Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menkeu Optimistis IHSG Tembus 10.000 pada 2026

E
Penulis: Eri Mardinal❯

IHSG ditutup pada posisi 8.646,94 atau menguat tipis 0,03 persen pada tahun ini. Angka itu di bawah proyeksi Purbaya yang menargetkan level 9.000.
IHSG ditutup pada posisi 8.646,94 atau menguat tipis 0,03 persen pada tahun ini. Angka itu di bawah proyeksi Purbaya yang menargetkan level 9.000.
PADEK.JAWAPOS.COM—Optimisme menyelimuti pasar modal nasional. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meyakini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang menembus level psikologis 10.000 pada akhir 2026. Hal itu seiring membaiknya sinkronisasi kebijakan dan fundamental ekonomi domestik.


Advertisement

”10.000 tahun depan? Oh, lebih lah. Harusnya lebih,” ujar Purbaya di Jakarta Rabu (30/12).

Menurut dia, secara fundamental IHSG sejatinya sudah layak berada di level yang lebih tinggi pada 2025. Namun, dinamika kebijakan dan sentimen pasar membuat pergerakan indeks sempat tertahan. Tahun ini, IHSG ditutup di posisi 8.646,94 atau menguat tipis 0,03 persen, masih di bawah proyeksi Purbaya sebelumnya yang menargetkan level 9.000.

”Kalau desain kebijakannya kemarin sepenuhnya sesuai rancangan awal, sekarang mestinya sudah 9.000. Ke depan, dengan kebijakan yang makin sinkron dan ekonomi yang makin solid, IHSG harusnya bergerak lebih cepat,” bebernya.

Advertisement

Pada penutupan perdagangan akhir tahun, indeks LQ45 justru melemah 0,64 persen ke level 846,57. Meskipun demikian, pengamat pasar modal Reydi Octa menilai penguatan IHSG di penghujung 2025 tetap mencerminkan sentimen positif pasar. Tren pemangkasan suku bunga global dan domestik menjadi pendorong utama meningkatnya minat risiko investor terhadap aset di negara berkembang. ”Risk appetite investor mulai pulih, sehingga dana kembali mengalir ke emerging market, termasuk Indonesia,” ujarnya.

Kinerja emiten berkapitalisasi besar yang relatif solid, ditambah faktor window dressing akhir tahun, turut menopang pergerakan indeks. Memasuki 2026, Reydi menilai perhatian investor masih akan tertuju pada arah kebijakan suku bunga, dinamika geopolitik global, serta kekuatan pertumbuhan ekonomi.”Performa saham big cap dan arus dana asing akan menjadi penentu arah IHSG, apalagi kepemilikan asing kini bukan lagi mayoritas,” jelasnya.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Rasio Utang Naik, Purbaya Klaim APBN Tetap Aman

Rasio Utang Naik, Purbaya Klaim APBN Tetap Aman

Rasio utang pemerintah meningkat menjadi 40,54 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2025.

Jelang 2 Tahun Prabowo-Gibran, BAKOM RI: Investasi Jadi Mesin Baru Pertumbuhan

Jelang 2 Tahun Prabowo-Gibran, BAKOM RI: Investasi Jadi Mesin Baru Pertumbuhan

BAKOM RI mengungkap pergeseran struktur ekonomi Indonesia. Investasi berperan lebih besar, sementara ekonomi kuartal II 2026 tumbuh 5,2%>

Sensus Ekonomi jangan sekadar Mendata

Sensus Ekonomi jangan sekadar Mendata

Sensus Ekonomi 2026 berlangsung hingga 31 Agustus. BPS mendata UMKM, usaha mikro, dan perusahaan untuk memetakan kondisi ekonomi nasional.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer