Pasar Muslim Global masih Potensial

24
ilustrasi. (net)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan, di tengah tingginya ketidakpastian kondisi perekonomian akibat pandemi Covid-19, perkembangan keuangan syariah sepanjang tahun 2020 masih menunjukkan pertumbuhan positif.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyebut, aset keuangan syariah Indonesia terus tumbuh, per Juli 2020 mencapai Rp 1.639,08 triliun (tidak termasuk saham syariah). Capaian tersebut naik sebesar 20,61 persen year-on-year dengan market share 9,68 persen.

“Hal ini menunjukkan bahwa keuangan syariah memiliki daya tahan dan semangat yang tinggi untuk dapat bertahan dan siap mendukung percepatan program pemulihan ekonomi nasional,” ujarnya dalam diskusi virtual, Senin (21/9).

Menurutnya, hal tersebut didukung dengan semakin banyaknya jumlah lembaga jasa keuangan syariah. Di antaranya, sektor perbankan terdapat 14 bank umum syariah, 20 Unit Usaha Syariah (UUS), dan 162 BPRS.

Kemudian, sektor pasar modal memiliki 464 saham syariah, 145 sukuk korporasi, 282 reksadana syariah dan 66 sukuk negara. Serta, di industri keuangan non bank, terdapat 215 lembaga jasa keuangan syariah termasuk perusahaan asuransi, pembiayaan, penjaminan dan lembaga keuangan mikro syariah.

Meskipun demikian, Wimboh mengaku, dampak pendemi Covid-19 mengubah aktivitas sehari-hari. Tidak terelakkan, aktivitas ekonomi terhenti di hampir semua sektor. Melemahnya permintaan akan barang dan jasa ini selanjutnya menekan kinerja perekonomian Indonesia.

Namun, berbagai upaya yang sifatnya preemptive dan extraordinary telah dilakukan oleh pemerintah dan otoritas keuangan termasuk OJK dan Bank Indonesia. Upaya tersebut dilakukan guna meredam pelemahan ekonomi lebih jauh dan menjaga agar stabilitas sistem keuangan tidak terganggu. “Kita patut bersyukur meskipun pertumbuhan ekonomi kita terkontraksi, namun tidak sedalam kontraksi pertumbuhan negara-negara tetangga kita seperti Singapura, Malaysia, dan Filipina,” ucapnya.

Wimboh menambahkan, untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional ini, peran sektor jasa keuangan diharapkan sebagai katalis untuk dapat mendongkrak perekonomian. Termasuk peran ekonomi dan keuangan syariah.

Baca Juga:  Targetkan Pertumbuhan Tahun Ini -0,6%

“Ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia harus kita dorong perannya dalam membangkitkan perekonomian nasional. Apalagi, potensinya yang begitu besar dengan mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim yang dapat menjadi bekal untuk lebih memasyarakatkan halal lifestyle, termasuk keuangan syariah,” tuturnya.

Sementara, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati meminta agar ekspor produk halal dapat terus didorong ke negara-negara Islam. Terutama, ke negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). “Ekspor produk halal kita akan didorong tentu dengan memanfaatkan keanggotaan Indonesia di dalam forum organisasi negara Islam OKI,” katanya dalam acara FREKS IAEI di Jakarta, Senin (21/9).

Sri Mulyani menyebutkan, ekspor produk halal ke negara OKI pada 2018 telah mencapai USD 45 miliar. Angka ini setara 12,5 persen dari total perdagangan Indonesia yang mencapai USD 369 miliar.

Meski demikian, Sri Mulyani menuturkan Indonesia juga dapat meningkatkan ekspor produk halal ke negara yang tidak masuk dalam OKI. Pasalnya, populasi penduduk muslim di dunia cukup besar dan permintaan mereka terhadap barang dan jasa terus meningkat. “Kita juga bisa meningkatkan dan memenetrasikan ke negara non-OKI,” ujarnya.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menyebut, total pengeluran penduduk muslim dunia terhadap produk halal ditaksir mencapai USD 2,2 triliun. Nominal sebesar itu merupakan total belanja dari 1,8 miliar orang atau 24 persen dari total penduduk dunia.

Pengeluaran 1,8 miliar orang muslim di dunia itu meliputi seluruh bidang. Mulai dari makanan, obat-obatan, lifestyle, dan berbagai hal lain yang dipengaruhi oleh kebutuhan serta etika nilai ajaran Islam. “Pengeluaran ini juga memiliki pertumbuhan yang cukup besar sebesar 5,2 persen,” katanya. (jpg)