Kurangi Beban Penumpang, Lion Air bakal Sediakan Rapid Test Sendiri

410
Presiden Direktur Lion Air Group, Edward Sirait. (net)

Lion Air berinisiatif memfasilitasi Rapid Test Covid-19 bagi penumpang yang menggunakan layanan penerbangan maskapai tersebut.

Kebijakan ini diambil untuk meminimalisir biaya yang dikeluarkan penumpang saat bepergian dengan maskapai Lion Air. Terutama untuk biaya rapid test yang selama ini dikeluhkan mahal oleh penumpang pesawat.

“Kami berencana akan melakukan rapid test kepada penumpang kami sendiri (Lion Air, red), bukan kepada penumpang umum,” ungkap Presiden Direktur Lion Air Group, Edward Sirait kepada Padek.co melalui sambungan telepon, Rabu (24/6/2020).

Edward menjelaskan, rencana Lion Air melakukan rapid test ini, tidak terlepas dari keluhan masyarakat karena mahalnya biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan rapid test sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi agar bisa bepergian dengan moda transportasi udara ini.

Surat Edaran (SE) Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nomor 7 Tahun 2020 tentang Kriteria dan Persyaratan Perjalanan Orang Dalam Masa Adaptasi Kebiasaan Baru Menuju Masyarakat Produktif dan Aman Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) menjelaskan, penumpang pesawat, harus menunjukkan surat keterangan uji Rapid test dengan hasil non-reaktif yang berlaku 3 hari pada saat keberangkatan.

“Kami melihat dan mengumpulkan informasi di lapangan, dan menemukan penumpang mengeluhkan mahalnya harga rapid test ini. Kami melihat harga ini tidak wajar dan menjadi beban bagi penumpang,” tegas Edward.

Atas pertimbangan itulah, kata Edward, Lion Air berencana menyediakan fasilitas rapid test bagi penumpangnya. Pihaknya menawarkan harga yang relatif lebih murah dari harga rapid test yang ada saat ini. Pihaknya masih melakukan kajian sebelum menerapkan kebijakan tersebut nanti. “Sedang kami susun. Kalau kami estimasikan harganya untuk satu kali rapid test itu sekitar Rp 100 ribu, paling mahal Rp 120 ribu,” sebut Edward.

Edward menegaskan, dalam pelaksanaannya nanti akan dilakukan secara bertahap. Tahap awal rencananya akan diberlakukan di Jakarta. “Kami akan prioritaskan dulu di Jakarta. Namun tidak tertutup kemungkinan nanti kita kembangkan juga di daerah, ya bisa jadi nanti di Padang juga,” paparnya.

Dia mengaku, masih menunggu persetujuan prinsip dari pemangku kebijakan. Nanti pemeriksaan rapid test akan dilakukan oleh internal Lion Air. “Nanti rapid testnya akan dilaksanakan oleh klinik kami yang sudah memenuhi persyaratan. Tapi tetap sebelum kebijakan ini kami laksanakan, kami harus koordinasikan dulu dengan pihak terkait seperti Gugus Tugas, KKP dan bandara,” pungkasnya.

Konsultasikan jika Harga tak Wajar
Lantas apakah ada dampaknya terhadap harga tiket pesawat? Edward menjelaskan tiket pesawat sudah diatur dengan jelas melalui Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) yang mengatur batas bawah dan batas atas harga tiket yang diperbolehkan oleh pemerintah.

Sedianya kata Edward, selama harga tiket yang ditetapkan masih berada pada range batas dan bawah sesuai Permenhub tadi, maka menurutnya, maskapai tidak perlu lagi berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk dengan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Ini sekaligus menjawab keputusan KPPU yang mengharuskan penyelanggara jasa penerbangan berkonsultasi dengan KPPU jika menaikkan harga tiket pesawat.

Kecuali, sambung Edward, jika maskapai memberlakukan harga tiket melebihi range batas bawah dan atas sesuai Permenhub, maka menurutnya barulah diperlukan koordinasi dengan instansi terkait.

“Kalau memang maskapai memberlakukan harga tiket melebih batas atas dan bawah tadi, menurut saya Kemenhub akan langsung berkoordinasi dengan KPPU,” jelasnya.

Dia menegaskan, Lion Air saat ini memberlakukan tiket pesawat sudah sesuai dengan batas bawah dan batas atas sesuai Permenhub. “Kita dalam menentukan tarif itu sudah sesuai dengan aturan batas atas dan batas bawah tadi,” tegasnya. (bis)