Bandara Tetap Buka, Pesawat tak Angkut Penumpang hingga 1 Juni

Sebanyak 19 bandara yang dikelola AP II tidak melayani penerbangan penumpang berjadwal dan tidak berjadwal hingga 1 Juni mendatang. (Foto: Dok. AP II)

Sebanyak 19 bandara yang dikelola PT Angkasa Pura II (AP II), termasuk Bandara Internasional Minangkabau (BIM) tetap beroperasi. Namun, pada 24 April hingga 1 Juni 2020 pesawat hanya melayani penerbangan kargo dan sejumlah penerbangan khusus.

Sementara itu, untuk penerbangan penumpang berjadwal dan tidak berjadwal (penumpang komersial) sementara waktu tidak dioperasikan hingga 1 Juni atau usai Lebaran Idul Fitri.

Hal tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Musim Mudik Idul Fitri 1441 H dalam rangka Pencegahan Penyebaran Covid-19.

Saat ini PT AP II mengelola 19 bandara, yaitu Soekarno-Hatta (Tangerang), Halim Perdanakusuma (Jakarta), Sultan Mahmud Badaruddin II (Palembang), Kualanamu (Deli Serdang), Sultan Syarif Kasim II (Pekanbaru), Silangit (Tapanuli Utara).

Lalu, Raja Haji Fisabilillah (Tanjung Pinang), Supadio (Pontianak), Banyuwangi, Radin Inten II (Lampung), Husein Sastranegara (Bandung), Depati Amir (Pangkalpinang), Sultan Thaha (Jambi), HAS Hanandjoeddin (Belitung), Tjilik Riwut (Palangkaraya) dan Kertajati (Majalengka), Fatmawati Soekarno (Bengkulu), Sultan Iskandar Muda (Aceh) dan BIM (Padangpariaman).

VP Corporate Communication PT AP II Yado Yarismano mengatakan perseroan memiliki empat opsi pola operasional yang dapat disesuaikan dengan kondisi yang ada.

PT AP II, kaya Yado, tengah berkoordinasi dengan Kemenhub mengenai petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis terkait Permenhub tersebut. Kemudian menyesuaikannya dengan pola operasional di seluruh bandara.

“Pastinya, bandara tetap beroperasi untuk melayani penerbangan kargo dan sejumlah penerbangan khusus,” ujar Yado Yarismano

Dia menambahkan, operasional bandara masih terus berjalan untuk melayani penerbangan pimpinan lembaga tinggi negara dan tamu/wakil
kenegaraan dan perwakilan organisasi internasional.

Kedua, operasional penerbangan khusus repatriasi (repatriasi flight)
pemulangan warga negara Indonesia (WNI) maupun asing (WNA)

Ketiga, operasional penegakan hukum, ketertiban, dan pelayanan darurat. Keempat, operasional angkutan kargo, (kargo penting dan esensial).

“Pesawat konfigurasi penumpang dapat digunakan untuk mengangkut kargo di dalam kabin penumpang khusus untuk pengangkutan kebutuhan medis, kesehatan, dan sanitasi serta pangan,” jelasnya.

Kemudian, operasional lainnya dengan seizin menteri dalam upaya mendukung percepatan penanganan Covid-19.

“Sebagai bandara alternatif, apabila terdapat pesawat yang mengalami kendala teknis dan operasional, dan membutuhkan bandara untuk mendarat. Lalu, penerbangan yang mengangkut sampel Covid-19,” jelasnya.(esg)