Dalam 3 Bulan ke Depan, Diprediksi Tambah 25 Juta Pengangguran

Pandemi virus korona (Covid-19) tidak hanya berdampak ke sektor kesehatan, namun juga ekonomi khususnya keberlangsungan pekerjaan dan pendapatan.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memperkirakan dalam dua hingga tiga bulan ke depan, pengangguran bertambah 25 juta orang, terdiri dari 10 juta pekerja mandiri dan 15 juta  pekerja bebas.

Hal tersebut diungkapkan Ngadi dari Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, berdasarkan hasil survei LIPI bersama Badan Litbang Ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan dan Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia yang dirilis di laman lipi.go.id, Rabu (20/5/2020).

Survei dilakukan pada 24 April sampai 2 Mei 2020 terhadap penduduk usia 15 tahun ke atas, dengan jumlah responden yang terjaring sebanyak 2.160 orang yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia.

Sementara data Kementerian Ketenagakerjaan per 20 April 2020 mencatat 2.084.593 pekerja dari 116.370 perusahaan dirumahkan dan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

Dari sisi pekerja, terjadinya gelombang PHK tenaga kerja dan penurunan pendapatan sebagai akibat terganggunya kegiatan usaha pada sebagian besar sektor.

Sebanyak 15,6% pekerja mengalami PHK dan 40% pekerja mengalami penurunan pendapatan, di antaranya sebanyak 7% pendapatan buruh turun sampai 50%.

“Kondisi ini berpengaruh pada kelangsungan hidup pekerja serta keluarganya,” jelas Ngadi.

Selain pengangguran, menurut hasil survei itu, angka kemiskinan akibat penurunan upah dan tanpa pendapatan diperkirakan juga bakal melonjak tinggi.

“Angka kemiskinan akibat adanya penurunan upah dan tanpa pendapatan, diperkirakan mencapai 17,5 juta rumah tangga dengan asumsi garis kemiskinan adalah 440 ribu per kapita per bulan,” kata Ngadi.

Menyikapi itu, dari sisi pekerja, tim survei merekomendasikan berbagai kebijakan dari pemerintah. Seperti bantuan sosial dan kartu prakerja harus dipastikan sampai kepada pengangguran. Begitu juga orang yang mengalami penurunan pendapatan.

Selain itu keselamatan jiwa tetap harus diutamakan hingga pandemi ini dapat berakhir meski roda ekonomi di beberapa sektor dapat dihidupkan kembali.

“Dalam jangka panjang WFH (work from home) masih bisa terus diberlakukan terutama sebelum pandemi Covid-19 berakhir,” ujar Ngadi.(esg)