Ekonomi Kuartal I Diramal masih Minus

30
ilustrasi. (net)

Perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) bisa dipastikan menekan kinerja perekonomian. Laju pertumbuhan kuartal I-2021 diramal masih terkontraksi atau minus.

Pemerintah kembali memperpanjang PPKM selama dua pekan mulai 25 Januari hingga 8 Februari 2021. Menurut Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani, pembatasan menekan penerimaan pajak.

“Tekanan ke ekonomi bisa kita lihat dari penerimaan negara. Pembatasan aktivitas membuat pendapatan wajib pajak menjadi berkurang, sehingga akan berdampak pada penerimaan negara,” ujar Ani-sapaan akrab Sri Mulyani.

Ani memprediksi, ekonomi Indonesia masih mengalami kontraksi atau minus pada kuar­tal I-2021. Menurutnya, pemulihan ekonomi baru akan terjadi pada kuartal II tahun ini.
“Tahun 2021 kita pasti masih dihadapkan pada hal relatif sama, meski kita lihat mungkin pemulihan ekonomi bisa terakselerasi di 2021, terutama kuartal II, III dan IV,” ujar Ani.

Meski demikian, dia melihat Indonesia masih memiliki harapan untuk kembali pulih. Hal ini sejalan dengan vaksinasi yang telah dimulai pada bulan ini. Namun bendahara negara itu menegaskan, pihaknya tetap bersiap melakukan berbagai kemungkinan, termasuk menghadapi penurunan pendapatan negara.

Ani optimistis pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5 persen. Ini sesuai dengan target pemerintah dalam Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021 Tahun Anggaran 2021.

Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memutuskan memperpanjang PPKM. Hal tersebut seiring masih meningkatnya kasus Covid-19 di Indonesia. “Berdasar evaluasi tersebut, Bapak Presiden meminta agar PPKM ini dilanjutkan dari 26 sampai dengan 8 (Februari),” ujar Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) Airlangga Hartarto.

Baca Juga:  Mendag Lutfi: Sinergi Indo-Pasifik dan ASEAN Pacu Perekonomian Kawasan

Meski kembali ada pembatasan sosial, Airlangga yakin, berbagai perubahan positif perekonomian global juga membawa dampak positif bagi perekonomian Indonesia. “Kita optimistis pemulihan ekonomi global sejalan dengan pemulihan ekonomi Indonesia,” kata Ketua Umum Partai Golkar tersebut.

Dijelaskannya, optimisme ini terlihat dari berbagai indikator. Di antaranya, hingga Desember 2020, PMI Manufaktur berada di level ekspansi (51,3).  Sebelumnya, pada November 2020, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) juga meningkat menjadi 92 dari 79 pada Oktober 2020. Hal ini diperkuat oleh impor barang modal dan bahan baku yang meningkat pula. Nilai ekspor Indonesia pada Desember 2020 mencapai 16,54 miliar dollar AS dan ini tertinggi sejak Desember 2013.

Kemudian, sepanjang 2020, ekspor pertanian dan industri pengolahan masing-masing meningkat 13,98 persen dan 2,95 persen. Hal itu didukung oleh pulihnya harga komoditas internasional, yaitu kelapa sawit (CPO), batubara dan karet alam. ”Indikator menunjukkan kinerja industri dan kegiatan dunia usaha juga akan semakin baik di triwulan I-2021. Meskipun saat ini masih ada pembatasan sosial, namun akan kita dorong dalam waktu setahun ini,” tegas Airlangga. (nov/jpg)