Cabai dan Bawang Merah Langka di Mentawai

47

Warga di Pulau Sipora khususnya wilayah Tuapejat, pusat ibukota Kabupaten Kepulauan Mentawai mengeluhkan sulitnya mendapatkan cabai dan bawang merah serta kebutuhan sembako lainnya.

Hal tersebut disebabkan belum beroperasinya kapal KMP. Ambu-Ambu dan Gambolo karena kondisi angin dan gelombang laut yang masih besar.

Megalinda, 40, salah seorang warga Tuapejat mengatakan, bahwa, kelangkaan kebutuhan bumbu-bumbu dapur tersebut, terjadi sejak sebelum idul Fitri. Disebabkan, kondisi tidak beroperasinya kapal ASDP yang biasa membawa barang kebutuhan pokok masyarakat.

“Sekarang, kita betul-betul kesulitan untuk memasak. Semua bumbu masak betul-betul tidak ada lagi dijual di warung-warung. Semua barang benar-benar langka sejak kapal ASDP tidak masuk pada Jumat 22 Mei 2020 sampai sekarang,” ungkapnya.

Ada pun sejumlah pedagang yang menjual cabai dan bawang dengan harga yang  jauh melambung atau di luar harga standar. Untuk harga cabai merah dijual dengan harga Rp 65 ribu hingga 80 ribu per kilogram. Sedangkan, untuk harga bawang merah Rp 100 ribu per kilogram.

Ria, 34, warga Tuapejat lainnya mengatakan bahwa, selain bumbu dapur, ayam, dirinya juga kesulitan dapar ikan dan telur.

Menurut dia, kondisi seperti ini mestinya mendapatkan perhatian serius dari oemerintah. Sebab, kata dia, kondisi cuaca dan gelombang laut yang tidak kondusif, sehingga menyebabkan kapal yang membawa kebutuhan sembako tidak beroperasi sudah kerap terjadi.

“Meski kita masih bisa makan dengan lauk seadanya, namun, kondisi seperti ini, sudah sering terjadi dan belum ada solusi. Lalu, bagaimana bila seandainya badai ini berlangsung lama dan kapal tetap belum bisa berlayar? Sementara kita tahu, kebutuhan sembako masyarakat Mentawai notabene bergantung dari Padang,” ungkapnya.

Ananias, Kepala Bidang Dinas Koperindag dan UMKM Kepulauan Mentawai menyebutkan, bahwa penyebab terjadinya kelangkaan kebutuhan sembako masyarakat tersebut, terkait kondisi gelombang laut dan cuaca buruk sehingga menyebabkan kapal tidak bisa beroperasi.

Dia mengatakan, jika kondisi cuaca normal, kapal akan kembali beroperasi.

“Situasi ini terjadi karena kapal tidak masuk dalam minggu ini. Saya yakin kalau sudah beroperasi kembali kapal KMP. Ambu-Ambu dan KMP. Gambolo, situasi akan normal kembali,” ungkapnya.

Terkait kondisi yang sudah sering terjadi pada saat cuaca laut tidak kondusif, dirinya belum memberikan tanggapan terkait hal tersebut.

Namun, soal adanya sejumlah pedagang yang menjual cabai dan bawang di luar harga normal, dia mengatakan bahwa bawang dan cabai tersebut dibawa dengan long boat dari Padang.

Sebelumnya kantor kesyahbandaran dan otoritas pelabuhan Teluk Bayur telah mengeluarkan surat nomor UM.002/3/07/KSOP.TBS-2020 tentang peringatan dini dan cuaca buruk tanggal 19 Mei 2020.

Dalam surat tersebut, poin satu dijelaskan, bahwa, gelombang tinggi dan cuaca buruk dipikirkan berlangsung dari tanggal 19 Mei hingga 23 Mei 2020. Lalu, pada poin dua, atas kondisi tersebut, syahbandar tidak akan memberikan izin berlayar mulai dari tanggal 19 Mei hingga 26 Mei 2020.(rif)