Kiat Sukses Kerajinan Sulaman Benang Emas Mayang Pariaman, Yuk Intip!

22
BERKUALITAS: Owner Sulaman Mayang, Fitrinawati, saat bersama Menparekraf RI Sandiaga Uno memamerkan produk sulaman benang emas yang produksinya.(IST)

Toko Sulaman Mayang, salah satu UMKM kerajinan sulaman populer di Pariaman. Peminatnya bahkan sampai luar negeri. Meski merasakan dahsyatnya dampak pandemi Covid-19, keaktifan dan kreativitas dalam pemasaran membuatnya cepat bangkit. Seperti apa?

Produk kerajinan sulaman benang emas merupakan kerajinan khas Pariaman. Jika di masa lalu kerajinan sulaman hanya diaplikasikan pada baju pengantin, saat ini kerajinan sulaman sudah diaplikasikan pada baju kurung, taplak meja hingga sandal.

Usaha sulaman benang emas khas Pariaman, dapat ditemui di Kecamatan Pariaman Utara. Tepatnya dari Desa Mangguang hingga Desa Padangbirik-birik. Kerajinan sulaman itu, sudah ada sejak zaman dahulu di Pariaman.

Di antara sekian banyak usaha sulaman benang emas ini, Sulaman Mayang cukup mendapat tempat di hati pecinta sulaman dan suvenir. Toko Sulaman Mayang berada di depan Stasiun Naras, Desa Padangbirik-birik, Pariaman Utara.

Posisi tokonya yang berada di Jalan Raya Pariaman-Lubukbasung, memudahkan konsumen untuk berbelanja. Ada banyak jenis produk sulaman benang emas di toko tersebut. Misalnya saja baju penganten Minang dengan berbagai model dan bahan. Ada juga baju kuruang basiba dan baju kurung serta kebaya sulaman emas.

Model sulamannya pun berbagai motif. Ada yang klasik, ada juga yang mengikuti motif kekinian. Harganya mulai dari Rp 350 ribu hingga Rp 1,5juta. Di sana juga tersedia sandal dengan sulaman benang emas, dompet hingga taplak meja dan sarung bantal kursi.

Sarung bantal kursi full sulaman dijual mulai dari Rp 350 ribu hingga Rp 600 ribu. Istimewanya adalah selendang sulaman kapalo samek. Selendang ini sangat elegan dengan tambahan renda benang emas di pinggir dan ujung kedua selendang. Harga selendang mulai dari Rp 300 ribu hingga Rp 3,5juta. Siapapun yang mengenakannya akan terlihat sangat anggun.

Baca Juga:  Puluhan Nasabah BRI di Sumbar Belanja Gratis di Dua Swalayan Ini...

Kerajinan ini dikerjakan secara manual oleh tangan-tangan terampil sehingga produk yang dihasilkan memang sangat eksklusif, berkelas. Pengerjaannya cukup memakan waktu. Namun demikian, harganya cukup terjangkau. Sedikitnya ada 40 orang pengrajin yang terlibat dalam memproduksinya.

“Untuk harga, meski produknya sangat eksklusif, saya tetap menjual dengan harga terjangkau. Mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 10 juta,” ujar Owner Sulaman Mayang, Fitrinawati, saat diwawancarai di tokonya, kemarin.

Biasanya, sambung Fitrinawati, produk kerajinan tersebut konsumennya tak hanya dari Provinsi Sumbar, namun juga banyak dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, peminat produknya hingga ke negara tetangga, seperti Malaysia. “Kecanggihan teknologi saat ini sangat membantu saya dalam memasarkan produk,” ungkap wanita yang akrab disapa Upik tersebut.

Makanya, tak hanya berjualan di toko, Upik juga memaksimalkan penjualan online. Bahkan, upik memasarkan produknya melalui aplikasi penjualan online terkenal di Indonesia, seperti Shopee dan bajojo.com.

“Saat pandemi sempat terjadi penurunan omzet karena berkurangnya pesanan baju pengantin. Namun saat ini sudah kembali normal rata-rata omzet perbulan kurang lebih Rp 40 juta perbulan,” ungkap Upik.

Sekarang, pemasarannya pun makin maksimal. Apalagi Upik aktif mengikuti pameran kerajinan sulaman tidak hanya di Sumbar namun juga di luar Sumbar. Upik yang juga berprofesi guru tersebut optimis, penjualan akan terus meningkat ke depannya. Tentunya dengan menghadirkan produk terjangkau dengan kualitas yang mumpuni.

“Harus tetap optimis, produk kerajinan yang kami jual berkualitas sehingga banyak konsumen yang sudah berbelanja, balik lagi ke sini, untuk menambah koleksinya,” ujarnya tersenyum. (***)