reverse Repo Rate (repo rate) sebesar 25 bps menjadi 3,75 persen. Keputusan itu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang digelar pada 18-19 November 2020.

Keputusan ini mengingat masih tingginya gejolak ekonomi dunia akibat Covid-19. Sehingga bisa mendorong ekonomi di dalam negeri untuk bangkit. Tak hanya repo rate, keputusan RDG BI juga memangkas masing-masing 25 bps suku bunga Deposit Facility menjadi 3 persen dan suku bunga Lending Facility menjadi 4,5 persen.

Gubernur BI, Perry Warjiyo menegaskan, keputusan ini mempertimbangkan prakiraan inflasi yang tetap rendah, stabilitas eksternal yang terjaga, dan sebagai langkah lanjutan untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional.

“Bank Indonesia tetap berkomitmen untuk mendukung penyediaan likuiditas, termasuk dukungan kami kepada Pemerintah dalam mempercepat realisasi APBN Tahun 2020,” jelasnya dalam pengumuman hasil RDG-BI secara virtual, Kamis (19/11).

Tak hanya itu, BI menempuh pula langkah-langkah berikut sebagai upaya pemulihan ekonomi. Pertama, BI melanjutkan kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah agar sejalan dengan fundamental dan mekanisme pasar.

Kedua, memperkuat strategi operasi moneter untuk mendukung stance kebijakan moneter akomodatif. Ketiga, mempercepat pengembangan pasar valas domestik melalui penguatan pasar Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) untuk meningkatkan likuiditas dan mendorong pendalaman pasar keuangan sebagai implementasi Blueprint Pengembangan Pasar Uang (BPPU) 2025.

Keempat, melanjutkan kebijakan makroprudensial akomodatif dengan mempertahankan rasio Countercyclical Buffer (CCB) sebesar 0 persen, Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) pada kisaran 84-94 persen dengan parameter disinsentif sebesar 0 persen.

Kemudian, rasio Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM) sebesar 6 persen dengan fleksibilitas repo sebesar 6 persen, dan rasio Loan to Value/Financing to Value (LTV/FTV) untuk kredit/pembiayaan properti sesuai dengan ketentuan yang berlaku saat ini. “Kelima, BI memperkuat kebijakan makroprudensial untuk mendorong pembiayaan inklusif, khususnya kepada UMKM yang paling terkena dampak akibat Covid-19,” jelas Perry.

Baca Juga:  Indonesia Targetkan Jadi Negara Maju, Mendag: ASEAN Harus Kompak

Kemudian keenam, memperkuat digitalisasi sistem pembayaran untuk mendorong momentum pemulihan ekonomi melalui berbagai inisiatif transformasi digital, seperti perluasan akses UMKM dan masyarakat kepada layanan ekonomi dan keuangan digital dengan dukungan kolaborasi antara bank dan fintech di seluruh Indonesia.

Lalu perluasan akseptasi digital secara spasial dengan memperkuat sinergi kebijakan elektronifikasi keuangan dengan seluruh Pemerintah Daerah. Kemudian melanjutkan perluasan akseptasi pembayaran digital melalui kampanye Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di seluruh wilayah Indonesia.

Ketujuh, kata dia, mendukung pemulihan ekonomi melalui kebijakan sistem pembayaran. Meliputi perpanjangan masa berlaku kebijakan penurunan biaya layanan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) dan penurunan batas minimum pembayaran serta nilai denda keterlambatan pembayaran kartu kredit, serta penurunan biaya layanan Sistem BI-RTGS.

Ke depan, sambung Perry, BI akan terus mencermati dinamika perekonomian dan pasar keuangan global serta penyebaran Covid-19 dan dampaknya terhadap prospek perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu. Hal tersebut untuk menentukan langkah-langkah kebijakan lanjutan yang diperlukan dalam mempercepat program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

“Koordinasi kebijakan yang erat dengan Pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus diperkuat untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta mempercepat pemulihan ekonomi nasional,” ujarnya.

Ia pun bersyukur, perbaikan perekonomian global berlanjut setelah pada triwulan III-2020 tumbuh lebih baik. Pertumbuhan ekonomi dunia pada triwulan III-2020 di banyak negara mulai membaik didorong oleh stimulus kebijakan dan peningkatan mobilitas.

Ekonomi Tiongkok juga tumbuh positif, sedangkan perbaikan ekonomi Amerika Serikat (AS), kawasan Eropa, dan Jepang lebih tinggi dari prakiraan awal. Sejumlah indikator dini pada Oktober 2020 mengindikasikan berlanjutnya perbaikan ekonomi global. (dwi/jpg)