Ekonomi Baru Pulih 2023

23
ilustrasi. (net)

Tanda tanya kapan ekonomi nasional bisa pulih memang belum terjawab. Banyak pihak pun meyakini ekonomi Indonesia masih akan menghadapi tantangan akibat dampak pandemi.
Sekertaris Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Raden Pardede menyebut, ekonomi diproyeksi pulih pada 2023 mendatang.

”Tahun 2023, kita harus punya target. Kita harus kembali tumbuh seperti pre-Covid,” ujarnya pada diskusi Arah Kebijakan Pemerintah: Keseimbangan Antara Kesehatan dan Ekonomi, di Jakarta, kemarin (23/9).

Raden menilai meskipun tetap minus, pertumbuhan ekonomi kuartal III 2020 akan jauh lebih baik ketimbang kuartal sebelumnya yang minus 5,32 persen. Pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2020 akan terkontraksi -2,9 persen hingga minus 1 persen.

Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur juga telah kembali pada level 50,8 per Agustus 2020. Hal itu juga dibarengi dengan data konsumsi rumah tangga dan penjualan ritel yang membaik.

”Kita harus punya optimisme. Kalau kita kerja keras dan itu sebenarnya ajakan KPCPEN. Jangan berlama-lama untuk menangisi kesedihan yang terjadi akibat Covid, malah harus optimistis kita bekerja keras sehingga kuartal IV lebih baik dari kuartal III,” urai Raden.

Dari sisi sektor keuangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga kini telah berada di kisaran level 5.000. Nilai tukar rupiah juga kini berada di kisaran Rp 14.000 per dolar AS. Padahal, Maret lalu sempat melemah hingga level Rp 16.500 per dolar AS.

Tren positif juga menjalar ke Surat Utang Negara yang sekarang berada di rentang aman antara 7 sampai 6,8 persen. Jauh dari level sebelumnya dimana SUN menyentuh angka 8,5 persen.

Baca Juga:  Wisatawan masih Tahan Diri Buat Liburan

”Jadi ada perbaikan di situ. Sebelumnya kan SUN sempat mencapai 8,5 persen. Sekarang di level sekitar 7 persen dan 6,8 persen. Intinya kalau kita lihat sejak bulan Juni akhir itu (SUN) terjadi perbaikan secara gradual,” jelas dia.

Namun, dia menekankan pentingnya keberadaaan vaksin Covid-19. Sebab, pemulihan ekonomi nasional juga amat ditentukan oleh kehadiran vaksin. Raden menyebut, jika tingkat kepercayaan investor menurun terhadap ekonomi Indonesia, maka pemulihan ekonomi pun menjadi tidak optimal.

”Jelas ada hubungan vaksin dengan pertumbuhan ekonomi, jelas ada, kita lihat tadi tanpa vaksin ditemukan maka tingkat imunitas atau tingkat kepercayaan akan sulit pulih,” tutur dia.

Pada kesempatan yang sama, Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito menambahkan, perubahan perilaku masyarakat amat penting untuk menekan pandemi. Sehingga, masyarakat diimbau benar-benar patuh pada protokol kesehatan.

”Perubahan perilaku sebagai poin kunci. Itu kalau bisa, dalam 3 sampai 4 bulan ini betul-betul diperkuat untuk bisa bertahan jangka panjang,” tutur dia. Wiku menjelaskan, apabila perubahan perilaku itu terus dipertahankan hingga tahun 2021 paling tidak oleh 75 persen masyarakat Indonesia, maka dia yakin hal itu dapat menjadi herd immunity atau kekebalan kelompok.

Hal itu tentu membawa manfaat proteksi bagi seluruh masyarakat. Ditambah lagi jika ada vaksin, maka upaya pemulihan kesehatan itu akan semakin efektif. (dee/jpg)