UU Ciptaker Ikut Picu Ketidakpastian

ilustrasi. (jawapos.com)

Pengesahan Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker) disebut-sebut menambah daftar ketidakpastian di pasar modal. Nasibnya, kini bergantung dari langkah pemerintah dalam memulihkan perekonomian.

Pengamat pasar modal sekaligus Direktur Anugerah Mega Investama, Hans Kwee mengakui, selain pandemi korona, polemik UU Ciptaker ikut memberikan sentimen negatif terhadap pergerakan pasar modal. Namun demikian, ditekankannya, pergerakan pasar modal dalam jangka pendek, sulit dijadikan sebagai indikator. Hans menuturkan, secara umum investor sebenarnya lebih mempertimbangkan masa depan pekonomian.

Tapi, faktanya, pertumbuhan ekonomi Indonesia diramal tetap minus tahun ini. “Walau begitu, tetap masih banyak optimisme. Berbagai stimulus dilakukan regulator un tuk memulihkan ekonomi serta upaya menjaga pasar modal, kami harapkan itu bisa memberi efek positif,” kata Hans.

Sementara, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso berpendapat, selain faktor sentimen yang datang dari dalam maupun luar negeri, kondisi pasar modal Indonesia masih memiliki banyak kekurangan. Terutama dalam masalah hedging (lindung nilai). Di mana sekarang ini, belum adanya produk yang menjadi jaminan saat pasar modal terkena sentimen dari berbagai faktor.

Wimboh mencontohkan, risiko suku bunga dan hedging default belum begitu banyak. Sehingga investor asing kalau ada sentimen negatif, langsung menarik dananya. “Strategi asing langsung sell off (jual), karena belum ada hedging yang mumpuni terutama soal nilai tukar. Ini tantangan bersama. Ini yang sering dikritik investor asing, sehingga mereka banyak yang menarik dananya dari Indonesia,” terang Wimboh saat Pembukaan Capital Market Summit and Expo 2020, kemarin.

Baca Juga:  Hingga Oktober, APBN Tekor Rp 764,9 T

Karena itu, dia berharap, pasar modal Indonesia memiliki lebih banyak variasi produk un tuk memenuhi kebutuhan pelaku pasar, baik itu instrumen biasa maupun produk hedging. Selain itu, sebisa mungkin produk produk tersebut bisa menjang kau investor ritel.
Dia menilai, kinerja pasar modal di Indonesia akhir-akhir ini sudah mulai menggeliat.

Hal ini tercermin dari beberapa basis investor di sektor ritel yang sudah semakin besar jumlahnya. Sekitar 73 persen di pasar saham adalah transaksi yang berupa ritel. Dan, ini adalah merupakan transaksi paling banyak dalam 5 tahun terakhir.

Wimboh menyampaikan, untuk menjaga kekuatan pasar modal serta kepercayaan para investornya, pihaknya mengambil tiga jurus. Pertama, menjaga kedalaman pasar modal (deepening capital market), dengan memperbanyak instrumen. Kdua, penerapan digitalisasi dari segala proses di pasar modal, agar mempercepat market access oleh seluruh investor di seluruh Nusantara. Ketiga, OJK ingin mendorong geliat investasi, serta membangkitkan optimisme para pelaku usaha.

Terkait kehadiran UU Ciptaker, Wimboh berharap, hal itu justru bisa mendorong pengu saha untuk bangkit. Setidaknya, mereka dapat mengoptimalkan agar investasi cepet berkembang dan terealisasi, dengan menyerap tenaga kerja yang lebih banyak lagi.
Lebih jauh, diharapkannya, UU Ciptaker dapat meningkatkan kedalaman pasar keuangan di Tanah Air. “Sehingga integritas dan juga perlindungan masyarakat investor tetap terjaga,” tutup Wimboh. (dwi/jpg)