Garuda Berupaya untuk Sehat

ilustrasi. (jawapos.com)

Berbagai upaya sudah dilakukan untuk menyehatkan Garuda. Di bawah komando Irfan Setiaputra, berbagai terobosan sudah dibuat. Pemerintah pun ikut membantu dengan menyuntik dana talangan Rp 8,5 triliun buat Garuda. Itu pun belum cukup. Karena diyakini hanya penumpang yang bisa sembuhkan Garuda.

Dalam acara Ngopi Pagi Rakyat Merdeka (grup Padang Ekspres), Irfan Setiaputra berbicara banyak soal kondisi yang dialami Garuda. Termasuk hantaman besar untuk terbang saat negara dilanda pagebluk. Jumlah penumpang anjlok hingga 90 persen.

“Saat pertama kali corona datang, kita tetap terbang. Melayani berbagai rute penerbangan, baik lokal maupun internasional. Ke negara-negara yang memang kita ada kerja sama. Sampai saat ini masih kita layani,” kata Irfan.

Berbagai aturan dari protokol kesehatan tetap dijalankan. Mulai dari kewajiban penumpang melakukan rapid test, hingga pembatasan jumlah kursi. Pokoknya, semua sudah dijalankan Garuda.

Namun, banyak persepsi yang kerap berseliweran. Misalnya, takut tertular corona bila melakukan penerbangan. Padahal, kata Irfan, kabin pesawat milik Garuda itu, jauh lebih aman dari ruangan rumah atau kantor yang memakai AC.

Koq bisa? “Garuda memiliki teknologi sirkulasi udara HEPA atau High Efficiency Particulate Air. Ini memastikan sirkulasi udara dalam kabin pesawat itu dibersihkan,” jelasnya.
Selain itu, perputaran udara di pesawat juga dilakukan secara vertikal. Dari atas ke bawah. Bukan acak. Sehingga, kecil kemungkinan udara menghantarkan penularan virus kepada sesama penumpang. Di mana, Covid-19 konon katanya juga bisa menular melalui udara atau airborne.

“Pokoknya amanlah terbang bersama Garuda. Sebagaimana tagline kami, aman terbang bersama Garuda, aman dan nyaman. Itu terus yang kami kampanyekan,” tegasnya.
Saat ini, Garuda juga lebih fleksibel dalam perubahan jadwal terbang. “Misalnya, karena situasi tertentu saat ini, kita membatalkan penerbangan. Itu tanpa biaya tambahan,” jelasnya.

Soal angkutan logistik, Irfan mengaku maskapainya mulai refocusing di bisnis kargo. “Ketika pandemi, bisnis kargo itu justru menjadi bisnis yang menyenangkan. Karena gak perlu rapid test… he-he-he,” candanya.

Saat ini, sudah lebih dari 10 penerbangan sehari yang isinya kargo semua. Apalagi setelah pihaknya mendapat izin meletakkan barang di atas kursi pesawat. “Selama beratnya tidak lebih dari 70 kg. Karena itu bisa merusak kursi dalam waktu yang panjang,” sambung Irfan.

Pihaknya juga mulai melakukan kerjasama dengan eksportir di Indonesia timur untuk mengirim ikan dan produk lainnya ke China. Sebelum pandemi, eksportir harus mengirim ke Jakarta terlebih dahulu, karena mengikuti jalur penumpang.

“Ada pihak yang men-charter pesawat dari Ambon ke Guangzhou untuk mengirim produk. Dari Guangzhou ke Jakarta mengirim alat-alat elektronik. Kemudian dari Jakarta ke Ambon kita kirimkan barang general, pakaian, dan sebagainya,” kisah Irfan.

Apapun itu, terang Irfan, obat kuat Garuda saat ini adalah penumpang. “Nah saya selalu menyampaikan kemana-mana, yang bisa menyelamatkan Garuda dari situasi sekarang, dan secepatnya bisa recovery itu adalah penumpang,” tegasnya.

Irfan mengungkapkan, pemerintah sudah banyak memberi perhatian pada Garuda. Ada suntikan dana talangan hingga Rp 8,5 triliun. Namun, itu sifatnya sementara. “Yang bisa memastikan Garuda bisa segera recovery itu memang penumpang,” ulangnya lagi.
Karena itu, ia terus mengampanyekan agar terbang bersama Garuda. Khususnya untuk penerbangan domestik. “Jangan terbang kalau gak bersama Garuda ya… he-he-he,” kelakar Irfan.

Acara Ngopi Pagi ini tayang secara live di semua jejaring Rakyat Merdeka, Instagram, Facebook dan RMTV. Acara ini dipandu Direktur Rakyat Merdeka, Kiki Iswara. Dua wartawan senior Rakyat Merdeka, Ratna Susilowati dan Budi Rahman Hakim juga ikut. (sar/jpg)