Arab Saudi Naikkan Tarif Bea Masuk

14
Menteri Perdagangan (Mendag), Agus Suparmanto. (IST)

Arab Saudi memutuskan menaikkan tarif bea masuk untuk 575 produk, mulai 18 Juni lalu. Kenaikan tarif bea masuk berpotensi menekan kinerja ekspor mitra dagang Arab Saudi. Tak terkecuali Indonesia.

Menteri Perdagangan (Mendag), Agus Suparmanto menilai, kebijakan tersebut bakal menekan ekspor Indonesia. Agus menjelaskan, kenaikan bea masuk ini diakibatkan jatuhnya harga minyak dunia yang menyebabkan berkurangnya penerimaan negara.
Akibatnya, Arab Saudi berupaya mengoptimalkan penerimaan dari pengenaan pajak.

“Kenaikan bea masuk yang ditetapkan Saudi berpotensi menekan ekspor negaranegara mitra Arab Saudi. Termasuk Indonesia. Untuk itu, Kementerian Perdagangan akan meningkatkan kolaborasi dan koordinasi dengan para perwakilan perdagangan yang bertugas di wilayah Timur Tengah,” katanya di Jakarta, kemarin.

Kenaikan bea masuk ini meliputi 575 jenis produk. Antara lain produk hewan dan makanan bahan kimia, plastik dan turun annya, barang kulit dan turunannya. Kemudian produk jerami produk kertas dan turunannya. Karpet, pakaian, kain, benang penutup kepala, dan sepatu produk marmer dan keramik.

Kemudian kaca, besi, nikel, tembaga, aluminium, seng dan seluruh produknya mesin dan produk mesin, peralatan dan suku cadang listrik. Sebagian produk otomotif dan suku cadangnya produk peralatan optik, bingkai kaca mata, sebagian produk furnitur, sebagian produk permainan (game), serta sebagian produk manufaktur.

Langkah lainnya yang dapat dilakukan, yaitu melalui kerja sama bilateral. Negara-negara mitra Saudi yang telah memiliki kerja sama bilateral dikecualikan dari kenaikan bea masuk tersebut.

“Kami juga akan berupaya melakukan pendekatan bilateral dengan negara-negara mitra dagang agar produk Indonesia kompetitif di negara tujuan ekspor. Dalam hal ini, kami akan melihat peluang untuk bekerja sama dengan Dewan Kerja Sama Negara-negara Teluk (Gulf Cooperation Council). Segala upaya akan kami lakukan untuk terus menjaga kinerja ekspor Indonesia,” ujarnya.

Agus juga meminta agar para pelaku ekspor tetap mempertahankan optimismenya menghadapi tantangan ini. “Kami juga meminta para pelaku ekspor untuk terus mengelaborasi peluang yang ada untuk masuk ke wilayah Timur Tengah. Termasuk Arab Saudi, dengan meningkatkan daya saing produk ekspor Indonesia,” jelasnya.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Kasan Muhri menambahkan, kenaikan bea masuk Arab Saudi akan berdampak terhadap kinerja ekspor nonmigas. Beberapa produk yang terdampak antara lain produk otomotif yang bea masuknya naik dari 5 persen menjadi 7 persen, produk kertas dan turunannya naik dari 5 persen menjadi 810 persen. Serta besi, baja, dan barang dari besi/baja naik dari 5 persen menjadi 820 persen.

Seperti diketahui, nilai ekspor Indonesia ke Arab Saudi untuk produk-produk tersebut mencapai lebih dari 624 juta dolar AS. “Kenaikan bea masuk untuk produk tersebut berkisar dari 0,5 persen hingga 15 persen sehingga akan berdampak langsung terhadap ekspor Indonesia ke Arab Saudi,” katanya.

Namun, lanjut Kasan, ada produk-produk ekspor unggulan Indonesia yang tidak terdampak kenaikan bea masuk tersebut. Seperti produk sawit dan turunannya, produk kayu, serta produk daging dan ikan. Selain itu, produk vitamin, makanan laut, beras, sayur dan buah-buahan, serta berbagai macam produk yang mendukung peningkatan imunitas tubuh masih diberikan relaksasi impor oleh Arab Saudi.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani menilai, dalam kondisi ekonomi yang tak menentu, hampir semua perusahaan di dalam dan luar negeri cenderung menahan diri untuk kegiatan ekonomi yang bersifat ekspansif. (kpj/jpg)