Perekonomian RI Bakal Minus 2%

28
ilustrasi. (net)

Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Andry Asmoro memprediksi perekonomian Indonesia tahun ini bakal kembali terkontraksi akibat pandemi Covid-19. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2020 diprediksi ada di kisaran -2 persen hingga -1 persen.

Proyeksi ini muncul karena sepanjang triwulan I pertumbuhan ekonomi nasional sudah melambat ke level 2,97 persen. Pada triwulan II-2020, pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi hingga -5,32 persen. Memasuki triwulan III-2020, kondisi ekonomi diperkirakan sedikit membaik seiring dimulainya relaksasi PSBB.

Tekanan terhadap perekonomian Indonesia sejalan dengan dinamika ekonomi global, di mana banyak negara-negara sudah memasuki resesi kecuali Vietnam dan China yang masih mencatat pertumbuhan positif. “Tetapi resesi yang dialami Indonesia diperkirakan tidak akan sedalam negara-negara lain di Asia seperti India, Filipina, Malaysia, Thailand dan Singapura, maupun negara-negara maju di Kawasan Eropa dan AS,” katanya di Jakarta, Kamis (24/9).

Sementara outlook ekonomi 2021 ke depan, sambung Andry, perekonomian akan mulai memasuki masa pemulihan dengan asumsi kurva infeksi Covid-19 sudah melambat disertai adanya prospek penemuan dan produksi vaksin.

Economist Bank Mandiri memperkirakan ekonomi dapat tumbuh 4,4 persen di 2021. “Ke depan, perkembangan ekonomi sektoral Kuartal III-IV dibayangi risiko dampak penerapan PSBB di wilayah DKI Jakarta sejak tanggal 14 September dan risiko akibat peningkatan kasus Covid-19,” ucapnya.

Secara sektoral, sektor-sektor jasa-jasa seperti, perdagangan, transportasi, hotel, restoran dan jasa-jasa perusahaan akan mengalami pemulihan yang relatif lambat dari perkiraaan semula akibat peningkatan kasus positif Covid-19.

Demikian pula sektor industri pengolahan, pemulihannya mengikuti pola umum peningkatan ekonomi nasional karena sangat tergantung perbaikan daya beli dan confidence masyarakat sehingga mulai membelanjakan uangnya. “Dari hasil Survey Mandiri Institute, PSBB dan kekhawatiran konsumen atas penyebaran Covid-19 telah menekan usaha ritel dan jasa makanan dan minuman,” terang Andry.

Baca Juga:  BUMN bakal Bentuk Subholding Pertamina

Untuk mengetahui dampak Covid-19 terhadap bisnis ritel dan restoran, Mandiri Institute melakukan live-monitoring aktivitas pada dua sektor yang paling terdampak, yaitu ritel dan restoran dari bulan Juli hingga September.

Temuan dari Mandiri Insitute menunjukkan bahwa kunjungan ke pusat belanja di bulan September sekitar 57 persen dari normal-angka ini sama dengan kunjungan di bulan Agustus (57 persen).

Namun demikian terdapat variasi angka kunjungan antarkota. Angka kunjungan ke pusat belanja di bulan September tertinggi di DKI Jakarta sebesar 63 persen. Kunjungan ini meningkat dari bulan Agustus yang mencapai 57 persen.

Kenaikan angka kunjungan di DKI tampaknya dipengaruhi oleh rencana Pemprov DKI untuk memberlakukan PSBB jilid II. “Dampak dari PSBB II langsung terasa di sektor jasa makanan dan minuman. Dengan mengambil sampel restoran yang sama, kami menemukan PSBB II menekan angka kunjungan ke restoran di DKI Jakarta hingga menjadi 19 persen dari angka kunjungan normal,” rincinya.

Hal yang menarik adalah kunjungan ke restoran di daerah sekitar Depok, Tangerang dan Tangerang Selatan dalam satu minggu setelah PSBB II justru meningkat. Angka kunjungan ke restoran di Tangerang Selatan naik hingga mencapai 59 persen pasca PSBB II.

Dampak Covid-19 dan kebijakan PSBB juga sangat dirasakan oleh UMKM di Indonesia. Mandiri Institute melakukan survei terhadap 320 usaha UMKM di Pulau Jawa, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dan Bali. (dwi/jpg)