Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Direvisi

41
Menteri Keuangan Sri Mulyani. (jawapos.com)

Bayang-bayang resesi semakin jelas pada prospek ekonomi Indonesia. Indikasinya, pemerintah kembali merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi. Menteri Keuangan Sri Mulyani memerinci, proyeksi pertumbuhan ekonomi direvisi menjadi -1,7 persen sampai -0,6 persen. Lebih buruk daripada proyeksi sebelumnya sebesar -1,1 persen sampai 0,2 persen.

“Kementerian Keuangan merevisi forecast untuk September, sebelumnya untuk tahun ini -1,1 persen hingga positif 0,2 persen. Forecast terbaru September untuk (pertumbuhan ekonomi) 2020 di -1,7 persen hingga -0,6 persen,” ujarnya.

Ani–sapaan Sri Mulyani–melanjutkan, pada 2021 pertumbuhan ekonomi ditargetkan mencapai 4,5 persen sampai 5,5 persen. Target itu lebih rendah daripada proyeksi lembaga internasional yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bisa menyentuh 6 persen.

Sementara itu, untuk kuartal III, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan berada di kisaran -2,9 persen hingga -1,1 persen. Angka tersebut juga lebih rendah jika dibandingkan dengan proyeksi awal yang mencapai -2,1 persen hingga 0 persen.

Dengan kondisi itu, pertumbuhan ekonomi juga bakal negatif pada kuartal III dan IV. “Ini artinya negatif teritori mungkin terjadi pada kuartal III dan masih akan berlangsung pada kuartal IV, yang kita upayakan untuk bisa dekati 0 atau positif,” paparnya.

Dari sisi konsumsi pemerintah, pada kuartal III diperkirakan mengalami pertumbuhan positif yang sangat tinggi. Yaitu, 9,8 persen hingga 17 persen karena ada akselerasi belanja. “Untuk keseluruhan tahun, kita ada antara di positif 0,6 persen hingga 4,8 persen untuk konsumsi pemerintah. Jadi, pemerintah sudah melakukan secara all-out melalui kebijakan belanja atau ekspansi fiskalnya untuk countercyclical,” katanya.

Baca Juga:  Wisatawan masih Tahan Diri Buat Liburan

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menekankan, berbagai proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut akan bergantung pada perkembangan pandemi Covid-19.
Ekonom Indef Bhima Yudhistira menganalisis, langkah revisi proyeksi pertumbuhan dilakukan untuk dua tujuan. Pertama, mempersiapkan masyarakat dan dunia usaha.

“Sehingga pemerintah yang biasanya optimistis sekarang jadi lebih realistis melihat situasi ekonomi. Terlebih, ada PSBB yang diperketat. Supaya masyarakat dan pelaku usaha bersiap menghadapi hal yang terburuk,” ujarnya.

Kedua, revisi itu adalah bagian dari sinyal yang diberikan pemerintah kepada pasar modal. Sebab, cara serupa pernah digunakan pada kuartal II lalu. “Sebelumnya, direvisi dua sampai tiga kali, lalu (pasar) nggak kaget. IHSG justru naik jadi 5.100 kala itu,” kata Bhima.

Menurut dia, satu-satunya cara yang bisa dilakukan agar resesi tidak terlalu dalam adalah menggenjot belanja pemerintah. Dia berharap dengan segala kerumitan dan hambatan birokrasi yang ada, pemerintah bisa all-out dalam menggenjot belanja. Terutama serapan program penanganan ekonomi nasional (PEN) agar bisa terealisasi 100 persen hingga akhir tahun ini. (jpg)